The Clover's Story

Just a story who made by clover

3. The Meeting November 17, 2010

Filed under: The Bloody Black Rose — Clover @ 3:15 PM

Aku berjalan entah kemana. Berjalan tanpa mengenal arah. Disaat aku sadar, aku tak tahu ada dimana sekarang. Kurasa, aku tadi berjalan sambil melamun. Entah apa yang sebenarnya terjadi. Ada suatu perasaan yang memanggil diriku. Dan aku, pun melihat, di depanku, terdapat pohon jati hitam yang besar namun tua. Di pohon itu, terdapat banyak sekali gigitan-gigitan besar, layaknya sebuah gigitan oleh binatang besar yang bergigi tajam. Aku ingin menyentuh pohon itu untuk melihat dan memastikan gigitan-gigitan itu, tapi, tiba-tiba, ada seseorang yang menghentikanku, memegangi tanganku sangat kuat.

“Jangan pernah menyentuh pohon itu, jika kamu tidak ingin dimangsa oleh hewan buas dari hutan ini.” tegur seorang pemuda sambil menundukkan kepalanya, dan memegangi tanganku.

“Ba, baik.” jawabku kesakitan. Kemudian, pemuda  itu melepaskan tanganku.

“Kalau sudah mengerti, cepatlah kembali ke kota. Tempat ini tidak aman.” ujarnya, dan dia meninggalkan diriku sendiri disini. Kalaupun dia menyuruhku untuk kembali, bagaimana caranya kembali?.

“Sebentar, aku rasa, aku pernah melihat orang itu di suatu tempat . . .”. Dan aku mencoba mengingat kembali, dimana aku pernah melihat orang itu. Berambut pendek berwarna  hitam, berkulit putih pucat, dan mempunyai mata yang berwarna merah yang menyala. “Mimpiku!” aku berteriak sendiri disaat aku berhasil mengingatnya. “Tapi, warna mata orang itu tidak merah. Lalu dia siapa?” pikirku heran. Samar-samar, aku mendegar suara seseorang yang memanggil namaku.

“Caroline . . .” suara itu menggema, entah darimana asalnya. Rasanya, suara itu berasal darimana saja. “Caroline . . .” suara itu memanggilku sekali lagi. Suara perempuan yang samar, namun terdengat sangat lembut dan lemah.

“CAROLINE!!!” teriak suara perempuan dari arah belakangku.

“Rebecca?” gumamku, sedikit ragu. Tiba-tiba, Rebecca langsung memelukku, seakan-akan dia sangat merindukan aku. “Em, Rebecca, ada apa?” tanyaku keheranan.

“Apa kau tidak sadar, Caroline?” tanya Seth yang berjalan di belakang Rebecca.

“Ehm, sadar akan apa?”

“Kau itu sudah menghilang selama satu jam!” jawab Seth.

“Satu?”

“Satu jam!” teriak Seth, meyakinkan diriku. Tunggu sebentar, satu jam? Kenapa tidak terasa ya?, pikirku sangat heran.

Lalu, aku menatap Rebecca. “Ehm, Rebecca?”

“Sudahlah, biarkan saja anak itu melepas rasa khawatirnya. Dia kan memang begitu. Dari luar, terlihat begitu kuat, begitu tegas. Tapi, kalau ada apa-apa denganmu, dialah yang paling khawatir.”.

“Oh, baiklah.” jawabku. “Lalu, apa yang akan kita lakukan selanjutnya?” tanyaku, mencoba mengubah suasana yang ada.

“Jika kulihat dari kondisi ini, satu-satunya yang terbaik adalah, kembali ke rumah.” jawab Seth, lalu mendekati diriku, dan melihat wajah Rebecca. “Kurasa, Rebecca juga sudah kecapekan karena terus-terusan berteriak untuk mencarimu.” ujarnya sambil melihat Rebecca tidur.

“Uhm . . .” tak mampu berkata, tapi hanya mampu bersuara untuk menunjukkan bahwa aku setuju dengan keputusan Seth.

“Sini.”

“Eh? Apanya?” tanyaku heran.

