The Clover's Story

Just a story who made by clover

3. The Meeting November 17, 2010

Filed under: The Bloody Black Rose — Clover @ 3:15 PM

Aku berjalan entah kemana. Berjalan tanpa mengenal arah. Disaat aku sadar, aku tak tahu ada dimana sekarang. Kurasa, aku tadi berjalan sambil melamun. Entah apa yang sebenarnya terjadi. Ada suatu perasaan yang memanggil diriku. Dan aku, pun melihat, di depanku, terdapat pohon jati hitam yang besar namun tua. Di pohon itu, terdapat banyak sekali gigitan-gigitan besar, layaknya sebuah gigitan oleh binatang besar yang bergigi tajam. Aku ingin menyentuh pohon itu untuk melihat dan memastikan gigitan-gigitan itu, tapi, tiba-tiba, ada seseorang yang menghentikanku, memegangi tanganku sangat kuat.

“Jangan pernah menyentuh pohon itu, jika kamu tidak ingin dimangsa oleh hewan buas dari hutan ini.” tegur seorang pemuda sambil menundukkan kepalanya, dan memegangi tanganku.

“Ba, baik.” jawabku kesakitan. Kemudian, pemuda  itu melepaskan tanganku.

“Kalau sudah mengerti, cepatlah kembali ke kota. Tempat ini tidak aman.” ujarnya, dan dia meninggalkan diriku sendiri disini. Kalaupun dia menyuruhku untuk kembali, bagaimana caranya kembali?.

“Sebentar, aku rasa, aku pernah melihat orang itu di suatu tempat . . .”. Dan aku mencoba mengingat kembali, dimana aku pernah melihat orang itu. Berambut pendek berwarna  hitam, berkulit putih pucat, dan mempunyai mata yang berwarna merah yang menyala. “Mimpiku!” aku berteriak sendiri disaat aku berhasil mengingatnya. “Tapi, warna mata orang itu tidak merah. Lalu dia siapa?” pikirku heran. Samar-samar, aku mendegar suara seseorang yang memanggil namaku.

“Caroline . . .” suara itu menggema, entah darimana asalnya. Rasanya, suara itu berasal darimana saja. “Caroline . . .” suara itu memanggilku sekali lagi. Suara perempuan yang samar, namun terdengat sangat lembut dan lemah.

“CAROLINE!!!” teriak suara perempuan dari arah belakangku.

“Rebecca?” gumamku, sedikit ragu. Tiba-tiba, Rebecca langsung memelukku, seakan-akan dia sangat merindukan aku. “Em, Rebecca, ada apa?” tanyaku keheranan.

“Apa kau tidak sadar, Caroline?” tanya Seth yang berjalan di belakang Rebecca.

“Ehm, sadar akan apa?”

“Kau itu sudah menghilang selama satu jam!” jawab Seth.

“Satu?”

“Satu jam!” teriak Seth, meyakinkan diriku. Tunggu sebentar, satu jam? Kenapa tidak terasa ya?, pikirku sangat heran.

Lalu, aku menatap Rebecca. “Ehm, Rebecca?”

“Sudahlah, biarkan saja anak itu melepas rasa khawatirnya. Dia kan memang begitu. Dari luar, terlihat begitu kuat, begitu tegas. Tapi, kalau ada apa-apa denganmu, dialah yang paling khawatir.”.

“Oh, baiklah.” jawabku. “Lalu, apa yang akan kita lakukan selanjutnya?” tanyaku, mencoba mengubah suasana yang ada.

“Jika kulihat dari kondisi ini, satu-satunya yang terbaik adalah, kembali ke rumah.” jawab Seth, lalu mendekati diriku, dan melihat wajah Rebecca. “Kurasa, Rebecca juga sudah kecapekan karena terus-terusan berteriak untuk mencarimu.” ujarnya sambil melihat Rebecca tidur.

“Uhm . . .” tak mampu berkata, tapi hanya mampu bersuara untuk menunjukkan bahwa aku setuju dengan keputusan Seth.

“Sini.”

“Eh? Apanya?” tanyaku heran.

“Sini, biar ku gendong si Rebecca.” serunya. Aku pun memberikan Rebecca padanya, dan dia mengangkat, lalu menggendong di atas punggungnya.

Aku pun tertawa kecil. “Sudah lama ya . . .” ujarku.

“Yah, semenjak kita bertiga dulu sering bermain bersama itu, ya?”

“Iya. Nampaknya kau masih ingat, ya. Masa lalu yang indah.” Mengatakan hal itu sambil melihat ke atas, melihat langit yang biru dan luas. “Oh, ya, Seth. Apa kau tidak mengatakan perasaanmu ke Rebecca?”

“Eh! Kenapa kamu menanyakan hal itu?” tanyanya begitu kaget.

“Tidak apa-apa. Aku hanya penasaran saja.”

Seth terdiam, dia masih belum menjawab. “Belum waktunya kurasa. Suatu hari nanti, dia juga akan tahu.”

“Oh . . .”. Dan kami berjalan terus, hingga kami sampai dirumah.

***

Malam hari pun tiba. Rebecca juga sudah sadar. Kami semua memutuskan untuk melanjutkan eksplorasi kamu di hari esok. Tapi, aku masih terpikir kejadian siang hari itu. Apa yang terjadi sebenarnya dan siapakah orang itu?. Ciri-ciri orang yang tadi kutemui di siang hari, sama persis denga pemuda yang ada di dalam mimpku. Tapi, yang berbeda hanya warna matanya. Warna mata orang itu coklat muda, bukan merah menyala seperti pemuda di dalam mimpiku. Sebenarnya, siapa orang itu?. Entah mengapa, tapi wajah orang itu, semua ciri-cirinya, masih terngiang jelas di otakku.

Aku yang tak mengerti dengan apa yang terjadi, akhirnya berbaring di atas tempat tidur. “Ah, aku bingung akan semua ini . . .”. Tiba-tiba, aku mendengar suara berisik dari arah kebun. Lucas? Tak mungkin, ini kan malam hari. Dan, suara itu muncul lagi, dan tidak ada yang menydarinya.

Karena penasaran, akhirnya aku melihat dari jendela kamarku. Dari sini, aku bisa melihat, entah apakah itu, dengan mata yang menyala bagaikan lampu pijar, sedang berjalan dengan hati-hati di kebun. Tiba-tiba, makhluk itu melihat ke arahku. Secara refleks, aku langsung bersembunyi di balik dinding. Aku harus mencari Lucas!.

Aku keluar dari kamarku sambil berlari. Berlari terus, hingga ke kamar Lucas. Di depan kamar Lucas, aku mengetuk pintunya, namun tidak ada yang menjawab. Akhirnya, aku membuka kamarnya, namun dia tidak ada di sana. Kemana dia?. Tiba-tiba, aku melihat, sebuah bayangan, seperti Lucas, di halaman depan. Tanpa pikir panjang, aku mengikuti bayangan itu pergi. Terus berjalan, dan terus mengikuti, itulah yang kulakukan. Dan, saat aku tersadar, aku telah berada di hutan lagi.

“Kenapa lagi-lagi aku masuk hutan tanpa sadar?” tanyaku heran, tapi  sedikit ketakutan. “Aku harus kembali.”. Tiba-tiba, aku mendengar suara geraman dari arah belakang. Aku pun langsung menoleh ke arah belakangku. Di sana, aku melihat, sebuah makhluk, seperti serigala besar, sedang menatap ke arahku dengan matanya yang menyala di antara gelapnya malam. Jadi, mata tadi itu, adalah mata makhluk ini!?.

Aku tak mengerti apa yang harus kulakukan untuk menghadapi makhluk besar seperti ini. Geramannya membuatku ketakutan hingga aku terjatuh dan duduk bersandar di pohon besar. Giginya yang tajam, penuh dengan liur, seakan-akan, aku akan dilahap habis olehnya. Makhluk itu mendekat, dan mulai membuka mulutnya. Aku bergerak menjauhinya, disaat aku menoleh lagi ke makhluk itu, dia sudah membuka lebar mulutnya dan mengarahkan serangannya padaku.

“KYAAAA!!!!” teriakku histeris, dan berharap ada seseorang yang mendengar teriakanku. Seseorang! Tolonglah aku!. Aku menutup mataku karena tak berani untuk melihat.

“Minggir kamu, anjing sialan!” tiba-tiba seseorang berteriak seperti itu, dan muncul suara keras layaknya batu besar yang menghantam pohon. Apa yang terjadi?. Aku membuka mataku perlahan, dan melihat sebuah sosok yang pernah kulihat. Orang yang tadi siang!. Orang itu sedang melihat keadaan makhluk tadi yang sekarang sedang berbaring lemas.

“Te, terima kasih.” seruku.

“Kau memegangnya, kan?”

“Eh?”

“Kamu memegang pohon yang tadi aku larang pegang, kan?” tanyanya sambil menatap sinis ke arahku.

“Entahlah, mungkin aku tidak sengaja mengenainya.” jawabku denga suara pelan.

“Pantas saja anjing ini mencarimu.” serunya. Kemudian berjalan ke arahku. “Apa kamu tahu alasan kenapa aku tidak boleh membiarkanmu memegang pohon tadi?”.

“Tidak . . .”

“Di batang pohon tadi itu terdapat sebuah cairan yang tidak terlihat. Cairan itu menimbulkan aroma yang memikat makhluk-makhluk ini untuk memakannya. Makanya, di pohon tadi itu, ada banyak gigitang besar, kan?” tanyanya, memastikan penjelasannya benar.

“Ah, ya. Kau benar.”. Aku terdiam, lalu aku berdiri dan mendekati pemuda itu. “Ma, maaf . . .”

“Ya, sudahlah. Tak apa.” jawabnya ketus.

“Hm, maaf. Kalau aku boleh tau, ini makhluk apa?”

Pemuda langsung menatap tajam wajahku, kemudian menghela nafas. “Anjing gila . . .”

“Hah? Anjing?” tanyaku keheranan.

“Ya, bukanlah! Masa’ anjing sebesar ini!!”

“Lalu, apa?”

“Likantrof.”

“Apa? Likantrof? Apa itu?” tanyaku begitu heran. Dia langsung menatapku, dan menunjukkan ekspresi kaget bercampur heran.

“Apa kamu tidak pernah membaca buku-buku novel tentang mitos ata semacamnya?”

“Eh, pernah kok! Tapi aku gak pernah dengar nama Likantrof . . .”

Dia hanya menghela nafas, kemudian memegangi kepalanya. “Werewolf, tau?”

“Oh, ya! Aku tau Werewolf!”

“Yah, dia ini Werewolf, tapi ada sedikit yang mengganjal darinya.”

“Mengganjal?”

