The Clover's Story

Just a story who made by clover

Verum January 2, 2012

Filed under: Reciprocum — Clover @ 11:52 PM

“Sebaiknya kau cepat jelaskan dengan maksudmu yang tadi!?” bentak Saynn, seorang cowok yang memiliki rambut pendek berwarna coklat tua dan bermata crimson dengan wajah yang sama dengan Nyssa itu.

“Sabar, Saynn! Jangan memaksanya begitu!” bujuk Bea, seorang cewek yang memiliki rambut panjang sepunggung berwarna hitam dengan model potongan shaggy yang bergelombang dan memiliki warna mata seperti bunga aster.

“Tenanglah, disini kita semua, termasuk aku dan Carissa, akan mendengarkan penjelasan dari Ryousen.” tanggap Fedro, lalu berbalik, dan menepuk bahu Ryousen. “Sebaiknya kamu harus menjelaskan kepada kita semua, tentang seseorang yang bernama Nyssa itu.” bisik Fedro sambil menatap Ryousen dengan lekat-lekat.

“Oh! Tunggu sebentar! Apakah Nyssa itu seseorang yang selalu muncul di mimpimu akhir-akhir ini?” tanya Carissa.

“Apa? Muncul? Memangnya apa yang terjadi?” tanggap Saynn terhadap pertanyaan dari Carissa.

“Akhir-akhir ini dia suka menggigau tentang seseorang yang bernama Nyssa, mungkinkah Nyssa itu yang kalian maksud?” tanggap Carissa.

“Memangnya Ryou pernah mengatakan Nyssa yang lain? Tidak kan?” tanya Fedro.

Ryousen, yang hanya bisa mendengar percakapan estafet mereka, tetap diam. Dia hanya menahan emosinya untuk beberapa lama. Kalau begini terus, kapan aku bisa menjelaskan semuanya!?. Tetapi, sepertinya Ryousen sudah tidak bisa lagi menaham emosinya. “DIAM!!” bentak Ryousen sambil menggebrak meja. Seketika itu juga, suasana menjadi hening. Setelah itu, Ryousen pun menghela nafas, “Bagaimana kalau kita adakan perkenalan dulu, baru kita bahas Nyssa?” usul Ryousen sambil mengelap wajahnya.

“Boleh, ide yang bagus.” tanggap Bea.

“Baiklah, mulai dari sini, aku adalah Ryousen Lumen, sementara ini adalah Carissa Mollis, dan Fedro Grandis. Di sini hanya aku yang mengenal Nyssa, karena aku adalah teman masa kecil Nyssa. Sekarang giliran kalian.”

“Biar aku yang bicara, aku takut jika Saynn yang berbicara, semua keadaan tenang ini bisa hancur seketika.” kata Bea dengan tegas sambil melihat ke arah Saynn, namun Saynn tidak berkata apa-apa dan hanya membuang muka. “Namaku Beatrix Mysticum dan dia adalah Saynn Morte, kakak dari Nyssa Morte. Kami ditugaskan ke kota kalian untuk mencari tahu akan tindakan yang dilakukan oleh guild Luxuriant Torquent.”

“Dan juga untuk mencari tahu akan keberadaan Nyssa?” tanya Ryousen mencoba menebak.

“Ya, itu juga salah satu tujuan kami datang ke sini.” jawab Bea.

“Sebentar”, lalu Ryousen menundukkan kepalanya sambil berpikir. “Aku masih belum mengerti, kenapa ada kakak adik yang berada di guild yang berbeda dan saling bermusuhan?”

“Itu semua kesalahan ayah kami. Dia yang memisahkan kami.” jawab Saynn.

“Atas dasar apa kalian bisa berpisah?” tanya Carissa dengan polosnya.

“Seingatku Nyssa pernah mengatakan sesuatu tentang sebuah kekuatan.” tanggap Ryousen.

Saynn, menyandarkan dirinya di tempat duduk. “Dan aku tidak diberi penjelasan apapun tentang kekuatan itu oleh ayah. Dia langsung membawa paksa Nyssa pergi saat dia mengetahui tentang sebuah kekuatan.” lalu dia duduk dengan tegap, dan menundukkan kepalanya. “Seingatku, saat itu dia mengatakan kekuatan untuk merubah dunia.”

Ryousen langsung memberikan ekspresi herannya. “Kekuatan untuk merubah dunia? Apa itu mungkin?”

Saynn kembali menyandarkan dirinya di tempat duduk, kemudian merenggangkan tangannya ke atas. “Entahlah, aku juga tak tahu. Sekarang giliranmu untuk bercerita.”

Ryousen, menundukkan kepalanya sejenak, lalu menyandarkan dirinya di tempat duduk. “Nyssa, aku pertama kali bertemu dengannya saat 5 tahun yang lalu di Viculum, desaku yang lama.”