“Sini, biar ku gendong si Rebecca.” serunya. Aku pun memberikan Rebecca padanya, dan dia mengangkat, lalu menggendong di atas punggungnya.

Aku pun tertawa kecil. “Sudah lama ya . . .” ujarku.

“Yah, semenjak kita bertiga dulu sering bermain bersama itu, ya?”

“Iya. Nampaknya kau masih ingat, ya. Masa lalu yang indah.” Mengatakan hal itu sambil melihat ke atas, melihat langit yang biru dan luas. “Oh, ya, Seth. Apa kau tidak mengatakan perasaanmu ke Rebecca?”

“Eh! Kenapa kamu menanyakan hal itu?” tanyanya begitu kaget.

“Tidak apa-apa. Aku hanya penasaran saja.”

Seth terdiam, dia masih belum menjawab. “Belum waktunya kurasa. Suatu hari nanti, dia juga akan tahu.”

“Oh . . .”. Dan kami berjalan terus, hingga kami sampai dirumah.

***

Malam hari pun tiba. Rebecca juga sudah sadar. Kami semua memutuskan untuk melanjutkan eksplorasi kamu di hari esok. Tapi, aku masih terpikir kejadian siang hari itu. Apa yang terjadi sebenarnya dan siapakah orang itu?. Ciri-ciri orang yang tadi kutemui di siang hari, sama persis denga pemuda yang ada di dalam mimpku. Tapi, yang berbeda hanya warna matanya. Warna mata orang itu coklat muda, bukan merah menyala seperti pemuda di dalam mimpiku. Sebenarnya, siapa orang itu?. Entah mengapa, tapi wajah orang itu, semua ciri-cirinya, masih terngiang jelas di otakku.

Aku yang tak mengerti dengan apa yang terjadi, akhirnya berbaring di atas tempat tidur. “Ah, aku bingung akan semua ini . . .”. Tiba-tiba, aku mendengar suara berisik dari arah kebun. Lucas? Tak mungkin, ini kan malam hari. Dan, suara itu muncul lagi, dan tidak ada yang menydarinya.

Karena penasaran, akhirnya aku melihat dari jendela kamarku. Dari sini, aku bisa melihat, entah apakah itu, dengan mata yang menyala bagaikan lampu pijar, sedang berjalan dengan hati-hati di kebun. Tiba-tiba, makhluk itu melihat ke arahku. Secara refleks, aku langsung bersembunyi di balik dinding. Aku harus mencari Lucas!.

Aku keluar dari kamarku sambil berlari. Berlari terus, hingga ke kamar Lucas. Di depan kamar Lucas, aku mengetuk pintunya, namun tidak ada yang menjawab. Akhirnya, aku membuka kamarnya, namun dia tidak ada di sana. Kemana dia?. Tiba-tiba, aku melihat, sebuah bayangan, seperti Lucas, di halaman depan. Tanpa pikir panjang, aku mengikuti bayangan itu pergi. Terus berjalan, dan terus mengikuti, itulah yang kulakukan. Dan, saat aku tersadar, aku telah berada di hutan lagi.

“Kenapa lagi-lagi aku masuk hutan tanpa sadar?” tanyaku heran, tapi  sedikit ketakutan. “Aku harus kembali.”. Tiba-tiba, aku mendengar suara geraman dari arah belakang. Aku pun langsung menoleh ke arah belakangku. Di sana, aku melihat, sebuah makhluk, seperti serigala besar, sedang menatap ke arahku dengan matanya yang menyala di antara gelapnya malam. Jadi, mata tadi itu, adalah mata makhluk ini!?.

Aku tak mengerti apa yang harus kulakukan untuk menghadapi makhluk besar seperti ini. Geramannya membuatku ketakutan hingga aku terjatuh dan duduk bersandar di pohon besar. Giginya yang tajam, penuh dengan liur, seakan-akan, aku akan dilahap habis olehnya. Makhluk itu mendekat, dan mulai membuka mulutnya. Aku bergerak menjauhinya, disaat aku menoleh lagi ke makhluk itu, dia sudah membuka lebar mulutnya dan mengarahkan serangannya padaku.