“Yah, mengganjal.” lalu, pemuda itu mendekati serigala yg tadi terbaring lemas. “Ada yang salah darinya. Biasanya, walaupun dia mencium aroma cairan di pohon tadi, dia hanya akan mengejar aroma yg paling kuat baunya. Tapi, jika kau tadi terkena sedikit, dan itu sudah sejak siang tadi, seharusnya, aroma itu sudah berkurang banyak, dan tidak mungkin dicium lagi.”

“Lalu, kenapa serigala ini mengejarku?”

“Entahlah, mungkin ada yang memaksa serigala ini.” jawabnya. “Sudahlah. Kau juga sudah harus kembali kan? Ini sudah tengah malam.” serunya.

“Ah, kau benar. Baiklah, aku kembali.” jawabku dan berjalan membelakanginya.

“Ah, tunggu!” panggilnya, menghentikan langkahku.

“Ya?”

“Aku mohon, urusan malam ini, tolong jangan beritahu ke siapa-siapa.”

Aku terdiam, lalu menjawab, “Ya, aku tidak akan memberitahu kepada yang lain.”. kemudian, berjalan pergi, meninggalkan apa yang sudah terjadi, dan kembali ke rumah.

 

Part 7: Pertarungan baru saja dimulai! October 24, 2010

Filed under: The story of a Princess and Her ??? — Clover @ 8:30 AM

“Sayang sekali, sekarang waktunya kematianmu datang.” kata Daniel tersenyum mematikan sambil mengangkat tinggi pedangnya, bersiap-siap untuk menghunuskannya ke punggung Aldo. Aku ingin melakukan sesuatu, tapi tidak bisa, kedua tanganku terikat. Lalu, aku melihat batu yang ada di dekat kaki kananku. Tanpa pikir panjang, aku langsung menendang batu itu, dan tepat mengenai kepala Daniel.

“Argh!” teriak Daniel, kaget karena datang sebuah batu yang mengenai kepalanya. “Kamu . . .” menatapku penuh amarah dan langsung berjalan mendekatiku. “Beraninya kamu melemparkan aku batu!” bentaknya sambil tangan kirinya mencekikku, hingga aku tidak bisa bebas bernafas. Lalu dia tertawa kecil dan tersenyum. “Apa kau juga ingin seperti anak bodoh itu, hah!?” tanya Daniel. Daniel langsung mengangkat tinggi pedangnya yang di tangan kanan. “Rasakan!!”

Tiba-tiba, aku mendengar suara pistol, dan aku melihat, tangan kiri Daniel yang terluka karena serangan pistol tersebut. “AARRGHH!!” teriak Daniel kesakitan. Saat itu juga, aku langsung di dorong jauh oleh Daniel.

“Wah, nampaknya, luka Aldo cukup serius . . .”

“SIAPA ITU!!?” tanya Daniel dengan suara keras yang terdengar penuh rasa dendam dan rasa benci. Kurasa, suara ini . . .. Tepat seperti apa yang kutebak. Itu adalah Al, dan dia duduk di dekat Aldo, sambil melihat keadaan Aldo begitu cermat.

“Aldo harus cepat diobati. Nona, anda tidak apa-apa?” tanya Al begitu lembut dari kejauhan. Aku hanya mampu mengangguk.

“Siapa kamu!! Kenapa kau menggangguku!!?” bentak Daniel.

Al langsung menunjuk ke arah Daniel. “Sekarang aku tanya, siapa duluan yang memulai, hah?” Al bertanya dengan wajah tajam, sebuah raut wajah marah yang tak pernah ku lihat.

“Satu nasihat untukmu, jangan pernah membuat aku dan Al marah.” tegur Anabella yang tiba-tiba muncul dari belakang Daniel dan mendekatkan ujung pistolnya ke kepala Daniel.

“Urgh . . .” keluh Daniel karena merasa terdesak. Lalu Al berjalan ke arahku, dan mengambil sebilah pisau dari jubahnya, kemudian memotong tali yang mengikat kedua tanganku. Setelah itu, dia melepaskan kain penutup yang ada di mulutku.

“Anda tidak terluka nona?” tanyanya dengan tatapan wajah sangat ramah.

“Ya, aku tidak apa-apa. Maaf, aku tidak bisa membantu.” jawabku dengan menunduk menatap tanah. Tiba-tiba Al memegang pipiku yang tadi terluka.

“Seharusnya saya yang meminta maaf, karena saya tidak bisa melindungimu.” gumamnya dengan nada sedikit bersedih sambil mengusap darah yang keluar dari lukaku. Sentuhan tangannya terasa begitu lembut dan juga hangat, penuh akan rasa kasih sayang.

“Hmph. Hey nona yang ada di belakangku, maukah kau bermain denganku?” tanya Daniel ke Anabella sambil tersenyum licik.

“Apa!?” tanya Anabella heran. Tiba-tiba Daniel menghilang dari pandangan, dan pergi entah kemana. “Apa dia kabur?” tanya Anabella.

Al hanya terdiam, seakan-akan mencoba mendengarkan sesuatu. “Tidak, dia tidak kabur.” jawab Al dengan yakin. Lalu Al mengambil pedangnya, dan menyerang ke arah punggung Anabella. Tepat, di saat itu juga, Daniel mucul dan mengenai serangan dari Al tadi.

“Bagaimana bisa kau!?” tanya Daniel sambil mengeluarkan banyak darah dari mulutnya, dan akhirnya terjatuh di tanah.

“Gerakanmu sangat gampang sekali untuk kubaca. Memangnya kamu kira, aku ini siapa?” tanya Al dengan tatapan begitu dingin dan tajam layaknya ujung-ujung tajam es batu. “Nona, maukah anda membantu saya?” tanya Al denga tersenyum.

“Ya. Apa itu?”

“Mampukah anda untuk membawa Aldo sendirian ke Dorfwiese? Jika tidak, saya rasa, akan ada yang akan membantu anda nanti. Seseorang yang bernama Ricardo. Dia adalah bawahan Anabella. Kumohon, pergilah dari sini, nona.”  pintanya.

“Ba, baiklah.” jawabku lemas.

“Dan kau Anabella, pergilah bersama Scarlett.” pinta Al kepada Anabella.

“Tidak aku akan membantumu melawan bangsat satu ini.” jawab Anabella menolak permintaan Aldo.

“Jika aku bilang, kau pergilah, maka pergilah!” bentak Al. Kami berdua, aku dan Anabella, hanya bisa terdiam.

“Baiklah, sesuai permintaanmu, Al. Ayo kita pergi.” ajak Anabella sambil menarikku pergi. Kemudian kami berdua membopong tubuh Aldo pergi dari situ. Apa hanya ini yang bisa kulakukan?. Aku terus bertanya pada diriku dan meninggalkan Al bersama Daniel.

Setelah kami berdua berjalan cukup jauh, aku melihat, seseorang yang sedang melambai-lambai ke arah kita. Dari pakaiannya, kurasa aku telah mengerti, apa pekerjaannya. Dia seorang Bajak Laut, sama seperti Anabella. Kurasa itu Ricardo.

“Ricardo! Cepat bantu kami!” teriak Anabella ke arah orang yang melambai-lambai tadi. Orang itu langsung berlari ke arah kami.

“Apa yang terjadi?” tanya Ricardo. “Ah! Aldo! Kau sungguh terluka parah!” Ricardo berkata ke arah, namun Aldo pingsan, tidak ada sepatah katapun yang bisa keluar dari Aldo.

“Scarlett, pergilah ke desa. Kau harus menyelamatkan dirimu dahulu.” pinta Anabella kepadaku.

Disitu, aku hanya bisa berdiam. Apa ini yang bisa kulakukan? Apakah aku harus memakai kekuatan ‘itu’?. “Tidak, aku tidak akan pergi.”

“Scarlett!” teriak Anabella.

“Aku tidak akan pergi!” bentakku ke arah Anabella dan berlari ke arah dalam hutan, berlari menuju ke Al.

“Bodoh! Apa yang kau lakukan!? Kembali Scarlett!!” teriak Anabella dari arah belakangku, namun aku tidak menghiraukannya. Dan semakin lama, suara itu semakin menghilang.

Aku tahu aku bodoh. Aku ceroboh. Tapi aku akan mencoba sesuatu. Mencoba ‘itu’. Aku berlari sambil terus berpikir baik-baik. Aku tahu, ini beresiko tinggi, tapi aku tak pernah bisa tahu jika aku belum mencobanya. “Akan aku coba saat ini!” gumamku sambil terus berlari ke tempath Al berada.

Aku menemukan Al, dan sekarang, dia sedang bersandar di sebuah pohon besar. Nampaknya, dia sedang kesusahan bernafas, entah mengapa. Saat aku mau melangkah maju, aku berpikir, apa aku tidak akan merepotkan?. Aku tak tahu.

 

2. The Exploration October 24, 2010

Filed under: The Bloody Black Rose — Clover @ 8:30 AM

Saat aku terbangun, aku melihat cahaya remang-remang dari jendela. Aku mencoba mendekati jendela itu, dan membuka tirai yang menutupi jendela yang panjang hingga ke lantai itu, kemudian membuka jendela itu. Saat itu juga, aku merasakan angin yang berhembus, menghembuskan rambut panjangku yang berwarna hitam kecoklatan ini. Rasa segar yang didatangkan oleh angin yang berhembus di pagi ini, membuat hatiku damai dan tentram. Aku pun juga mendengar, betapa merdunya suara burung-burung yang sedang bersiul. Memang beda rasanya kota besar dengan kota kecil seperti ini. Kemudian, aku menutup jendela itu, dan bergegas untuk mandi.

Setelah aku selesai membersihkan diriku, aku pun langsung memakai pakaian yang kubawa. Aku memakai kemeja berwarna putih, jaket putih, dan memakai rok yang berwarna hitam, kemudian aku keluar dari kamarku. Diluar kamarku, aku telah di sambut oleh Lucas, kepala pelayan, atau bisa disebut, Butler dari rumah yang besar ini.

“Selamat pagi, nona Caroline. Apa anda tidur dengan lelap?” tanyanya dengan senyumannya yang menyejukkan hati.

“Ya, aku sangat lelap.” jawabku dengan muka yang sedikit memerah karena tersipu oleh senyuman Lucas.

Dia mendekatiku, lalu mengulurkan tangannya kepadaku. “Mari, biar saya mengantar anda ke tempat di mana nona Rebecca dan tuan Seth berada.” ajaknya, dengan nada yang lembut nan ramah.

“Ya” jawabku sambil malu-malu dan memberikan tanganku kepadanya. Kemudian kami berjalan bersama melewati lorong yang panjang, menuruni tangga yang besar, dan akhirnya sampai di ruang makan, tempat dimana Rebecca dan Seth berada.

“Lama sekali kamu! Cepat makan, lalu kita pergi!” suruhnya.

“Pergi, kemana?” tanyaku, sambil duduk di kursi dan mengambil satu lembar roti tawar.