“Viculum!?” tanya Bea dengan kaget. “Bukankah kota itu sudah tidak ada? Dan tak ada yang selamat dari bencana yang dialami oleh desa itu, kan?”

“Ya.” jawab Ryousen dengan tegas, lalu menghadap ke arah Bea. “Ada beberapa yang selamat, tapi mereka semua mengalami hilang ingatan, dan satu lagi, desa itu tidak mengalami bencana, tapi Nyssa yang membakar satu desa beserta isinya.”

“Nyssa!?” Saynn langsung duduk dengan tegap. “Bagaimana bisa dia membakar satu desa beserta isinya!? Bukankah dia masih kecil?”

“ Ya, tapi kenyataannya, desa itu hancur ditangannya, karena permintaan ayahnya, seingatku.”

“Lalu? Apa yang terjadi selanjutnya?” tanya Saynn penuh penasaran.

“Entahlah, sepertinya Nyssa melakukan sesuatu dengan ingatanku. Yang kuingat setelah itu, aku berada jauh dari Viculum, lalu aku diambil oleh seseorang, dan dibawa ke sini, Proturbo.”

“Jadi, hanya sampai situ saja? Baiklah, ayo kita pergi Bea.” ajak Saynn lalu dia berdiri dan pergi menuju pintu.

“Saynn!” teriak Bea.

“Apa? Kita sudah mendapatkan info kan? Jangan membuang waktu Bea, kita harus bergerak lebih cepat daripada Luxuriant Torquent.”

Ryousen tiba-tiba berdiri. “Kemana kau akan pergi?”

“Tentu saja kembali ke Sancta Defendit. Memang ada apa?”

Ryousen terdiam sejenak, berpikir. “Jika aku ikut kamu, bukan, jika aku bergabung ke Sancta Defendit, apa mungkin aku bisa bertemu dengan Nyssa lagi?”

“Ryou!!” teriak Carissa dan Fedro secara bersamaan dengan kagetnya.

“Apa mungkin bisa?” tanya Ryousen sekali ke Saynn dengan mata lurus menghadap Saynn.

Saynn masih diam sambil menatap Ryousen, kemudian dia menundukkan kepalanya beberapa lama dan mengangkatnya. “Tergantung dari quest yang kita dapat. Mungkin saja kita bisa bertemu dengan Nyssa saat kita menjalankan quest, tapi kemungkinan itu sangat kecil, apa kau bisa menerimanya?”

“Tapi kemungkinan untuk bertemu dengan Luxuriant Torquent cukup besar, kan?”

“Kurasa demikian.”

Ryousen berjalan perlahan mendekati Saynn, lalu berkata “Aku ikut.” dengan tegas.

“Tunggu dulu, Ryou! Apa kamu bermaksud untuk meninggalkan kota ini!?” bentak Fedro.

“Ya, walaupun kecil kemungkinan untuk bisa bertemu kembali dengan Nyssa, tapi aku akan cari terus informasi tentang dirinya.” jawab Ryousen.

“Ryou, apakah Nyssa, lebih penting daripada kami? Daripada kota ini? Daripada orang-orang yang mencintaimu di kota ini?” tanya Carissa, dengan penuh khawatir sehingga dia menggenggam kuat kedua tangannya.

Ryousen masih terdiam, dia menutup matanya sejenak, lalu membukanya kembali. “Ya, dia lebih penting dari apapun yang kumiliki sekarang, karena dia istimewa.”

“Baiklah, sudah kuputuskan! Jika Ryou pergi, maka aku pun juga pergi!” kata Fedro dengan penuh semangat.

“A, aku juga!” Carissa masih menggenggam tangannya.

“Terima kasih kalian berdua, tapi apa kalian yakin dengan keputusan ini? Apalagi kamu Carissa.”

Fedro mendekati Ryousen lalu dia menepuk bahunya. “Apa kau lupa, kita ini sahabat kan?” tanyanya dengan senyuman yang lebar. “Bagaimana denganmu, Carissa?”

Carissa perlahan mendekati Ryousen, “Aku ingin pergi kemana pun kau pergi. Aku ingin bersama kalian.”

“Baiklah kalian, kemasi barang-barang kalian sekarang, dan istirahatlah yang cukup. Besok pagi, kita akan berangkat ke Sancta Defendit!” ajak Bea dengan nada semangat, lalu dia berjalan ke arah Saynn, dan bersender kepadanya. “Kau tidak keberatan kan, jika kita membawa para calon anggota baru ini?”

“Ya, selama mereka benar-benar bisa membantu.”

“Ah, Saynn, Bea, kalian bisa bermalam di rumah kami kok.” tawar Ryousen.

“Terima kasih!” kemudian Bea membawa paksa Saynn masuk ke dalam.