“KYAAAA!!!!” teriakku histeris, dan berharap ada seseorang yang mendengar teriakanku. Seseorang! Tolonglah aku!. Aku menutup mataku karena tak berani untuk melihat.

“Minggir kamu, anjing sialan!” tiba-tiba seseorang berteriak seperti itu, dan muncul suara keras layaknya batu besar yang menghantam pohon. Apa yang terjadi?. Aku membuka mataku perlahan, dan melihat sebuah sosok yang pernah kulihat. Orang yang tadi siang!. Orang itu sedang melihat keadaan makhluk tadi yang sekarang sedang berbaring lemas.

“Te, terima kasih.” seruku.

“Kau memegangnya, kan?”

“Eh?”

“Kamu memegang pohon yang tadi aku larang pegang, kan?” tanyanya sambil menatap sinis ke arahku.

“Entahlah, mungkin aku tidak sengaja mengenainya.” jawabku denga suara pelan.

“Pantas saja anjing ini mencarimu.” serunya. Kemudian berjalan ke arahku. “Apa kamu tahu alasan kenapa aku tidak boleh membiarkanmu memegang pohon tadi?”.

“Tidak . . .”

“Di batang pohon tadi itu terdapat sebuah cairan yang tidak terlihat. Cairan itu menimbulkan aroma yang memikat makhluk-makhluk ini untuk memakannya. Makanya, di pohon tadi itu, ada banyak gigitang besar, kan?” tanyanya, memastikan penjelasannya benar.

“Ah, ya. Kau benar.”. Aku terdiam, lalu aku berdiri dan mendekati pemuda itu. “Ma, maaf . . .”

“Ya, sudahlah. Tak apa.” jawabnya ketus.

“Hm, maaf. Kalau aku boleh tau, ini makhluk apa?”

Pemuda langsung menatap tajam wajahku, kemudian menghela nafas. “Anjing gila . . .”

“Hah? Anjing?” tanyaku keheranan.

“Ya, bukanlah! Masa’ anjing sebesar ini!!”

“Lalu, apa?”

“Likantrof.”

“Apa? Likantrof? Apa itu?” tanyaku begitu heran. Dia langsung menatapku, dan menunjukkan ekspresi kaget bercampur heran.

“Apa kamu tidak pernah membaca buku-buku novel tentang mitos ata semacamnya?”

“Eh, pernah kok! Tapi aku gak pernah dengar nama Likantrof . . .”

Dia hanya menghela nafas, kemudian memegangi kepalanya. “Werewolf, tau?”

“Oh, ya! Aku tau Werewolf!”

“Yah, dia ini Werewolf, tapi ada sedikit yang mengganjal darinya.”

“Mengganjal?”

“Yah, mengganjal.” lalu, pemuda itu mendekati serigala yg tadi terbaring lemas. “Ada yang salah darinya. Biasanya, walaupun dia mencium aroma cairan di pohon tadi, dia hanya akan mengejar aroma yg paling kuat baunya. Tapi, jika kau tadi terkena sedikit, dan itu sudah sejak siang tadi, seharusnya, aroma itu sudah berkurang banyak, dan tidak mungkin dicium lagi.”

“Lalu, kenapa serigala ini mengejarku?”

“Entahlah, mungkin ada yang memaksa serigala ini.” jawabnya. “Sudahlah. Kau juga sudah harus kembali kan? Ini sudah tengah malam.” serunya.

“Ah, kau benar. Baiklah, aku kembali.” jawabku dan berjalan membelakanginya.

“Ah, tunggu!” panggilnya, menghentikan langkahku.

“Ya?”

“Aku mohon, urusan malam ini, tolong jangan beritahu ke siapa-siapa.”

Aku terdiam, lalu menjawab, “Ya, aku tidak akan memberitahu kepada yang lain.”. kemudian, berjalan pergi, meninggalkan apa yang sudah terjadi, dan kembali ke rumah.