“Tentu saja ke hutan. Bukankah kita mendapatkan tugas untuk membuat laporan tentang hutan di sekitar sini?” tanya Rebecca. Aku hanya terdiam, dan terus memakan rotiku ini sambil menunduk. Sebenarnya, aku gak mau ke hutan, semenjak kejadian kemarin. Kejadian yang selalu membuatku ketakutan dan mimpi-mimpiku yang terlihat begitu aneh.

Setelah kami semua selesai makan, kami semua keluar dari rumah besar itu. Namun, di saat kami sudah melewati pintu depan dan sampai di halaman depan , kami dipanggil oleh Lucas.

“Kalian bertiga, mohon tunggu sebentar!!” teriak Lucas dari arah belakang kami bertiga. Secara bersamaan, kami bertiga menoleh ke arah Lucas dengan raut wajah keheranan.

“Lucas, ada apa?” tanyaku heran disaat Lucas sudah sampai di dekat kami.

“Saya dengar, kalian akan pergi ke hutan, benarkah itu?”

“Iya, benar. Kenapa?” sebuah jawaban sekaligus pertanyaan berasal dari Rebecca. Kurasa, Rebecca masih kesal karena keterlamabatanku dan melampiaskannya pada Lucas.

“Bukan maksud saya untuk menghalangi anda sekalian, tapi saya hanya ingin memberitahu anda tentang berita pagi ini.” jawab Lucas sambil menunjukkan sebuah koran ke arah kami. Rebecca yang kesal, langsung pergi begitu saja, aku langsung mengikuti Rebecca. Hanya Seth yang peduli akan berita itu, karena itu dia mengambil korannya dari Lucas, kemudian pergi mengikuti mereka.

Kami bertiga berjalan jauh dari rumah besar tempat kami menginap. Aku yang berjalan sambil terdiam, terus melihat ke arah Rebecca. Becca sedang marah, kurasa aku tak bisa berbicara dulu dengannya. Lalu aku melihat ke arah Seth yang sedang berjalan sambil seru membaca koran pagi. Karena penasaran, aku pun mendekatinya.

“Lalu, berita apa yang dimaksud Al pagi ini?” tanyaku secara tiba-tiba disebelahnya Seth.

“Berita? Oh, berita itu.” Seth langsung membalik korannya ke halaman depan koran itu. “Berita yang dimaksud oleh Lucas, tentang seorang petani yang tiba-tiba menghilang di tengah hutan disaat di sedang mencari kayu bakar. Sampai sekarang, petani itu tidak kembali.” jawabnya.

“Artinya, itu kesalahan sang petani, kenapa dia tidak mengajak saja temannya untuk masuk bersama ke dalam hutan?” tutur Rebecca yang tiba-tiba muncul di dekat kami.

“Entahlah, tapi yang pasti, kita harus berhati-hati di dalam hutan, mengerti?” balas Seth ke Rebecca, namun Rebecca tidak menjawabnya, dan hanya mengangkat kedua tangannya.

Setelah setengah jam kami berjalan, kami pun akhirnya sampai ke depan hutan. Hutan ini dipenuhi oleh pohon-pohon yang berwarna hitam, rumput yang kering, dan daun-daun kering yang sedang berguguran. Tanpa basa basi, Rebecca memasuki hutan tersebut tanpa member apapu ke aku dan Seth. Akhirnya, kami berdua pun langsung mengejarnya.

“Cih, hutan ini benar-benar seperti hutan mati. Kalau begini, bagaimana kita bisa membuat laporan biologi?” keluh Rebecca.

“Tenanglah Rebecca, jangan terbawa amarah. Kita semua masih mempunyai banyak waktu tinggal di desa ini, iya kan, Caroline?” tanya Seth kepadaku, namun aku tidak menghiraukannya.

“Haah! Sudahlah!” keluh Rebecca dengan suara keras.

***

“Rebecca! Tunggu! Jangan bertindak gegabah! Kita kan tidak perlu terburu-buru?” tanya Seth sambil menarik tangan kanan Rebecca.

“Aku hanya kesal! Apa yang kita bisa teliti di hutan ini!?” bentak Rebecca. “Hutan ini seperti sudah mati!”

“Sudahlah, Rebecca, nikmati saja perjalanan ini. Apa kau tidak bisa setenang Caroline?”

Rebecca terdiam sebentar, lalu membalikkan badannya, menghadapkan punggungnya ke arah Seth. “Ya, akan k coba.” gumamnya.

“Yah, baguslah. Ayo, Caroline! Kita pergi!” ajak ke Seth sambil menoleh ke arah belakangnya. “Eh, Caroline?”

“Ada apa?” tanya Rebecca dengan cuek.

“Tidak ada.” gumam Seth.

“Tidak ada?” Rebecca yang merasa heran langsung menghadap ke arah Seth. “Apa maksudmu?”

“Tidak ada, Caroline tidak ada. Dia menghilang.”

“Apa!?” teriak Rebecca. Rebecca langsung berjalan ke tempat Caroline berada sebelumnya, dan di sana, tidak ada Caroline. “CAROLINE!!!”.

 

Part 6: Daniel October 3, 2010

Filed under: The story of a Princess and Her ??? — Clover @ 1:59 PM

Pagi ini, aku merasa begitu segar. Suasana baru yang kurasakan di desa ini, membuatku menjadi merasa nyaman. Udara pagi menyegarkan wajah dan kepalaku. Segarnya!. Tapi, cahaya yang kemarin malam kulihat, sudah tidak ada lagi. Apa cahaya itu hanya keluar saat malam hari, ya?.

Setelah aku selesai membersihkan diriku, aku pun keluar dari kamarku, atau bisa disebut rumah kecil yang hanya berisi satu kamar. Hampir semua rumah di desa ini berada di atas, atau bisa disebut juga, layaknya rumah pohon. Saat aku berjalan di lantai ini, suara hentakan kakiku terasa begitu keras, karena lantai ini terbuat dari kayu tua. Kemudian aku menuruni tangga yang terbuat juga dari kayu tua, aku mendengar decitan-decitan kecil tiap kali aku menginjak satu anak tangga. Decitan-decitan itu terdengar menggelikan, namun sedikit mengerikan juga. Sesudah itu, aku sampai di lantai satu yang sudah bukan lagi terbuat dari kayu, melainkan dari tanah, dan disinilah, Aldo menunggu diriku.

“Lama sekali! Apa yang kau lakukan, anak kecil!?” tanyanya dengan nada keras.

“Apa maksudmu memanggilku anak kecil, hah!?” bentakku ke arahnya.

“Karena aku lebih tua daripada kamu. Ikuti aku!” perintahnya dan meninggalkan aku begitu saja. Aku pun langsung mengikutinya.

“Memangnya umurmu berapa, seenaknya saja memanggilku anak kecil?” tanyaku dengan raut wajah cemberut.

“Tujuh belas tahun.”

“Aha! Hanya beda setahun saja!”

Aldo langsung berhenti, dan membalikkan bandannya. “Tapi aku tetap saja lebih tua daripada kamu!!” bentaknya sambil menatap tajam wajahku.

“Walaupun begitu, kau tidak punya hak untuk memanggilku anak kecil!!” teriakku.

“Dan bisakah kalian tidak membuat keributan di desa ini?” tanya Al yang tiba-tiba mucul.

“Al!! Sejak kapan kamu di sini!?” tanya kami berdua begitu kaget dan juga ketakutan. Al itu penyihir atau apa sih? Kok bisa selalu muncul tiba-tiba seperti itu?.

“Baiklah, kalau kalian bisa tidak membuat keributan, aku akan meninggalkan kalian. Aku ada rapat dengan Anabella. Sampai nanti.” dan Al langsung berjalan meninggalkan kami. Tidak begitu jauh, Al menghentikan jalannya dan membalikkan badannya. “Dan kalau kalian membuat keributan, aku tidak akan segan-segan untuk menghukum kalian . . .” katanya dengan nada santai namun mengancam, sambil menunjukkan senyum mematikan nan menakutkan itu, layaknya senyum seorang Iblis. Senyumannya membuat aku dan Aldi tak bisa bergerak. Kemudian Al pun berlalu, meninggalkan kamu yang sedang ketakutan.

“Hey, Aldo. Entah mengapa aku merasa, Al terasa berbeda.” lalu aku melihat ke arah Aldo. “Aldo?” tanyaku heran. Yang sedang kulihat, Aldo sekarang sedang berwajah pucat. “Hey, Aldo!” teriakku sambil menggoyang-goyangkan tubuhnya.

“Ah! Ya, apa?” tanya Aldo.

“Kau tidak apa-apa? Barusan kamu melamun. Apa yang kamu pkirkan?” tanyaku.

“Ah, tidak, tidak apa-apa.” jawabnya, lalu dia mengambil nafas panjang sambil menutup matanya. “Hey, Scarlett, ayo temani aku.” ajak Aldo.

“Kemana?”

“Ke Forstwiese, hutan yang dekat denga Dorfwiese.” jawabnya. “Aku akan latihan disana.” katanya.

“Baiklah . . .”

Kami berdua berjalan, melewati rumah-rumah penduduk, dan mulai memasuki hutan Forstwiese. Di dalam sana, terdapat pohon-pohon besar nan tinggi, yang kira-kira, sudah bertahun-tahun umurnya. Setelah terus berjalan, akhirnya Aldo pun berhenti, dan dia juga menyuruh berhenti. Kurasa, kita sudah jauh dari Dorfwiese. Aldo langsung duduk di sebuah kayu yang terguling di situ, nampaknya kayu itu tumbang, entah mengapa. Aku juga langsung duduk di akar sebuah pohon yang besar.

“Ada apa? Katanya mau latihan?” tanyaku.

“Aku biasanya latihan bersama Al, tapi kali ini Al tidak ada, jadi aku merasa males.” jawabnya. “Dan kamu juga perempuan, jadi tak mungkin kan kamu ku ajak untuk latihan.” katanya menambahkan jawabannya tadi.

“Maaf ya, kalau aku perempuan!” bentakku marah.

Tiba-tiba, ada seseorang dari belakangku yang menarik rambutku, dan mendekatkan sebuah pedang ke leherku. “Bagaimana kalau latihan denganku?” tanya seseorang yang tidak kukenal ini.

“Scarlett!” teriak Aldo dan dia langsung berdiri.. “Lepaskan Scarlett!” perintah Aldo ke seseorang ini.

“Tidak bisa.” jawab orang ini, menolak perintah dari Aldo.

“Kau siapa!? Apa tujuanmu!?”

“Khe khe, perkenalkan, namaku adalah Daniel. Daniel si bandit. Aku tidak akan melepaskan perempuan ini sampai kau memberikan sesuatu kepadaku.” jawab Daniel sambil menunjuk pipiku dengan pedangnya, dan menekannya sedikit, sehingga membuatku terluka.

