Aku berjalan entah kemana. Berjalan tanpa mengenal arah. Disaat aku sadar, aku tak tahu ada dimana sekarang. Kurasa, aku tadi berjalan sambil melamun. Entah apa yang sebenarnya terjadi. Ada suatu perasaan yang memanggil diriku. Dan aku, pun melihat, di depanku, terdapat pohon jati hitam yang besar namun tua. Di pohon itu, terdapat banyak sekali gigitan-gigitan besar, layaknya sebuah gigitan oleh binatang besar yang bergigi tajam. Aku ingin menyentuh pohon itu untuk melihat dan memastikan gigitan-gigitan itu, tapi, tiba-tiba, ada seseorang yang menghentikanku, memegangi tanganku sangat kuat.
“Jangan pernah menyentuh pohon itu, jika kamu tidak ingin dimangsa oleh hewan buas dari hutan ini.” tegur seorang pemuda sambil menundukkan kepalanya, dan memegangi tanganku.
“Ba, baik.” jawabku kesakitan. Kemudian, pemuda itu melepaskan tanganku.
“Kalau sudah mengerti, cepatlah kembali ke kota. Tempat ini tidak aman.” ujarnya, dan dia meninggalkan diriku sendiri disini. Kalaupun dia menyuruhku untuk kembali, bagaimana caranya kembali?.
“Sebentar, aku rasa, aku pernah melihat orang itu di suatu tempat . . .”. Dan aku mencoba mengingat kembali, dimana aku pernah melihat orang itu. Berambut pendek berwarna hitam, berkulit putih pucat, dan mempunyai mata yang berwarna merah yang menyala. “Mimpiku!” aku berteriak sendiri disaat aku berhasil mengingatnya. “Tapi, warna mata orang itu tidak merah. Lalu dia siapa?” pikirku heran. Samar-samar, aku mendegar suara seseorang yang memanggil namaku.
“Caroline . . .” suara itu menggema, entah darimana asalnya. Rasanya, suara itu berasal darimana saja. “Caroline . . .” suara itu memanggilku sekali lagi. Suara perempuan yang samar, namun terdengat sangat lembut dan lemah.
“CAROLINE!!!” teriak suara perempuan dari arah belakangku.
“Rebecca?” gumamku, sedikit ragu. Tiba-tiba, Rebecca langsung memelukku, seakan-akan dia sangat merindukan aku. “Em, Rebecca, ada apa?” tanyaku keheranan.
“Apa kau tidak sadar, Caroline?” tanya Seth yang berjalan di belakang Rebecca.
“Ehm, sadar akan apa?”
“Kau itu sudah menghilang selama satu jam!” jawab Seth.
“Satu?”
“Satu jam!” teriak Seth, meyakinkan diriku. Tunggu sebentar, satu jam? Kenapa tidak terasa ya?, pikirku sangat heran.
Lalu, aku menatap Rebecca. “Ehm, Rebecca?”
“Sudahlah, biarkan saja anak itu melepas rasa khawatirnya. Dia kan memang begitu. Dari luar, terlihat begitu kuat, begitu tegas. Tapi, kalau ada apa-apa denganmu, dialah yang paling khawatir.”.
“Oh, baiklah.” jawabku. “Lalu, apa yang akan kita lakukan selanjutnya?” tanyaku, mencoba mengubah suasana yang ada.
“Jika kulihat dari kondisi ini, satu-satunya yang terbaik adalah, kembali ke rumah.” jawab Seth, lalu mendekati diriku, dan melihat wajah Rebecca. “Kurasa, Rebecca juga sudah kecapekan karena terus-terusan berteriak untuk mencarimu.” ujarnya sambil melihat Rebecca tidur.
“Uhm . . .” tak mampu berkata, tapi hanya mampu bersuara untuk menunjukkan bahwa aku setuju dengan keputusan Seth.
“Sini.”
“Eh? Apanya?” tanyaku heran.