 

2. The Exploration October 24, 2010

Filed under: The Bloody Black Rose — Clover @ 8:30 AM

Saat aku terbangun, aku melihat cahaya remang-remang dari jendela. Aku mencoba mendekati jendela itu, dan membuka tirai yang menutupi jendela yang panjang hingga ke lantai itu, kemudian membuka jendela itu. Saat itu juga, aku merasakan angin yang berhembus, menghembuskan rambut panjangku yang berwarna hitam kecoklatan ini. Rasa segar yang didatangkan oleh angin yang berhembus di pagi ini, membuat hatiku damai dan tentram. Aku pun juga mendengar, betapa merdunya suara burung-burung yang sedang bersiul. Memang beda rasanya kota besar dengan kota kecil seperti ini. Kemudian, aku menutup jendela itu, dan bergegas untuk mandi.

Setelah aku selesai membersihkan diriku, aku pun langsung memakai pakaian yang kubawa. Aku memakai kemeja berwarna putih, jaket putih, dan memakai rok yang berwarna hitam, kemudian aku keluar dari kamarku. Diluar kamarku, aku telah di sambut oleh Lucas, kepala pelayan, atau bisa disebut, Butler dari rumah yang besar ini.

“Selamat pagi, nona Caroline. Apa anda tidur dengan lelap?” tanyanya dengan senyumannya yang menyejukkan hati.

“Ya, aku sangat lelap.” jawabku dengan muka yang sedikit memerah karena tersipu oleh senyuman Lucas.

Dia mendekatiku, lalu mengulurkan tangannya kepadaku. “Mari, biar saya mengantar anda ke tempat di mana nona Rebecca dan tuan Seth berada.” ajaknya, dengan nada yang lembut nan ramah.

“Ya” jawabku sambil malu-malu dan memberikan tanganku kepadanya. Kemudian kami berjalan bersama melewati lorong yang panjang, menuruni tangga yang besar, dan akhirnya sampai di ruang makan, tempat dimana Rebecca dan Seth berada.

“Lama sekali kamu! Cepat makan, lalu kita pergi!” suruhnya.

“Pergi, kemana?” tanyaku, sambil duduk di kursi dan mengambil satu lembar roti tawar.

“Tentu saja ke hutan. Bukankah kita mendapatkan tugas untuk membuat laporan tentang hutan di sekitar sini?” tanya Rebecca. Aku hanya terdiam, dan terus memakan rotiku ini sambil menunduk. Sebenarnya, aku gak mau ke hutan, semenjak kejadian kemarin. Kejadian yang selalu membuatku ketakutan dan mimpi-mimpiku yang terlihat begitu aneh.

Setelah kami semua selesai makan, kami semua keluar dari rumah besar itu. Namun, di saat kami sudah melewati pintu depan dan sampai di halaman depan , kami dipanggil oleh Lucas.

“Kalian bertiga, mohon tunggu sebentar!!” teriak Lucas dari arah belakang kami bertiga. Secara bersamaan, kami bertiga menoleh ke arah Lucas dengan raut wajah keheranan.

“Lucas, ada apa?” tanyaku heran disaat Lucas sudah sampai di dekat kami.

“Saya dengar, kalian akan pergi ke hutan, benarkah itu?”

“Iya, benar. Kenapa?” sebuah jawaban sekaligus pertanyaan berasal dari Rebecca. Kurasa, Rebecca masih kesal karena keterlamabatanku dan melampiaskannya pada Lucas.

“Bukan maksud saya untuk menghalangi anda sekalian, tapi saya hanya ingin memberitahu anda tentang berita pagi ini.” jawab Lucas sambil menunjukkan sebuah koran ke arah kami. Rebecca yang kesal, langsung pergi begitu saja, aku langsung mengikuti Rebecca. Hanya Seth yang peduli akan berita itu, karena itu dia mengambil korannya dari Lucas, kemudian pergi mengikuti mereka.