“AAH!” teriakku kesakitan.

“SCARLETT!! Beraninya, kau!!” Aldo langsung mengambil pedangnya dan langsung menyerang Daniel. “Lepaskan dia kubilang!!” teriaknya dengan raut wajah penuh amarah, namun Daniel hanya menyengir.

“Bukankah sudak aku bilang, TIDAK BISA!!!” Daniel langsung membanting Aldo, dan membuat Aldo jatuh.

“Aldo!” teriakku.

Daniel langsung menggendongku, dan membawaku ke atas pohon. “Jika kamu merasa perempuan ini penting, kejarlah aku.” dan Daniel langsung membawaku pergi entah kemana.

Setelah membawaku pergi, dia menurunkanku ke tanah. Saat itu juga, aku langsung menampar wajahnya. “Siapa kamu!? Mau apa kamu!” bentakku.

Dia langsung menggenggam kuat tanganku, dan menatap lekat-lekat wajahku. “Bukankah aku tadi sudah bilang, aku hanya ingin harta.” jawabnya dengan nada mengancam. Dia langsung mendorong keras diriku sehingga membuatku terjatuh. Kemudian dia langsung mengikat tanganku dengan  tali dan membungkam mulutku dengan kain. “Nah, kalau kamu dijual ke bagian perbudakkan, kira-kira aku bisa dapat berapa emas, ya?” tanyanya denga senyum licik.

“Kurasa, aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi.” kata Aldo yang mucul dari salah satu pohon besar sambil membawa pedangnya.

“Bagaimana kau bisa mengikutiku!?”

“Kurasa kau tidak menyadarinya, tapi aku telah memberikan sesuatu ke sepatu kananmu.” jawabnya sambil tersenyum manis. Ini pertama kalinya aku melihat dia tersenyum begitu manis.

“Apa!? Kaki Kananku!?” tanya Daniel sambil melihat kaki kanannya.

“Tepat sekali, kaki kananmu. Aku menuangkan cairan ini ke kaki kananmu, dan mengakibatkan sebuah efek, yaitu, sebuah jejak.” jawabnya dengan santai sambil menunjukkan sebuah cairan kental berwarma merah terang. Itu pasti ramuannya Al lagi . . ..

“Kapan kau menuangkannya!?”

“Saat kita sedang bertarung. Kurasa, kau terlalu sibuk menahan seranganku dan tidak berpikir untuk melihat ke arah yang lain, bukan? Di saat tangan kananku yang memegang pedang menyerangmu, tangan kiriku diam-diam menuangkan cairan itu. Dan di saat kau kabur, kau pun tidak melihat ke belakang, secara otomatis, kau pun juga tidak melhat jejakmu bukan? Itulah kesalahan yang telah kau buat sehingga bisa mengundangku ke sini.” kata Aldo menjelaskan semuanya.

Daniel hanya terdiam, melihat ke tanah. “Khu khu khu, HAHAHAHAHA!!!!” Daniel tertawa terbahak-bahak. “Pintar, pintar. Kalau begitu, tunjukkan kepadaku, SEBERAPA KUATKAH KEKUATANMU!!” teriak Daniel, dan langsung menyerang Aldo.

Aldo saat itu juga langsung menahan serangannya. Tiba-tiba, Daniel mengeluarkan sebuah pisau dari tangan kirinya, dan langsung menancapkannya ke punggung Aldo. “AAARRGH!!” teriak Aldo kesakitan, dan saat itu dia langsung jatuh di tanah, sambil memegangi punggungnya. Daniel langsung menginjak wajah Aldo.

“Hey, ayo cepat bangun! Apa yang sedang kau lakukan?” tanya Daniel dengan wajah penuh kekejaman. Aldo langsung mengayunkan pedangnya ke arah Daniel, tapi Daniel dapat menghindarinya.

“Aku masih belum kalah!” bentak Aldo ke Daniel.

“Hahaha!! Hebat, hebat!” puji Daniel sambil bertepuk tangan. “Tapi, kurasa kecepatanmu masih kurang!!” kata Daniel yang tiba-tiba muncul dari arah belakang Aldo, dan menebaskannya pedangnya ke punggung Aldo, sehingga, di punggung Aldo terdapat sebuah luka panjang. Aldo!. Aku tak dapat berteriak. Aku juga tidak dapat menggerakkan tanganku. “Tamatlah riwayatmu!!” teriak Daniel.

Aldo terjatuh di tanah, tidak bergerak, aku hanya bisa duduk diam melihatnya, dan Daniel yang sudah bersiap-siap menghunuskan pedangnya ke punggung Aldo. Apa tidak ada yang bisa aku lakukan? Seseorang, tolonglah!.

 

Part 5: Dorfwiese October 3, 2010

Filed under: The story of a Princess and Her ??? — Clover @ 11:20 AM

“Hei! Bangun para pemalas!! Kita sudah sampai di dermaga Marina!” teriak Anabella dari luar sambil mengetuk keras pintu kami.

“Owh, sudah sampai ya?” tanya Al sambil bangun dari tidurnya. “Ayo, Aldo, bangun. Ah, Scarlett, kamu sudah bangun?” tanya Al ke arahku dengan wajah ngantuknya.

“Ya . . .” jawabku lemah. Sebenarnya aku tidak terlalu bisa tidur kemarin, suara dengkuran Aldo menggangguku. “Kalau begitu, aku akan membersihkan diri di kamarku.” kataku sambil pergi meninggalkan Al dan Aldo di ruangan itu. Aku pergi keluar dan memasuki kamarku.

Setelah aku membersihkan diriku, aku mengambil tasku yang kutinggalkan dikamar ini kemarin. Setelah itu, aku keluar kamar, dan aku bertemu melihat Anabella. Dia juga melihatku, dan langsung melambai-lambai kepadaku, dan saat itu aku melihat, rambutnya yang panjang dan bergelombang itu terlihat indah saat diterpa oleh angin laut ini. Setelah itu, aku pun mendekati Anabella.

“Hai, Scarlett! Kau sudah selesai, ya?” tanya Anabella sambil tersenyum ke arahku.

“Ya, sudah.” jawabku dengan lemas karena kurang tidur. “Aldo dan Al di mana?” tanyaku ke Anabella.

“Entahlah, terakhir kali aku meliha mereka, mereka sedang bertengkar merebutkan kamar mandi. Hahahaha . . .” jawab Anabella sambil tertawa.

Akhirnya, aku dan Anabella menunggu mereka di depan pintu kamar mereka. Sepuluh menit telah berlalu, tetapi mereka masih belum juga keluar. Ah, lama . . ., keluhku. “Ternyata, mereka sangat lama daripada yang kubayangkan . . .” gumamku. Tiba-tiba, terdengar suara keras dari arah dalam.

BRAAAKK!!!

Pintu kamar Al dan Aldo langsung terbuka, dan seseorang keluar dari kamar, lalu tergeletak di lantai. Aku yang kaget akan hal itu, langsung terhentak kebelakang, dan takut untuk melihat, apa yang terjadi. Tapi, aku melihat jelas, seseorang yang terbaring di lantai itu adalah Al. Apa yang sebenarnya terjadi?. Lalu, di dalam kamar itu, aku melihat bayangan seseorang, yang bisa dibilang Aldo, dengan atmosfer yang berbeda.

“Al . . . . .” gumam Aldo penuh rasa, marah. Entah apa yang Al lakukan pada Aldo.

“Tu, tunggu dulu, Aldo! Apa yang terjadi?” tanyaku begitu heran. Tiba-tiba, aku melihat Al yang sedikit terbatuk-batuk, mencoba bangkit dari tidurnya. “Al!?” aku berteriak, tapi Al hanya memberikan sebuah telapak tangannya, sebuah isyarat yang menunjukkan bahwa dia baik-baik saja.

“Hey, Aldo, janganlah kau terlalu marah.” sambil terus bicara, Al mencoba untuk bangkit. “Memangnya, apa yang salah dengan baju itu? Bukankah itu sangat cocok denganmu?” tanya Al sambil menunjukkan kegilaannya, yaitu, tawa liarnya.

“Apa maksudmu dengan kata cocok, hah!!??” bentak Aldo sambil melemparkan sebuah baju ke arah wajah Al. Baju yang kulihat, adalah sebuah dress panjang berwarna putih, penuh rajutan yang manis, berwarna biru. Baju itu terlihat begitu indah di mataku.

“Waah . . .  Bajunya siapa ini?” tanyaku penuh kagum melihat baju itu.

“Ah, ini bajunya Aldo.” jawab Al dengan santainya kepadaku.

“BUKAN!!” teriak Aldo sambil mengumpalkan kain kedalam mulut Al, sehingga Al tidak bisa berbicara lagi.

“Sudah cukup kalian semua. Aku akan menunggu kalian di bawah. Cepat turun dari kapal!” dan Anabella meninggalkan kami.

“Baiklah, mari kita turun, nona.” ajak Al sambil mengulurkan tangannya ke aku. Wah! Cepat sekali dia melarikan diri dari siksaannya Aldo!. “Mari nona?” ajaknya sekali lagi, dan kali ini, aku memberikan tangannku ke tangannya dan meninggalkan Aldo dibelakang kami.

Sesudah turun di kapal, kami semua bertemu Anabella. Nampaknya, dia sudah menunggu lama. Saat kami semua mendekati Anabella, Anabella tetap terdiam, tanpa mengatakan sepatah katapun. Entah apa yang sedang dia pikirkan sekarang. Di dermaga Marina ini, aku melihat, banyak rumah-rumah penduduk dan juga orang-orang yang berjalan-jalan. Tapak jalan yang terbuat dari bebatuan, dan tepat di bagian tengah kta dari dermaga Marina, terdapat sebuah kolam besar.

“Nah, kalau begitu, sampai disini saja ya? Terima kasih atas bantuannya!” kata Al dengan senangnya.

“Kata siapa kau bisa meninggalkanku sendiri disini?” tanya Anabella dengan ketusnya. “Aku akan ikut kalian, tapi hanya sampai Dorfwiese saja.” tuturnya, dan Al hanya menjawabnya dengan senyuman sambil menganggukkan kepalanya.

Selama perjalanan menuju Dorfwiese, aku terus mengantuk. Untung saja Al terus memegang tanganku, paling tidak, aku bisa cukup terjaga karena hal itu. Aku benar-benar mengantuk. Tak ada yang benar-benar kuperhatikan saat ini. Aku hanya terus menguap, dan terkadang, menutup mataku. Hingga Al menyadarinya.

“Nona, anda tidak apa-apa?” tanya Al kepadaku.

“Ah, ehm, ya . . .” jawabku lemas, tidak berdaya.