“Sini, biar ku gendong si Rebecca.” serunya. Aku pun memberikan Rebecca padanya, dan dia mengangkat, lalu menggendong di atas punggungnya.
Aku pun tertawa kecil. “Sudah lama ya . . .” ujarku.
“Yah, semenjak kita bertiga dulu sering bermain bersama itu, ya?”
“Iya. Nampaknya kau masih ingat, ya. Masa lalu yang indah.” Mengatakan hal itu sambil melihat ke atas, melihat langit yang biru dan luas. “Oh, ya, Seth. Apa kau tidak mengatakan perasaanmu ke Rebecca?”
“Eh! Kenapa kamu menanyakan hal itu?” tanyanya begitu kaget.
“Tidak apa-apa. Aku hanya penasaran saja.”
Seth terdiam, dia masih belum menjawab. “Belum waktunya kurasa. Suatu hari nanti, dia juga akan tahu.”
“Oh . . .”. Dan kami berjalan terus, hingga kami sampai dirumah.
***
Malam hari pun tiba. Rebecca juga sudah sadar. Kami semua memutuskan untuk melanjutkan eksplorasi kamu di hari esok. Tapi, aku masih terpikir kejadian siang hari itu. Apa yang terjadi sebenarnya dan siapakah orang itu?. Ciri-ciri orang yang tadi kutemui di siang hari, sama persis denga pemuda yang ada di dalam mimpku. Tapi, yang berbeda hanya warna matanya. Warna mata orang itu coklat muda, bukan merah menyala seperti pemuda di dalam mimpiku. Sebenarnya, siapa orang itu?. Entah mengapa, tapi wajah orang itu, semua ciri-cirinya, masih terngiang jelas di otakku.
Aku yang tak mengerti dengan apa yang terjadi, akhirnya berbaring di atas tempat tidur. “Ah, aku bingung akan semua ini . . .”. Tiba-tiba, aku mendengar suara berisik dari arah kebun. Lucas? Tak mungkin, ini kan malam hari. Dan, suara itu muncul lagi, dan tidak ada yang menydarinya.
Karena penasaran, akhirnya aku melihat dari jendela kamarku. Dari sini, aku bisa melihat, entah apakah itu, dengan mata yang menyala bagaikan lampu pijar, sedang berjalan dengan hati-hati di kebun. Tiba-tiba, makhluk itu melihat ke arahku. Secara refleks, aku langsung bersembunyi di balik dinding. Aku harus mencari Lucas!.
Aku keluar dari kamarku sambil berlari. Berlari terus, hingga ke kamar Lucas. Di depan kamar Lucas, aku mengetuk pintunya, namun tidak ada yang menjawab. Akhirnya, aku membuka kamarnya, namun dia tidak ada di sana. Kemana dia?. Tiba-tiba, aku melihat, sebuah bayangan, seperti Lucas, di halaman depan. Tanpa pikir panjang, aku mengikuti bayangan itu pergi. Terus berjalan, dan terus mengikuti, itulah yang kulakukan. Dan, saat aku tersadar, aku telah berada di hutan lagi.
“Kenapa lagi-lagi aku masuk hutan tanpa sadar?” tanyaku heran, tapi sedikit ketakutan. “Aku harus kembali.”. Tiba-tiba, aku mendengar suara geraman dari arah belakang. Aku pun langsung menoleh ke arah belakangku. Di sana, aku melihat, sebuah makhluk, seperti serigala besar, sedang menatap ke arahku dengan matanya yang menyala di antara gelapnya malam. Jadi, mata tadi itu, adalah mata makhluk ini!?.
Aku tak mengerti apa yang harus kulakukan untuk menghadapi makhluk besar seperti ini. Geramannya membuatku ketakutan hingga aku terjatuh dan duduk bersandar di pohon besar. Giginya yang tajam, penuh dengan liur, seakan-akan, aku akan dilahap habis olehnya. Makhluk itu mendekat, dan mulai membuka mulutnya. Aku bergerak menjauhinya, disaat aku menoleh lagi ke makhluk itu, dia sudah membuka lebar mulutnya dan mengarahkan serangannya padaku.