Kami bertiga berjalan jauh dari rumah besar tempat kami menginap. Aku yang berjalan sambil terdiam, terus melihat ke arah Rebecca. Becca sedang marah, kurasa aku tak bisa berbicara dulu dengannya. Lalu aku melihat ke arah Seth yang sedang berjalan sambil seru membaca koran pagi. Karena penasaran, aku pun mendekatinya.

“Lalu, berita apa yang dimaksud Al pagi ini?” tanyaku secara tiba-tiba disebelahnya Seth.

“Berita? Oh, berita itu.” Seth langsung membalik korannya ke halaman depan koran itu. “Berita yang dimaksud oleh Lucas, tentang seorang petani yang tiba-tiba menghilang di tengah hutan disaat di sedang mencari kayu bakar. Sampai sekarang, petani itu tidak kembali.” jawabnya.

“Artinya, itu kesalahan sang petani, kenapa dia tidak mengajak saja temannya untuk masuk bersama ke dalam hutan?” tutur Rebecca yang tiba-tiba muncul di dekat kami.

“Entahlah, tapi yang pasti, kita harus berhati-hati di dalam hutan, mengerti?” balas Seth ke Rebecca, namun Rebecca tidak menjawabnya, dan hanya mengangkat kedua tangannya.

Setelah setengah jam kami berjalan, kami pun akhirnya sampai ke depan hutan. Hutan ini dipenuhi oleh pohon-pohon yang berwarna hitam, rumput yang kering, dan daun-daun kering yang sedang berguguran. Tanpa basa basi, Rebecca memasuki hutan tersebut tanpa member apapu ke aku dan Seth. Akhirnya, kami berdua pun langsung mengejarnya.

“Cih, hutan ini benar-benar seperti hutan mati. Kalau begini, bagaimana kita bisa membuat laporan biologi?” keluh Rebecca.

“Tenanglah Rebecca, jangan terbawa amarah. Kita semua masih mempunyai banyak waktu tinggal di desa ini, iya kan, Caroline?” tanya Seth kepadaku, namun aku tidak menghiraukannya.

“Haah! Sudahlah!” keluh Rebecca dengan suara keras.

***

“Rebecca! Tunggu! Jangan bertindak gegabah! Kita kan tidak perlu terburu-buru?” tanya Seth sambil menarik tangan kanan Rebecca.

“Aku hanya kesal! Apa yang kita bisa teliti di hutan ini!?” bentak Rebecca. “Hutan ini seperti sudah mati!”

“Sudahlah, Rebecca, nikmati saja perjalanan ini. Apa kau tidak bisa setenang Caroline?”

Rebecca terdiam sebentar, lalu membalikkan badannya, menghadapkan punggungnya ke arah Seth. “Ya, akan k coba.” gumamnya.

“Yah, baguslah. Ayo, Caroline! Kita pergi!” ajak ke Seth sambil menoleh ke arah belakangnya. “Eh, Caroline?”

“Ada apa?” tanya Rebecca dengan cuek.

“Tidak ada.” gumam Seth.

“Tidak ada?” Rebecca yang merasa heran langsung menghadap ke arah Seth. “Apa maksudmu?”

“Tidak ada, Caroline tidak ada. Dia menghilang.”

“Apa!?” teriak Rebecca. Rebecca langsung berjalan ke tempat Caroline berada sebelumnya, dan di sana, tidak ada Caroline. “CAROLINE!!!”.

 

1. Darkwoods Town June 4, 2010

Filed under: The Bloody Black Rose — Clover @ 11:06 AM

“Carol! Carol! Ayo bangun!” teriak temanku.

“Oh, Rebecca, sudah berapa kali aku katakan, jangan panggil aku Carol?” jawabku dengan nada mengantuk.

“Itu tidak penting! Apa kau sadar, sejak tadi, kau menggigau terus!” jawabnya, dengan sangat khawatir.

“Oh, ya? Apa aku mengatakan sesuatu?”

“Bukan mengatakan, lebih tepat, kau berteriak dan mengatakan Tidak! Berhenti!” dia menjawab pertanyaanku sambil mencoba memperagakan ulang, bagaimana aku berteriak. “Apa kau baru saja bermimpi buruk?”