“Duduklah disini sebentar, saya ingin berbicara dengan Anabella.” suruh Al kepadaku. Entah apa yang dibicarakan oleh Al ke Anabella, aku hanya merasa mengantuk, dan mulai kehilangan kesadaranku.

Aku mulai tersadar sedikit demi sedikit, dan yang kulihat, suasana di sekitarku telah menjadi gelap. Aku juga melihat, wajah Al, terasa begitu dekat. Kenapa aku begitu dekat dengannya?. Al hanya tersenyum, dan berkata “Sudah bangun, tuan putri?”. Saat itu, barulah kusadari, mengapa aku begitu dekat dengan Al. Itu semua karena aku yang tiba-tiba tertidur di tengah perjalanan, dan Al sekarang sedang menggendongku.

“A, Al! Tu, turunkan aku!” pertintahku ke dirinya, namun dia tidak menghiraukannya. “Al!” teriakku.

“Tenanglah, nona. Sebentar lagi kita semua sampai di Dorfwiese.” tuturnya dengan santai.

“Dorfwiese?” tanyaku dengan heran.

“Ya, Dorfwiese, atau bisa dibilang juga, desa hijau.”

“Mengapa di beri nama desa hijau?”

“Nona akan melihatnya sendiri, sebentar lagi.” jawabnya dennga tersenyum sambil terus menggendongku. Aku hanya bisa terdiam, dan terus menunggu. Tiba-tiba, saat aku melihat ke atas, aku melihat, sesuatu seperti salju, namun itu berwarna hijau. Layaknya kunang-kunang, bercahaya begitu terang, tetapi saat sampai di tanganku, cahaya itu meghilang entah kemana.

“Al, tadi itu! Apa itu?” tanyaku penasaran. Lalu, Al menurunkanku perlahan.

“Itulah sebuah alasan mengapa Dorfwiese diberi nama ‘Dorfwiese’ . . .” sambil menunjuk ke suatu arah, aku pun langsung menengok ke arah tersebut. Aku melihat, sebuah desa, yang ditumbuhi banyak pohon-pohon besar, dan di antara dedaunan tersebut, terdapat cahaya kecil yang tadi kulihat.

“Indahnya . . .” kataku dengan melihat penuh kagum.

“Kita akan tinggal di desa ini, kurang lebih seminggu, tidak apa-apa kan, nona?” tanyanya.

“Ya, tidak apa-apa.”

 

Part 4: Sebuah Petualangan September 19, 2010

Filed under: The story of a Princess and Her ??? — Clover @ 8:32 AM

Pagi telah berganti malam. Aku terbangun dari tidur malamku. Kulihat, cahaya bulan yang menerobos masuk dari jendela kamarku. Aku bangun dari tempat tidurku, dan berjalan keluar dari kamar yang dipinjamkan oleh Al itu. Aku terus berjalan di lorong, dan turun menuju lantai satu, lalu melihat jam besar dan tua yang berdiri di dekat lemari kayu penyimpanan bonek itu. Jam itu menunjukkan, bahwa sekarang telah tengah malam, dan Al masih belum kembali.

“Ah, si Al pergi kemana sih?” tanyaku dengan nada kesal ke diriku sendiri. “Sejak tadi pagi, dia pergi tanpa meberitahu apa-apa kepadaku dan Aldo. Benar-benar tidak bisa dimengerti! Apa yang sebenarnya dia pikirkan!?”

Lalu, aku duduk di sofa tua yang berwarna hijau tua, yang tadi pagi ku duduki bersama Aldo. Al masih belum kembali, apa yang sedang dia pikirkan?. Aku pun memejamkan mataku, dan mengingat-ingat kejadian tadi pagi, setelah kami selesai makan, dan sebelum Al pergi hingga saat ini.

Pagi itu . . .

“Nona, saya ingin bicara sebentar dengan anda, bisa?” tanya Al dengan senyuman seperti biasanya.

“Ehm, ya, bisa.” jawabku. Kemudian, aku diajak Al ke lantai dua, meninggalkan Aldo di bawah bersama para boneka-boneka ajaib itu.

“Naah . . .  Nona, apa keinginan anda yang ke dua?” tanya Al.

“Eh? Aku belum memberitahu ya?” tanyaku heran dan juga kaget.

“Belum nona.” jawabnya dengan tenang.

“Ehm, sebentar.” lalu aku berpikir, apa ya enaknya?. “Aku tahu! Berikan aku sebuah petualangan!” jawabku dengan penuh semangat.

Al masih diam, dan dia menundukkan kepalanya. Lalu dia mengangkat kepalanya dan menatapku dengan tatapan yang serius. “Apa anda yakin, dengan keinginan kedua anda ini?” tanyanya dengan serius.

“Eh, itu . . .” aku tak mampu menjawab. Sebenarnya aku juga tidak yakin dengan keinginanku yang ini. Aku masih terdiam, dan menunduk. Kemudian, aku mengambil nafas panjang. “Ya, aku yakin.” jawabku dengan tegas.

Al masih diam, lalu dia tersenyum lebar ke arahku. “Baiklah nona. Jika itu memang keinginan anda.” kemudian meninggalkanku sendirian di situ. Aku hanya bisa melihat kepergiannya, dan tetap terdiam. Aku masih tidak terlalu yakin, akan keinginanku ini.

Pagi berganti siang, siang berganti sore, dan sore berganti malam. Selama itu, aku dan Aldo menunggu kedatangan Al, namun Al tidak kunjung datang.  Lalu kami semua akhirnya memutuskan untuk tidur. Aldo yang tidur di sofa warna merah hati yang tadi pagi diduduki oleh Al, dan aku tidur di kamar. Hingga saat ini, Al masih belum kembali.

Al belum kembali, belum . . .

Tiba-tiba, aku mendengar suara pintu yang terbuka, aku pun langsung tersadar dari semua renungaku, dan langsung berdiri. Siapa!? Al!?.

“Huaah, ternyata malam hari sangat dingin.” kata Al sambil menutup pintu toko ini.

“Al! Darimana saja kau!?” bentakku sambil berjalan mendekati Al.

“Oh, nona belum tidur?” tanya Al.

“Aku sudah tidur tadi. Darimana saja kau!?” aku bertanya dengan nada keras. “Kami sudah –“ belum selesai aku berbicara, Al langsung menutup mulutku dengan tangannya.

“Ssstt . . .  Aldo sedang tidur. Jangan berteriak, nona.” bisiknya di telinga kananku sambil terus menutup mulutku. Aku pun menarik tangan Al yang menutupi mulutku itu.

“Lalu, darimana saja kamu? Aku dan Aldo sudah menunggumu daritadi.” tanyaku dengan nada pelan.

Al tidak menjawab, dan diam masih diam. “Nona, tidurlah, besok pagi, anda pasti akan mengerti.” katanya sambil meninggalkan aku disini. Aku bisa saja berteriak memanggilnya, tapi aku ingat, bahwa disini, tidak hanya Aldo saja yang tidur, semua boneka-boneka ajaib itu pun juga tidur. Akhirnya aku memutuskan, untuk melanjutkan tidur malamku yang terputus di tengah malam.

Aku bangun dari tidurku, dan sekarang, sudah pagi, bukan lagi tengah malam. Cahaya pagi yang memasuki ke dalam kamarku dari jendela itu, terasa begitu hangat, tidak panas. Lalu, aku pergi keluar dari kamar itu. Di lorong, aku mendengar suara Al dan Aldo. Nampaknya mereka sedang berbicara. Kemudian, aku berjalan menuju ke tangga, tapi aku hanya menuruni satu anak tangga. Aku masih diam sambil memegang pagar di tangga dan terus melihat mereka berdua berbicara.

“Sudah kubilang, jangan Al! Perjalanan ini terlalu berbahaya!” bentak Aldo ke arah Al.

“Ck ck ck. Tenang, dia bilang tidak apa-apa kok, iya kan nona?” tanya Al sambil mengahadap ke belakang, menghadap ke arahku.

“Kalian sedang membicarakan apa, sih?” tanyaku dengan nada mengantuk.

“Apa!? Kau tidak tahu!? Kita akan pergi!!” teriak Aldo dengan kaget.

Pergi? Owh . . .. Aku masih terdiam, dan berusaha untuk mencerna kata-kata itu. “APA!? PERGI!?” tanyaku dengan sangat kaget. Semua rasa mengantukku yang tadi masih menghinggapiku, langsung pergi entah kemana.

“Ya . . .” jawab Al dengan santainya, lalu dia berjalan menaiki tangga, dan berdiri di sebelahku. “Bagaimana kalau nona membersihkan diri anda dahulu?” tanya Al sambil menunjuk ke arah rambutku. “Untuk penjelasan lebih lanjut, nanti aku akan menjelaskannya sambil kita berjalan ke pelabuhan.” kata Al. Aku pun langsung beranjak pergi dari situ, dan membersihkan diriku.

Setelah selesai membersihkan diri, aku langsung pergi menuju ke lantai satu, dimana Al dan Aldo berada. Saat aku di lantai satu, aku melihat Al telah berdiri di depan pintu.

“Sudah selesai nona?” tanya Al.

“Sudah, kita akan kemana sekarang?” tanyaku sambil berjalan mendekati Al. Saat kulihat Al dengan dekat, kulihat, dia memakai jubah hitamnya yang dulu, dan dia membawa dua tas besar, di kanan dan kirinya.

“Nah, nona bawa yang ini ya!” katanya sambil memberikan tas yang ada di kanannya kepadaku. “Nah, Aldo! Ayo kita berangkat!” teriak Al ke arah lantai dua. Aku masih diam disitu sambil membawa tas besar yang tadi diberikan kepadaku. Sebenarnya, kita mau kemana?.

Lalu, terdengar suara langkah kaki yang sedang berlari dari lantai dua, dan itulah Aldo. Dia langsung berlari dan mendatangi Al. Aldo juga membawa tas besar di punggungnya. “Ayo kita pergi sekarang!” ajaknya.

“Baiklah, ayo kita pergi.” sahut Al. Saat kita keluar, aku langsung menarik jubah Al.

“Al! Kau belum beritahu kita akan kemana!” teriakku. Al dan Aldo langsung terdiam, sambil menatapku. Kemudian,  Al tersenyum kepadaku dan langsung menggandeng tanganku, sambil terus berjalan. Aldo juga ikut berjalan, tapi di sebelahku.

“Ah, maaf, nona, saya lupa memberitahu ke anda. Kita akan berpetualang sesuai dengan keinginan anda  yang kedua.” jawab Al.

“Apa!? Lalu kita pergi kemana?” tanyaku penuh penasaran.

“Kita akan pergi ke pelabuhan, lalu kita akan menuju ke kediaman Moischer di Viecedemont.” kata Aldo menjawab pertanyaanku tadi. “Sekarang, sebaiknya kau harus bersiap-siap untuk menghadapi bahaya di depan mata, karena perjalan menuju Viecedemont itu sangatlah jauh. Cepat, kita sudah ditunggu Lady, iya bukan, Al?” tanya Aldo ke Al, namun Al hanya tersenyum saja. Apa aku benar-benar bisa bertahan ya?.