“KYAAAA!!!!” teriakku histeris, dan berharap ada seseorang yang mendengar teriakanku. Seseorang! Tolonglah aku!. Aku menutup mataku karena tak berani untuk melihat.
“Minggir kamu, anjing sialan!” tiba-tiba seseorang berteriak seperti itu, dan muncul suara keras layaknya batu besar yang menghantam pohon. Apa yang terjadi?. Aku membuka mataku perlahan, dan melihat sebuah sosok yang pernah kulihat. Orang yang tadi siang!. Orang itu sedang melihat keadaan makhluk tadi yang sekarang sedang berbaring lemas.
“Te, terima kasih.” seruku.
“Kau memegangnya, kan?”
“Eh?”
“Kamu memegang pohon yang tadi aku larang pegang, kan?” tanyanya sambil menatap sinis ke arahku.
“Entahlah, mungkin aku tidak sengaja mengenainya.” jawabku denga suara pelan.
“Pantas saja anjing ini mencarimu.” serunya. Kemudian berjalan ke arahku. “Apa kamu tahu alasan kenapa aku tidak boleh membiarkanmu memegang pohon tadi?”.
“Tidak . . .”
“Di batang pohon tadi itu terdapat sebuah cairan yang tidak terlihat. Cairan itu menimbulkan aroma yang memikat makhluk-makhluk ini untuk memakannya. Makanya, di pohon tadi itu, ada banyak gigitang besar, kan?” tanyanya, memastikan penjelasannya benar.
“Ah, ya. Kau benar.”. Aku terdiam, lalu aku berdiri dan mendekati pemuda itu. “Ma, maaf . . .”
“Ya, sudahlah. Tak apa.” jawabnya ketus.
“Hm, maaf. Kalau aku boleh tau, ini makhluk apa?”
Pemuda langsung menatap tajam wajahku, kemudian menghela nafas. “Anjing gila . . .”
“Hah? Anjing?” tanyaku keheranan.
“Ya, bukanlah! Masa’ anjing sebesar ini!!”
“Lalu, apa?”
“Likantrof.”
“Apa? Likantrof? Apa itu?” tanyaku begitu heran. Dia langsung menatapku, dan menunjukkan ekspresi kaget bercampur heran.
“Apa kamu tidak pernah membaca buku-buku novel tentang mitos ata semacamnya?”
“Eh, pernah kok! Tapi aku gak pernah dengar nama Likantrof . . .”
Dia hanya menghela nafas, kemudian memegangi kepalanya. “Werewolf, tau?”
“Oh, ya! Aku tau Werewolf!”
“Yah, dia ini Werewolf, tapi ada sedikit yang mengganjal darinya.”
“Mengganjal?”
“Yah, mengganjal.” lalu, pemuda itu mendekati serigala yg tadi terbaring lemas. “Ada yang salah darinya. Biasanya, walaupun dia mencium aroma cairan di pohon tadi, dia hanya akan mengejar aroma yg paling kuat baunya. Tapi, jika kau tadi terkena sedikit, dan itu sudah sejak siang tadi, seharusnya, aroma itu sudah berkurang banyak, dan tidak mungkin dicium lagi.”
“Lalu, kenapa serigala ini mengejarku?”
“Entahlah, mungkin ada yang memaksa serigala ini.” jawabnya. “Sudahlah. Kau juga sudah harus kembali kan? Ini sudah tengah malam.” serunya.
“Ah, kau benar. Baiklah, aku kembali.” jawabku dan berjalan membelakanginya.
“Ah, tunggu!” panggilnya, menghentikan langkahku.
“Ya?”
“Aku mohon, urusan malam ini, tolong jangan beritahu ke siapa-siapa.”
Aku terdiam, lalu menjawab, “Ya, aku tidak akan memberitahu kepada yang lain.”. kemudian, berjalan pergi, meninggalkan apa yang sudah terjadi, dan kembali ke rumah.