“Ya, sungguh buruk, tapi biarlah. Jadi kita sudah sampai mana, Rebecca?” tanyaku, berusaha untuk mengganti topik pembicaraan.

“Kita masih dalam perjalanan, mungkin setengah jam lagi kita sampai. Lihatlah, pemandangan yang indah bukan?” Rebecca menjawab pertanyaanku sambil mencoba melihat keluar, sementara diriku, tertarik melihat apa yang dilakukan Seth.

“Rebecca, apa yang dilakukan Seth?”

Lalu Rebecca menoleh ke arah dalam bus untuk melihat Seth. “Seperti biasa, berkenalan dengan cewek, bukankah itu yang selalu playboy lakukan?” lalu kembali duduk dan menghadap ke depan. “Caroline, aku akan tidur lagi, dan aku mohon, jangan ganggu aku lagi dengan gigauanmu seperti tadi, oke?” tanya Rebecca menghadap ke arahku.

“Ya, dan aku sudah tidak berniat tidur lagi, kok.” jawabku sambil menghadap ke arah jendela. Di jendela, aku melihat pemandangan yang indah. Daun-daun dan rumput-rumput yang berwarna hijau. Bunga-bunga yang berwarna-warni. Disaat aku membuka jendela, aku bisa merasakan, betapa sejuknya angin. Sungguh menenangkan hati.

Tiba-tiba, dari jauh, aku melihat, seorang lelaki yang tinggi, berambut hitam, dan berkulit putih, sedang berdiri di pinggir jalan. Orang itu hampir sama dengan pemuda yang ada di mimpiku. Saat bus kami melewatinya, aku melihat dengan jelas, sosok tampan yang muncul dari wajahnya, dan senyuman manis dari mulutnya, seakan-akan memberi tanda selamat datang pada kami. Nampaknya, hanya aku yang peduli dengan pemandangan itu. Lalu aku melihat dari jauh, sebuah papan hitam bertuliskan,

SELAMAT DATANG DI KOTA DARKWOODS.

Saat aku melihat papan itu, aku langsung merasakan hawa yang tak enak. Aku melihat pohon-pohon yang berkayu berwarna hitam, bukan coklat. Aku pun melihat, bunga-bunga yang berwarna semerah darah, bukan lagi bunga yang berwarna-warni. Lalu, dari jauh, aku pun melihat, banyaknya atap-atap rumah. Aku rasa, kita sudah sampai. Aku pun langsung membangunkan Rebecca.

“Rebecca! Rebecca! Bangun! Kita sudah sampai!” teriakku.

“Oh, sampai . . .” dia masih agak mengantuk, lalu terdiam sebentar. “Apa!? Sampai!? Oh, baguslah.” teriaknya dengan nada senang. Tiba-tiba Seth datang menghampiri kami berdua.

“Oh, kalian sudah bangun ya, para putri tidur?” tanya sambil berpose.

Aku dan Rebecca pun langsung menoleh ke arah jendela, tidak menjawab, dan menghela nafas. Seth pun akhirnya pergi, sambil mengangkat kedua tangannya. Bus yang tadinya berjalan cepat, sekarang berjalan pelan, dan akhirnya berhenti. Kami pun langsung turun dari bus. Disaat aku turun, aku melihat sebuah kolam besar yang penuh dengan ikan. Tiba-tiba, Rebecca menepuk punggungku., dan aku pun langsung menoleh ke arahnya.

“Ya, ada apa?”

“Ayo, kita cari rumah yang menampung kita bertiga selama kita tinggal dan liburan disini.” ajak Rebecca.

“Kita bertiga?” tanyaku dengan heran.

“Ya, bertiga, dengan Seth.” dia menunjuk ke arah Seth yang sedang menggoda cewek. Lalu pergi layaknya orang yang mencari alamat. Aku pun langsung mengejarnya.

“Tapi, kenapa harus dengan Seth?” tanyaku sambil terus berjalan.

“Entahlah, pak guru yang memilihnya. Kata pak guru, kita sudah berteman lama dengannya.” Rebecca terus berjalan sambil melihat ke kertas yang ia bawa.