Setelah kami semua berjalan jauh, akhirnya kami sampai di pelabuhan. Di pelabuhan, banyak sekali kapal-kapal tua dan besar di sana, dan kami menuju ke sebuah kapal besar. Dari jauh, aku melihat seorang wanita berdiri di sebelah kapal. Wanita itu berambut panjang bergelombang dan berwarna hitam, memakai topi dan baju layaknya seorang bajak laut. Al terus menggandeng tanganku dan berjalan menuju wanita itu.

“Anabella!!” sapa Al ke arah wanita itu. Wanita tadi langsung membalikkan badannya dan melambaikan tangannya ke arah Al.

“Hey, Al! Cepat ke sini!” perintah seseorang yang bernama Anabella ke Al. Al, Aldo, dan Aku langsung mendekati wanita itu. “Apa semuanya sudah siap?” tanya Anabella.

“Kurasa semua sudah siap.” jawab Al sambil tersenyum dan terus menggandeng tanganku. Sampai kapan aku akan terus di gandeng?.

“Apa mereka semua kelompokmu, Al?” tanya Anabella, namun Al hanya mengangguk sambil tersenyum saja. “Owh, lama tak berjumpa, Aldo!” sapa Anabella sambil mengelus-elus rambut Aldo.

“Sudah kubilang, jangan pegang kepalaku, tante!” bentak Aldo sambil menarik tangan wanita itu.

“Ya, ya. Maaf.” Anabella menarik kembali tangannya, lalu menoleh ke arahku. “Dan, kamu . . .” Anabella terdiam sejenak, dan langsung menampakkan wajah kage dan ketakutan. Disaat dia mau mengungkapkan sesuatu, tangan Al langsung menutup mulut Anabella. Al menatap wajah Anabella, dan menggelengkan kepalanya. Anabella menarik tangan Al secara perlahan. “Bukan, ya?” tanyanya, dan langsung menatap wajahku. “Siapa namamu?” tanyanya dengan lembut.

“Scarlett . . .” jawabku. Aku melihat, wajah Anabella yang tadinya begitu ceria, langsung berubah menjadi wajah penuh kesedihan, entah mengapa.

“Baiklah, selamat datang di kapalku! Mari masuk!” ajak Anabella sambil menaiki tangga menuju ke kapalnya itu, selanjutnya di ikuti Aldo, dan Al, namun Al masih tetap menggangdeng tanganku.

“Al, tolong kamu beritahu kepada mereka berdua, dimana kamar mereka. Aku akan pergi, untuk menyuruh semua anak buahku untuk memberitahu waktu keberangkatan kiat.” perintah Anabella ke Al, lalu pergi meninggalkan kamu begitu saja.

“Nah, ayo kita pergi ke kamar kita masing-masing.” ajak Al ke aku dan Aldo.

Setelah kami telah mencapai kamar kami masing-masing, kami langsung menaruh barang-barang kami disitu. Lalu, aku keluar dari kamarku, dan mencari Al.

“Al?” tanyaku ke dalam sebuah kamar disebelah kamarku. Kamar itu agak gelap, membuatku tak bisa melihat jelas. “Al, apa kau disini?” tanyaku ragu. Tiba-tiba aku mendengar suara langkah kaki dari belakangku, dan aku langsung menoleh kebelakang.

“BAA!!!” teriak Aldo ke arahku,dan tangannya diangkat ke atas, seakan-akan bermaksud menakutiku. Aku hanya terdiam.

“Apa yang kau lakukan, Aldo?” tanyaku padanya.

“Apa! Anak kecil ini tidak kaget? Gak seru!” keluh Aldo, lalu menurunkan tangannya.

“Apa maksudmu dengan kata anak kecil, hah!?” bentakku dan sambil terus menatap wajahnya.

“Dan, apa yang kalian berdua lakukan dikamarku?” tanya Al.

“Eh? Ahahahaha . . .” aku dan Aldo hanya bisa tertawa sambil menatap Al, tapi tidak menjawab. Kami hanya bisa terdiam.

“Ya sudahlah, ayo bermain kartu.” ajak Al, lalu duduk di lantai kamarnya itu.

“Eh, bermain?” tanyaku dan Aldo bersamaan, dan ikutan duduk di lantai.

“Tepat sekali, selagi menunggu kapal ini sampai di dermaga Marina, kenapa kita tidak menghabiskan waktu saja untuk bermain?” tanya Al dengan senyumannya sambil mengocok kartu yang ada di tangannya.

Aku dan Aldo hanya terdiam, lalu kami saling menatap, dan saling tersenyum. “Boleh juga!” kata kami bersamaan dan langsung mendekati Al.

 

Part 3: Aldo August 10, 2010

Filed under: The story of a Princess and Her ??? — Clover @ 9:53 AM

Kami bertiga, Al, aku, dan seseorang yang bernama Aldo itu, akhirnya duduk bersama di sofa yang saling berhadapan. Aku dan Aldo duduk di sebuah sofa yang sama, sofa yang berwarna hijau tua. Kami berdua, aku dan Aldo, sama-sama menunduk kepala, entah mengapa. Sementara itu, Al sedang mengeluarkan makanan yang ada di dalam kantong, dan memberikannya kepada para boneka. Aku merasa, suasananya menjadi sangat kaku. Aku ingin memulai pembicaraan dengan Aldo, tapi aku tidak berani. Tidak ada kekuatan yang muncul dariku. Tiba-tiba Al duduk di sofa depan kami, sofa yang berwarna merah hati dan kayunya yang diukir dengan indah. Al tersenyum ke arahku dan aku menatapnya dengan heran.

“Hey, Aldo. Apa kau sudah meminta maaf atas kelakuanmu yang tadi?” tanya Al ke arah Aldo. Aldo yang dari tadi diam, langsung tersentak kaget.

“Be, belum.” jawab Aldo dengan gagap.

“Apalagi yang kau tunggu? Cepat minta maaf sekarang!” perintah Al. Aldo pun langsung berbalik ke arahku, menatapku, lalu menunduk.

“Ah! Kamu malu ya?” tanya Al sambil tertawa.

“Ti, tidak! Aku tidak malu! Aku hanya-”

“Aku hanya merasa aku tidak bersalah, iya kan?” tanya Al memotong perkataan Aldo sambil mengangkat kedua tangannya.

“Tidak! Aku merasa bersalah! Dan aku akan meminta maaf sekarang!” jawab Aldo membentak ke arah Al, lalu dia berbalik, mengahadapku. “Aku, Aldo Trestanoir, meminta maaf atas kesalah pahamanku!” teriak Aldo.

“Ya, aku maafkan kamu.” jawabku dengan nada tenang, walaupun sebenarnya, aku merasa agak kesal dengannya.

“Owh, sudah selesai, Aldo?” tanya Al.

“Sudah!” bentak Aldo.

“Hm . . .” Al duduk bersandar sebentar di sofa itu, lalu duduk tegap menatap Aldo, dan dia memunculkan senyum liciknya itu lagi. “Kau datang ke sini, pasti ada sesuatu, kan?” tanya Al dengan senyum liciknya itu.

Aldo tidak menjawab, dia terdiam. Lalu dia bersandar dan menatap ke atas, entah apa yang dia lihat. “Aku ingin menagih janjimu itu.” jawab Aldo, lalu dia duduk tegap, menatap Al. “Aku ingin menagih janjimu, tentang obat yang dapat menyembuhkan Elena.” kata Aldo.

Suasana ruangan saat itu langsung berubah menjadi serius. Sepertinya mereka membicarakan sesuatu yang penting. Aku melihat, Al yang menatap Aldo dengan serius, dan juga Aldo yang menatap Al dengan sangat serius. Aku memang tak mengerti apa yang mereka bicarakan, tapi aku terus memandangi mereka berdua, berharap ada sesuatu yang dapat aku mengerti.

“Elena ya?” tanya Al sambil terus menatap Aldo.

“Iya, Elena.” jawab Aldo.

“Oh . . .  Elena itu sapa ya?” jawab Al dengan wajah bodohnya. Seketika itu juga, aku dan Aldo langsung melempar bantalan sofa yang ada di sekitar kita hingga Al terjatuh ke lantai. Suasana saat itu juga langsung berubah drastis akibat kebodohan Al.

“Al! Bagaimana kau bisa lupa tentang Elena!?” tanya Aldo sambil menarik kerah Al dan mengayun-ayunkan Al. “Dia adalah orang yang sakit! YANG SAKIT!!” teriak Aldo didepan wajah Al.

“Te, tenang Aldo. Aku hanya bercanda kok!” jawab Al dengan santainya. “Tolong lepaskan tanganmu.” pinta Al kepada Aldo. Aldo pun melepaskan tangannya.

“Nah, mari kita kembali ke topic pembicaraan.” ajak Al. “Tadi sampai mana?” tanya Al sambil tersenyum, sambil duduk kembali ke sofa yang ia duduki tadi.

“Tentang Elena . . .” jawabku.

“Oh, ya! Elena! Si putri tidur itu, kan?” tanya Al kearah Aldo.

“Ya! Tepat!” jawab Aldo penuh semangat.

“Putri tidur?” tanyaku ke Al.

“Ya, putri tidur. Itu hanya sebuah nama sebutan yang aku dan Aldo berikan pada Elena.” jawab Al.

“Tapi, kenapa disebut putri tidur?”

“Yah, karena Elena terus tertidur.” jawab Al, lalu dia bersandar lagi di sofa itu. “Alasan mengapa dia tidak bisa bangun dan terus tertidur, tidak ada yang tahu. Tapi, aku rasa, penyebab utamanya hanya satu, dia diberi obat tidur.” kata Al.

“Jadi, dia diracuni oleh keluarganya sendiri? Moischers?” tanya Aldo dengan kaget.

“Apa!? Moischers!?” tanyaku kaget luar biasa. “Tunggu dulu! Apa kita sedang membicarakan tentang putri tunggal yang ada di dalam keluarga besar Moischers!?” tanyaku tidak percaya.

“Iya, kenapa Scarlett?” tanya Al ke arahku dengan mata ngantuknya.

“Ah tidak, bukan apa-apa.” jawabku.

“Dan kenapa kau bisa tahu tentang putri tunggal keluarga Moischers?” tanya Aldo kepadaku.

Aku terdiam. Aku tak mampu menjawab. Bagaimana ini? Jika aku menjawab pertanyaannya, maka indetitas asliku bisa ketahuan!. Aku panic, aku tidak mengerti apa yang harus aku lakukan. Aku pun langsung menatap ke arah Al, berharap dia dapat melakukan sesuatu untukku.