 

Explicatio October 7, 2011

Filed under: Reciprocum — Clover @ 10:19 PM

“Ukh…” keluh Ryousen sambil terbangun dari tidur paginya. Kejadian kemarin itu nyata kan?. Lalu dia melihat keluar jendela. Ya, kejadian itu memangnya nyata, bangunan itu masih hancur. Lalu Ryousen turun dari kasurnya dan berjalan keluar dari kamarnya.

“Ah! Ryousen! Kau sudah bangun!?” teriak seorang gadis dari lantai bawah.

“Carissa…” kata Ryousen sambil memegangi kepalanya. Entah kenapa rasanya ini seperti Déjà vu bagiku.

Carissa berlari mendekati Ryousen lalu memegangi tangan Ryousen. “Maaf, Ryousen, tapi sarapannya belum jadi, tunggulah sebentar lagi, ya?”

“Tenang, Carissa, aku akan menunggunya di bawah kok.” jawab Ryousen dengan tenang.

***

“Masakannya sudah jadi, Ryousen!” teriak gembirang Carissa.

“Oh, ya, terima kasih, Carissa.” balas Ryousen sambil mengambil makanan dari Carissa. “Maaf sudah selalu merepotkanmu, Carissa.” sambil tersenyum.

“Oh, it, itu bukan masalah besar kok, Ryousen! Aku senang bisa selalu bersamamu, mak, maksudku membantumu!” jawab Carissa terbata-bata dengan wajah merah padam.

“Wajahmu merah Carissa, apa kau beneran tidak apa-apa?” tanya Ryousen.

“A, aku tidak apa-apa…” jawab Carissa tersipu malu sambil menundukkan kepalanya dan melanjutkan makannya.

“Oh, baiklah.”. Untuk sekarang mungkin aku masih bisa tenang, tapi aku harus memulai mencari tahu akan guild Luxuriant Torrquent.

Tiba-tiba pintu depan terbanting keras. Siapa!?. “Yo, Ryou! Waktunya sarapan pagi! Aku numpang minta makan, ya!” teriak Fedro sambil memasuki ruang makan. Saat itu juga, suasana langsung membisu.

“FEDRO!! Ketuk dahulu sebelum masuk! Harus kubilang berapa kali agar kamu bisa mengerti, hah!?” bentak Carissa sambil membanting meja.

“Aah, sudahlah, kau diam saja, aku kan tidak merusak apapun disini…” jawab Fedro dengan santai.

“Tidak merusak, katamu!? Coba kamu lihat pintu yang tadi kamu banting!! Apa itu tidak rusak!?” bentak Carissa dihadapan Fedro sambil menunjuk pintu masuk yang tadi dia banting.

“Kan hanya pintu!! Itu bisa diganti!!”

“Walaupun bisa diganti, tapi tetap saja kau merusak namanya!!”

“Halah, bilang aja kamu marah karena aku sudah merusak suasana romantismu itu, kan!? Gak usah bohong, deh!!”

“Fedro, hentikan!! Aku marah bukan karena itu!!”

Ryousen, terus melanjutkan makannya tanpa menghiraukan pertengkaran mereka. Ryousen melihat ke arah meja makan terus menerus, seakan-akan tidak melihat mereka yang saling bentak-membentak. Entah sampai kapan mereka akan terus seperti ini?, keluh Ryousen.

“Haaah!! Sudahlah, berikan aku makan saja, gitu aja kok repot!?” bentak Fedro sambil mengambil makanan dari meja makan.

“Fedro!!”

“Carissa, sudahlah, biarkan saja dia. Bukankah dia memang sudah seperti itu dari dulu?” bujuk Ryousen ke Carissa.

“Baiklah, jika Ryousen berkata demikian…” balas Carissa sambil duduk dan melanjutkan makannya.

Fedro menepuk bahu Ryousen, “Terima kasih ya atas pembelaanmu!”

“Aku tidak membelamu, bodoh.” balas Ryousen dengan sedikit rasa sebal.

“Hahahaha!! Oh, ya, Ryou, apa kau sudah tahu tentang orang-orang yang menyelidiki tentang bangunan yang meledak kemarin?” tanya Fedro sambil menggeret kursi lalu duduk di sebelah Ryousen.

“Oh, kejadian kemarin! Kabarnya tidak ada yang tahu siapa yang telah menyebabkan itu, makanya para prajurit tentara yang menyelidikinya menganggap itu hanyalah kecelakaan biasa.” sahut Carissa menanggapi pertanyaan Fedro.

“Walaupun mereka anggap kecelakaan biasa, tapi aku merasa ada orang-orang yang sengaja melakukan hal ini semua.” kata Fedro sambil memakan dengan lahap makanannya.

“Luxuriant Torquent” kata Ryousen, dengan nada kecil.