Sambil terus berjalan mengikuti Rebecca, aku pun melihat sekelilingku. Jalan yang terbuat dari batu-batu yang di tata rapi, bangunan-bangunan yang kebanyakan terbuat dari batu bata, dan jalan-jalan kecil yang berada di sela-sela bangunan. Benar-benar seperti berada di kota tua. Disaat, aku melihat sebuah gang kecil, tiba-tiba aku melihat seseorang. Aku tidak bisa melihatnya dengan jelas karena di jalan itu, tidak ada cahaya matahari yang masuk. Aku masih terdiam disitu, amsih mencoba melihatnya.

“Caroine! Ayo pergi! Apa yang kau lakukan disitu?” tanyanya sambil menyeret tanganku.

“Tapi, tadi aku melihat seseorang disitu.” jawabku sambil terus digeret oleh Rebecca.

“Itu tidak penting, sekarang, cepat bantu aku menemukan jalan ini!” sambil menunjukkan kertas yang ia pegang dari tadi. Dikertas itu tertulis, Jl. Rellain XII  no. 43. Lalu, aku langsung menoleh ke arah jalan besar di sebelah kananku.

“Itu dia, Rebecca! Jalan itu!” aku langsung berteriak.

Rebecca langsung menoleh. “Tepat! Ayo kita ke sana!” ajaknya.

Kami berdua langsung menuju ke jalan besar itu, kemudian mencari sebuah rumah yang memiliki nomer rumah 43. Kita terus berjalan ke arah selatan, mencarinya, hingga sampai ke ujung jalan besar, dan kami memang menemukan sebuah rumah. Rumah yang sangat besar, lebih besar dari semua bangunan yang kami jumpai di kota ini. Rumah yang mewah yang mempunyai dinding berwarna putih, pagar yang berwarna hitam, dipenuhi oleh lilitan-lilitan mawar putih. Tiba-tiba, kami mendengar suara kaki yang sedang berlari dari arah belakang kami, dan dia adalah Seth.

“Hei! Kalian berdua! Tunggu aku!” teriaknya sambil terus berlari ke arah kami berdua.

“Salahmu sendiri, sejak dari tadi, kau sibuk mengganggu anak perempuan yang lain.” jawab Rebecca dengan ketus. “Tunggu dulu, bagaimana kau bisa tahu, kalau kami ada di sini?” tanya Rebecca dengan sangat heran.

“Tentu saja aku tahu, karena aku hapal dengan alamatnya.” jawabnya sambil bernafas terengah-engah. “Karena aku tidak tahu daerah ini, makanya aku tanya ke orang yang tinggal di kota ini. Saat kutanya tentang alamat ini, orang itu menjawab, lihat saja rumah yang paling besar di kota ini. Jadi, inilah.” jawabnya sedikit tertawa.

“Ya, sudah, ayo kita pergi bareng ke rumah itu.” ajak Rebecca. Kemudian, kami bertiga pergi menuju rumah itu. Saat kami sampai di depan pagar rumah yang besar itu, kami terdiam karena kagum, karena betapa besarnya rumah itu. Tiba-tiba, pagar di depan kami, terbuka, mengarah ke dalam rumah. Di sana, aku melihat, seorang pemuda berambut pirang, memakai jas hitam, kemeja putih, dan dasi yang berwarna hitam. Dia tersenyum ke arah kami, kemudian mendekati kami, dan membungkuk ke arah kami.

“Selamat datang di kota Darkwoods.” lalu berdiri dari bungkuknya. “Anda sekalian pasti murid-murid sekolah dari Riverlain school, iya bukan?” tanyanya sambil terus tersenyum ke arah kami.

“Iya, benar. Kalau kami boleh tahu, apakah anda pemilik rumah ini?” tanya Rebecca.

Tiba-tiba dia tertawa kecil. “Tidak, anda salah, saya adalah butler di rumah ini. Nama saya adalah Lucas Jersine, salam kenal.” jawabnya.