“Al . . .” panggilku dengan suara yang pelan. Al memang melihatku, tapi dia tidak mengatakan sesuatu. Lalu dia mengayun-ayunkan tangannya, seolah-olah mengajakku duduk didekatnya. Tanpa basa-basi, aku langsung duduk didekatnya.

“Tak apa, jujur saja padanya.” bisik Al di telingaku.

“Beneran?” tanyaku tidak percaya. Al tidak menjawab, tapi dia hanya menganggukkan kepalanya. “Baiklah . . .” jawabku.

“Jadi?” tanya Aldo heran.

“Aku akan jujur padamu.” jawabku dengan tegas. “Aku adalah Arlenia Rosechk, putri dari keluarga besar Rosechk.” kataku dengan lantang.

“Arlenia? Putri Rosechk yang sedang menghilang itu?” tanya Aldo.

“Ya, itu benar. Dan aku harap, kau juga memperkenalkan dirimu lebih lengkap lagi.” kataku.

“Membuka satu kedok, harus dibayar dengan membuka satu kedok yang lain.” kata Al sambil tersenyum.

“Urgh . . .” kata Aldo. Lalu dia berdiri, dan membelakangi kami berdua. “Jadi, kau ingin tahu, siapa diriku sebenarnya?” tanya Aldo.

“Tentu saja.” jawabku.

Dia membalikkan badannya, dan menatap lurus ke arahku. “Aku, adalah Aldo Moischers, sepupu dari Elena Moischers.” jawabnya dengan tegas.

“Tapi, tadi kau bilang namamu, Trestanoir?” tanyaku.

Suasana menjadi hening, tanpa suara. Kami berdua diam. Aku rasa, dia tak mampu untuk menjelaskan, demikian denganku, tak mampu mengerti. Tiba-tiba, suasana hening itu pecah, saat Al menepukkan kedua tangannya.

“Sudah, sudah, biar aku yang menjelaskan kepada kalian berdua.” kata Al sambil terus menepukkan tangannya. “Aldo, kau duduk saja.” perintah Al, dan Aldo duduk lagi di sofa hijau itu. “Scarlett, kau juga duduk saja di sini.” perintah Al ke aku.

Lalu Al berdiri, berjalan, dan bersandar di sebuah meja panjang yang berada di sebelah kiri dari sofa yang ku duduki ini. Aku dan Aldo mengahadap ke arah Al.

“Nah, mari kita mulai dari . . .” Al memanjangkan kalimatnya, seolah-olah dia sedang berpikir. “Dari Aldo.”

“Aldo Trestanoir, atau nama aslinya, Aldo Moischers. Dia adalah anak keluarga Moischers yang menghilang. Alasannya, karena sama denganmu Scarlett.” kata Al sambil tersenyum ke arahku.

“Permohonan?” tanyaku mencoba menebak.

“Tepat! Permohonan! Dia kuberi satu permohonan, dan dia meminta agar bisa menyembuhkan sepupunya itu, Elena.” jawab Al. “Betul kan?” tanya Al ke Aldo.

“Ya.” jawab Aldo dengan malas.

“Kedua. Scarlett, atau nama aslinya Arlenia Rosechk. Putri tunggal dari keluarga Rosechk yang menghilang kemarin. Dan dia ku berikan tiga permohonan, dan permintaan pertamanya adalah, kebebasan. Aku membebaskannya dari pengawal keluarganya dan menutupi identitas aslinya.” kata Al, lalu berjalan ke arah sofa merah yang kududuki dan duduk di situ.

“Ada pertanyaan?” tanya Al sambil melihat ke arah aku dan Aldo. Aku memang tak punya pertanyaan, tapi, entahlah jika Aldo.

“Aku punya pertanyaan.”

“Apa itu?” tanya Al dengan cuek.

“Kenapa dia bisa mendapatkan tiga permohonan, dan aku hanya satu permohonan!?” bentak Aldo sambil menunjuk ke arahku.

“Alasannya, gampang.” jawab Al. “Karena permohonan laki-laki biasanya lebih rumit daripada perempuan!” kata Al menambahin jawabannya tadi.

“Apa!?” tanya aku dan Aldo keheranan.

“Sudah, sudah, ayo kita makan pagi!” ajak Al sambil meninggalkan kami berdua tanpa penjelasan lebih lanjut. Aku rasa, aku harus membiasakan diriku dengan orang aneh ini.

 

Chapter 2: Alasan August 9, 2010

Filed under: The Chosen — Clover @ 3:00 PM

Esok paginya, di halaman depan istana, terlihat banyak prajurit sedang melakukan apel, termasuk juga Chessure. Mereka terlihat tenang, rapi, dan serius dalam mendengarkan pidato petinggi Johan.

Sementara Alverina, sedang bersiap-siap untuk rapat hari ini. Kali ini dia berpakaian rapi. Memakai baju yang menggunakan banyak warna hitam. Rambut hitamnya yang sering dia ikat, sekarang dia gerai dan dia sisir rapi. Tetapi, untuk kacamatanya, tetap.

Disaat dia sedang berjalan di koridor menuju ruangan rapat, dia melihat Alice sedang bermain di taman istana. Nampaknya, nanti dia akan kabur lagi, pikirnya. Alverina pun bergegas untuk mencari Chessure, untuk meminta tolong.

Chessure masih berada di halaman depan, walaupun apel sudah berakhir. Dia masih berada disitu karena dia bagian menjaga halaman depan istana. Tiba-tiba, Chessure melihat sosok Alverina dari kejauhan.

“Chess!” teriak Alverina sambil berlari menuju Chessure.

“Alve? Ada apa? Dan kenapa kau seperti terburu-buru?”

“Aku minta tolong padamu, tolong jaga Alice selama aku rapat.”

“Nona Alice? Untuk apa? Bukankah dia sedang dalam keadaan aman?” tanya Chessure dengan sangat heran.

Alverina terdiam, dia malas untuk menjawabnya. “Alice sering kabur, tolong jaga dia selama dia kabur.” jawab Alverina dengan malasnya. “Kalau kau sudah mengerti, aku akan pergi. Para petinggi telah menungguku.” Alverina berbalik lalu pergi meninggalkan Chessure tanpa penjelasan lebih lanjut.

Chessure pun masih terdiam. “Berdiam diri sangat tidak membantu. Sekarang aku harus pergi ke taman.” Chessure pun pergi menuju taman, di mana Alice berada. Di taman, Alice terlihat sedang memetik apel merah. Lalu, apa yang harus aku jaga? Nona Alice dalam keadaan aman-aman saja, pikir Chessure.

Tak beberapa lama kemudian, seperti yang dikatakan Alverina, Alice pergi ke luar melalui gerbang lama, gerbang yang tidak ada penjaganya. Para penjaga mengira, tak mungkin ada yang memakai gerbang itu. Disaat Alice sudah keluar, Chessure pun langsung mengikutinya.

Sementara itu, Alverina, sedang duduk sambil menunggu para petinggi yang lain untuk memulai rapat. Saat semua telah datang, rapat itu pun di mulai.

Di rapat tersebut, Alverina duduk sejajar dengan para petinggi yang lain, hanya petinggi Johan, yang terlihat lebih tinggi daripada Alverina.

“Sekarang, mari kita membahas tentang gerbang Eternal.” kata petinggi Johan.

“Gerbang Eternal? Ada apa dengan gerbang Eternal?” tanya Alverina dengan heran.

“Gerbang Eternal hampir mencapai masanya, maka dari itu kita harus melatih sang terpilih.” jawab petinggi Johan.

“Tunggu dulu, siapakah sang terpilih?” tanya Alverina.

“Chessure Rowell, adik sepupumu itu, Alverina.” jawab petinggi Johan sambil mentap wajah Alverina.

“Tunggu dulu, Tuan Johan, bagaimana kau bisa pastikan bahwa Chessure Rowell adalah sang terpilih?” tanya salah satu petinggi yang lain.

Suasana di ruang rapat yang tadinya diam, langsung berubah menjadi ramai. Para petinggi yang lain tampak membicarakan Chessure, mereka tidak percaya atas pernyataan Johan. Alverina pun terdiam, dia pun juga tak percaya.

“Diam semuanya!” teriak petinggi Johan. Semuanya pun langsung terdiam. “Aku telah merasakan, bahwa dia adalah sang terpilih.” jawab petinggi Johan.

“Lalu, bagaimana kau bisa pastikan itu?” tanya Alverina.

“Tentu saja, dengan melakukan pertarungan dengan naga.”

“Naga!?” Alverina sangat kaget akan pernyataan itu.

“Ya, naga. Naga milik White Rose, yang berada di White Area. Kita hanya mempunyai waktu dua tahun lagi, sebelum gerbang Eternal terbuka, dan selama dua tahun itu, Chessure Rowell harus dilatih agar dia bisa membunuh naga milik White Rose.” dengan wajahnya yang serius, petinggi Johan berbicara sambil mentap Alverina. “Dan kau, Alverina, aku memintamu untuk menjaga Chessure Rowell. Jangan sampai dia meninggal, atau kau akan mendapatkan hukuman.” Petinggi Johan berkata dengan nada mengancam.

“Kalau aku boleh tahu, apa hukumannnya untukku?” tanya Alverina dengan nada yang agak ketakutan.

“Hukuman?” jawan petinggi Johan, lalu terdiam sebentar. “Hukumannya adalah kau akan diasingkan oleh kerajaan Linoex dan kau boleh kembali ke kerajaan Linoex jika kau sudah mendapatkan pengganti sang terpilih.”

“Semua kota di kerajaan Linoex!?” tanya dia sedikit berteriak.

“Kecuali White Area. Silakan kau datangi jika kau ingin bunuh diri.” jawab petinggi Johan, sedikit tertawa.

Alverina tetap terdiam. Dia tak menyangka, Chessure-lah yang menjadi sang terpilih. Jadi, itu alasannya, mengapa Chessure dijadikan menjadi prajurit istana. Semua pertanyaannya telah terjawab. Dia telah menyimpulkan semua perkataan yang telah dikatakan oleh petinggi Johan.

“Baiklah, mari kita sudahi rapat hari ini. Dan untuk Alverina, kau harus ingat akan tugas barumu itu. Kau tahukan, apa tugas barumu itu?”

“Menjaga Chessure.” jawab Alverina dengan nada yang pelan.

“Dan juga melatih Chessure. Pastikan dia sudah siap bertarung dengan Naga sebelum dua tahun. Baiklah, silakan kalian semua bubar, termasuk juga kau, Alverina.” lalu petinggi Johan pun pergi meninggalkan ruangan rapat.

Jadi, mulai sekarang, aku harus melatih dan menjaga Chessure? dan juga menjaga Alice?, sambil bertanya pada dirinya sendiri, dia pun pergi meninggalkan ruangan rapat menuju korodor istana dan berjalan terus hingga menuju halaman depan istana.

Di halaman depan istana, Alverina dapat merasakan hembusan angin segar, dan juga sejuknya angin. Pengapnya ruangan rapat terasa hilang begitu saja. Daun-daun yang hijau menyegarkan matanya dan membuat hatinya yang tegang menjadi tenang kembali. Langit yang biru dan awan yang putih membuat seluruh tubuhnya menjadi relax. Lalu, dia melihat ke arah jam tiang yang berada di halaman. Jam 12, Si Alice dan Chessure, sudah pergi sampai mana ya?, tanya dirinya di dalam hati. Kemudian, dia pergi ke dalam istana, menuju ke kamarnya untuk beristirahat.

 

Chapter 1: Awal August 9, 2010

Filed under: The Chosen — Clover @ 2:09 PM

Suatu pagi, di taman Istana, tempat di mana biasanya Alverina dan Alice bermain, terlihat Alice sedang berlari-lari. Alice berlari untuk mencari Alverina diantara banyaknya pohon apel merah, buah kesukaan Alverina.

“Alve! Alve!” Alice berlari sambil terus mencari Alverina, tapi dia tidak melihat Alverina dimana-mana. Lalu dia berlari menuju pohon apel merah yang paling besar.

“Ada apa, Alice?” Alverina menjawab dengan tenang sambil makan apel merah yang baru saja dia petik dari pohon apel merah yang paling besar di taman.

“Kau mendapatkan surat dari ibumu.” memberikan surat putih itu kepada Alverina.

“Surat? dari Ibu?” membukanya lalu mebacanya. “Untuk apa Ibu menyuruhku pulang?” keheranan sambil terus menatap surat itu.

“Nampaknya, Ibumu ingin menyuruhmu sesuatu.”

Sambil menghabiskan apelnya, Alverina pergi meninggalkan Alice. Dia pergi menuju gerbang istana dan pergi untuk pulang ke rumah.

Rumah Alverina, rumah sederhana yang berada di kota Belveria. Walaupun terlihat padat karena banyaknya rumah penduduk dan jalanannya yang begitu sempit, namun orang-orang yang tinggal disana sangatlah ramah.

Alverina terus berjalan di jalan yang sempit dan cukup berliku itu. Dia berjalan menuju rumah yang sederhana. Ternyata, dia masih ingat tampak depan rumahnya itu. Rumah sederhana yang terbuat dari kayu, yang hingga kini masih kokoh walaupun telah banyak ditelan waktu. Tak banyak perubahan, memang. Sesaat dia mau mengetuk pintu, ternyata pintu itu telah dibuka lebih dahulu oleh Nadelle, ibunya.

“Alve, aku telah menunggumu. Untung kau cepat datang!” sambil menarik Alverina masuk ke dalam rumah.

“Ada apa ibu menyuruhku pulang?”

“Aku ingin memintamu untuk menjemput anaknya Eilly untuk bekerja di istana.” menutup pintu dengan senyuman ala seorang ibu.

“Chessure? Si anak kecil yang sering kuganggu dulu itu? Bukankah dia sedang belajar di akademi prajurit?”

“Alve, dia hanya beda satu tahun denganmu. Hanya karena kau lebih tua dan lebih cepat lulus dari Akademi, bukan berarti kau bisa meremehkannya.”

“Baiklah, jadi aku harus ke rumah bibi Eilly untuk menjemput anak kecil itu?” Alverina berdiri kemudian berjalan menuju pintu.

“Benar, tapi jangan ganggu dia lagi, Alve.” Nadelle membukakan pintu untuknya.

“Gak janji ya, bu!” pergi meninggalkan Ibunya.

Rumah Eilly, bibi Alverina, tidak terlalu jauh dari rumahnya. Disaat dia berjalan menuju rumah bibinya, terlihat seorang anak laki-laki berambut coklat dan berkulit putih sedang berbicara Eilly. Dia memakai armor yang sama dengan Alverina. Bisa diduga, orang itu adalah Chessure.

“Chessure?” Alverine bertanya dengan keheranan yang luar biasa dan untuk memastikan, apakah itu anak kecil yang sering ia ganggu dulu. Dia tidak menyangka dengan postur tubuh si Chessure. Apa benar itu Chessure? Mengapa dia menjadi begitu tinggi?.

“Ah, Alverina. Lama tak jumpa, bagaimana keadaan mu?” sapa Eilly dengan ramah.

“Hai, Alve! Apa kau datang untuk menjemputku” sapa Chessure.

“Hai, bibi Eilly, aku cukup baik. Hai, Chess, bisakah kita pergi sekarang?”

“Tentu! Aku pergi dulu, bu!” Chessure menjawab pertanyaan Alverina dengan gembira.

“Alve! Tolong jaga Chessure, ya?”

“Baik, bibi. Aku pergi.” jawab Alverina dengan halus.

Alverina dan Chessure pun pergi menuju ke Istana, yang berada di kota Lunaria, kota yang cukup dekat dengan Belveria. Namun, di wajah Alverina, tampak ada sebuah pertanyaan yang sangat ingin ia tanya kepada Chessure. Selama perjalanan, Alverina terus bertanya dalam hati, Mengapa dia bisa menjadi prajurit Istana? Mengapa?. Namun, pertanyaan itu tidak dia lontarkan juga.

Sesampai di istana, Alverina dan Chessure pun langsung disambut oleh Ratu Sharron, pemimpin kerajaan Linoex.

“Selamat datang, Alverina Shiver dan Chessure Rowell.” sapa Ratu dengan lembutnya.

“Yang Mulia Ratu.” mereka berdua menjawab. Chessure menjawab sambil membungkuk dan semua pasukan pun membungkuk, kecuali Alverina.

“Sudah, sekarang kalian semua silakan berdiri kembali dan kau juga, Chessure.” Ratu berbicara dengan anggunnya.

Semua pasukan pun berdiri, termasuk Chessure. Chessure melihat ke arah Alverina dengan tatapan heran. Mengapa Alve boleh untuk tidak membungkuk kepada Ratu?.

“Alverina, ajaklah Chessure berkeliling agar dia lebih mengetahui tentang istana ini.  Jangan lupa, Alverina, besok akan ada rapat, dan kau wajib mendatanginya.”

“Baik. Ada hal lain yang ingin kau sampaikan, Ratu?”

“Tidak, aku hanya ingin memberitahu itu saja. Aku pergi dulu.” Ratu berlalu, dan meninggalkan Alverina dan Chessure begitu saja.

“Baiklah, ayo kita pergi.” ajak Alverina ke Chessure.

Setelah dibawa ke seluruh ruangan dan bagian istana, mereka pun akhirnya berhenti di sebuah gedung, gedung yang sangat besar dan bersih. Gedung itu adalah asrama para prajurit Istana.

“Nah, sekarang kau istirahat saja dulu. Aku mau pergi ke kamarku untuk beristirahat. Kau sudah tahu kamarmu kan?”

“Ya, aku sudah tahu, tapi aku ingin bertanya sesuatu kepadamu.”

“Tentang apa?”

“Tentangmu! Aku ingin bertanya tentangmu!”

“Simpan saja pertanyaanmu. Kau tahu kan, kalau aku tak mungkin menjawabnya.” berbalik arah lalu berjalan meninggalkan Chessure. “Sampai bertemu besok!”

“Alve! Tunggu!” Chessure mencoba memangggil Alverina, namun itu sia-sia saja. Alverina telah pergi jauh.

Alverina, terus berjalan menuju ke kamarnya yang berada di dalam istana, tidak berada di dalam asrama para prajurit, karena dia mempunyai kedudukan khusus di istana. Saat dia berjalan di dalam korodor istana, tiba-tiba dia melihat Alice di depan pintu kamarnya. Nampaknya, Alice sudah menunggunya.

“Alice? Sedang apa kau disitu?” berjalan menuju ke arah Alice.

“Alve! Akhirnya kau datang! Aku telah lama menunggumu!” jawabnya dengan nada senang. “Jadi, seharian ini kau sudah kemana saja?”

“Hanya ke rumah ibuku saja.”

“Lalu, kenapa ibumu memintamu pulang?” tanya Alice dengan wajah polosnya.

“Hanya memintaku untuk menjemput adik sepupuku. Itu saja.”

“Oh . . .” Alice diam sejenak lalu dia tersenyum lagi. “Hey Alve, besok, ayo kita pergi ke Quarter state. Aku ingin berjalan-jalan ke sana.” dengan senyumnya yang manis.

“Maaf Alice. Aku tidak bisa. Besok aku akan ada rapat, untuk itu sekarang aku harus tidur lebih awal.” Alverina berusaha menyelesaikan pembicaraan secepatnya. Ia segera berlalu meninggalkan Alice.

“Oh, tidak bisa ya?” Alicce bertanya sambil berharap Alverina bisa mengubah keputusannya.

“Tidak bisa, Alice. Sekarang sudah malam, sebaiknya kau cepat tidur.” bujuk Alverina.

“Baiklah, selamat tidur, Alve.” Alice meninggalkan Alverina lalu berjalan menuju ke kamarnya yang tak terlalu jauh dari kamar Alverina.

 

Chapter 0: Pembuka August 9, 2010

Filed under: The Chosen — Clover @ 1:58 PM

Linoex, sebuah Kerajaan yang damai yang berada di benua Aresta. Kerajaan itu dipimpin oleh sebuah keluarga bangsawan, yaitu Keluarga Reevedom. Anggota keluarga Reevedom terdiri dari Ratu, Putri dan Pangeran. Ratulah yang mengatur Kerajaan Linoex. Ratu mempunyai dua orang cucu, yaitu Nona muda Alice Reevedom dan Nona muda Elda Reevedom. Di Istana, Ratu memperkerjakan banyak prajurit dan pembantu. Namun, diantara banyaknya prajurit, ada beberapa prajurit yang dibuat untuk pengawal pribadi. Salah satu diantaranya adalah Alverina. Dia adalah pengawal pribadi untuk Nona Alice dan dia adalah prajurit paling setia diantara semua prajurit Kerajaan.

Di Kerajaan Linoex, terdapat lima kota. Kota pusat sering disebut Quarter State. Tiga kota yang lain adalah Lunaria, Belveria, dan Rustela. Satu kota yang luasnya memang lebih kecil daripada tiga kota yang lain yang berada di pinggir Kerajaan Linoex dan tidak boleh dimasuki adalah White Area.

White Area, tempat dimana seorang penyihir hidup, yaitu White Rose. White Rose adalah penyihir terkuat dan terkejam di seluruh jagad raya. Tak ada yang bisa mengalahkannya maupun mendekatinya. Tiap ada orang yang memasuki White Area, mereka tidak kembali lagi, dan tak ada yang mengetahui bagaimana nasib mereka.

 

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 85 other followers