“Namaku Rebecca Hurlson, ini Coraline Shrine, dan Seth Pearsk. Salam kenal juga.” jawab Rebecca sambil menunjuk ke arah aku dan Seth.

“Baiklah, mari saya antar.” dia mempersilakan kami untuk maju duluan. Rebecca dan Seth berada di depan, sementara aku dan Lucas berada di belakang. Sambil berjalan, aku melihat-lihat sekelilingku. Taman yang dipenuhi oleh mawar yang berwarna putih, dan tanah yang dihiasi penuh dengan rumput hijau. Sepertinya, taman ini dirawat dengan sangat baik.

“Em, tuan Lucas.” aku mencoba memulai pembicaraan.

“Panggil saja saya Lucas, nona Caroline.” jawabnya sambil tersenyum.

“Em, Lucas, apakah pemilik rumah ini sangat menyukai mawar putih?” tanyaku.

“Iya, benar. Tuan saya, pemilik rumah ini, sangat menyukai mawar putih. Beliau mulai menyukainya, saat mendiang istrinya meninggal. Kata beliau, jika dia melihat mawar putih, dia akan selalu mengingat mendiang istrinya, karena istri beliau juga menyukai mawar putih.” jawabnya, sedikit tersenyum lemah.

Saat aku mendengar jawabannya, aku mendengar sebuah suara yang lembut dan pelan darinya, suara yang penuh rasa kasih sayang. Rasanya, suara yang dia miliki layaknya sihir, walaupun dia hanya berbicara sedikit, tapi suara itu telah membuat hatiku tenang dan damai. Rasanya nyaman berada di dekatnya.

Tiba-tiba, diantara pohon-pohon yang ada di luar taman, aku melihat sebuah cahaya terang berwarna merah, layaknya cahaya yang berasal dari dua bola mata yang ada di dalam mimpiku. Aku pun langsung tersentak kaget, mundur tiba-tiba hingga mengenai Lucas.

“Ada apa, nona Caroline?” tanya Lucas sambil menahan punggungku. Aku tidak mampu untuk menjawab pertanyaan dari Lucas. Aku takut. Aku merasa sekujur tubuhku terasa dingin. Aku terus gemetar, hingga membuat Rebecca dan Seth menjadi heran, kemudian mendatangiku dengan wajah yang sangat bingung.

“Caroline, apa kau tidak apa-apa?” tanya Rebecca dengan nada yang sangat khawatir. Aku mencoba menoleh ke arah Rebecca, dan mencoba menjawab pertanyaannya. Namun, tidak ada kata yang dapat keluar dari mulutku. Rasanya aku tidak dapat bernapas.

“Mungkin nona Caroline perlu istirahat, mari saya bantu, nona Caroline.” kata Lucas. Lalu Lucas mengangkatku, menggendongku dengan sangat hati-hati. Aku merasa sangat hangat, nyaman, hingga membuatku tidak sadarkan diri.

 

Prologue June 2, 2010

Filed under: The Bloody Black Rose — Clover @ 2:25 PM

Cahaya bulan yang berwarna merah, di malam yang berwarna hitam pekat. Aku melihat sekelilingku berwarna hitam dan di tanah tempat aku menginjak, terdapat cairan yang mengalir berwarna semerah darah yang pekat. Cairan yang sangat kental, sehingga bisa disebut juga darah. Bunga-bunga yang ada di sekelilingku berwarna merah, dan aku juga melihat, seorang pemuda, berambut pendek berwarna  hitam, berkulit putih pucat, dan mempunyai mata yang berwarna merah yang menyala. Tatapan yang begitu dingin bagaikan es, sehingga membuat hawa sekelilingku pun berubah menjadi dingin. Mulutnya dipenuhi dengan darah, dan saat dia membuka mulutnya, terlihat olehku, betapa tajam taring miliknya. Dia datang ke arahku, semakin lama, semakin dekat, namun aku tak bisa bisa menggerakkan tubuhku. Aku selalu mencoba untuk mengatakan tidak atau berhenti, namun tidak berhasil. Dan akhirnya, pemuda itu telah berada di depanku.

 

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 85 other followers