“Eh?” Fedro dan Carissa bersamaan menunjukkan wajah heran. Mereka langsung terdiam.

Ryousen mengangkat kepalanya, lalu menghadap ke depan sambil menunjukkan wajah serius. “Orang-orang yang ada di balik semua kejadian ini adalah Luxuriant Torquent. Merekalah yang harus bertanggung jawab!”

“Hey, Ryou, apa kamu yakin dengan ucapanmu itu?” tanya Fedro dengan santainya. “Apa kau punya bukti atas tuduhanmu itu?”

“Tidak! Untuk sekarang aku memang tidak punya bukti, tapi aku akan mencarinya!” jawab Ryousen dengan semangat. “Aku akan mencarinya sekarang!” lalu dia pergi dengan tergesa-gesa.

“O, oi! Ryou! Bagaimana dengan sarapanmu!?” Fedro sambil berusaha mengejar, namun terlambat, Ryousen sudah berlari keluar rumah.

“Nanti saja makannya!” teriak Ryousen dari kejauhan.

“Ryou!!” teriak Carissa dari pintu rumah, namun suara itu tidak bisa sampai ke Ryousen.

“Cih, sebenarnya ada apa sih dengan anak itu! Tiba-tiba saja dia berubah jadi seperti ini…” ujar Fedro sambil menggaruk-garuk kepalanya. “Carissa, kamu jaga rumah ya! Aku akan menyusul Ryou, gak akan lama kok!” ucap Fedro, lalu meninggalkan Carissa sendiri.

***

Ryousen, dengan nafas terengah-engah, sampai di tempat kejadian. “Jadi ini, gedung yang di ledakkan oleh Luxuriant Torquent? Aku harus cari bukti kalau mereka yang melakukannya. Tapi dimana?” guma Ryousen ke dirinya sendiri. “Sepertinya aku harus masuk ke dalam gedung untuk melihat dan mencari buktinya.” kata Ryousen menjawab pertanyaannya sendiri.

Lalu, dia melihat ke arah pintu masuk gedung itu. Sial, masih ada prajurit pula!. Lalu dia melihat sekelilingnya. Tiba-tiba Ryousen melihat sesuatu yang menarik baginya. Ah! Jendela belakang! Bagus!. Kemudian, Ryousen berjalan pelan-pelan melewat satu persatu prajurit tanpa diketahui. Dan dia menyelinap masuk ke dalam gedung melewati jendela tua yang berada di belakang gedung itu.

“Buh! Ternyata gedung ini banyak sekali debunya!” keluh Ryousen saat dia memasuki gedung tua itu. Di dalam gedung itu, terdapat banyak kotak-kotak tua yang terbuat dari kayu, debu yang berterbangan dimana-mana, dan sarang laba-laba yang terdapat dimana-mana. “Lalu, apa yang dapat membuat gedung ini meledak, ya?”. Kemudian, dia berjalan-jalan mengelilingi.

Karena penasaran, akhirnya Ryousen melihat salah satu isi kotak yang ada dengan cara membuka paksa tutup kotaknya. “Bwah!! Debunya!!” lalu dia mengambil satu barang yang ada di dalamnya. “Tunggu sebentar! Ini kan tepung! Jadi ini gudang tepung?” tanya Ryousen kepada dirinya. Tiba-tiba, dia tersentak kaget, dia menyadari sesuatu. “Tunggu sebentar, jika ini adalah tepung…”.

Dia langsung berkeliling, dan mendekati area ledakan sambil melihat-lihat sekelilingnya. “Itu dia!” teriaknya sambil berlari menuju ke benda kecil berwarna gosong yg tergeletak di lantai. “Ini dia, alat pematik apinya.” gumamnya. Lalu, dia kembali ke tempat kotak yang tadi dia buka paksa. “Jika dugaanku ini benar, maka penyebab kebakaran ini adalah, tepung dan pematik api ini.” Ryousen membuka salah satu tepung yang dibungkus, dan dia mengambil segenggam penuh tepung itu. “Jika konsentrasi tepung di udara sangat tinggi, itu sama saja seperti gas peledak. Lalu, jika ada orang yang melempar pematik apinya, maka…”

Belum selesai dengan hipotesanya, tiba-tiba Ryousen merasakan adanya hawa manusia dibelakangnya. Siapa!?. Ryousen langsung menghadap ke belakang, dan dia melihat seseorang yang sedang memakai jubah hitam sambil mengarahkan sebuah pedang sedang ke Ryousen. Seketika itu juga, Ryousen langsung menghindarinya. “Uwaaw!” teriak Ryousen. Orang itu masih belum menyerah, dia mencoba menyerang secara brutal ke arah Ryousen, hingga benda-benda di sekeliling Ryousen pun hancur akibat serangannya.

“Tunggu! Tunggu sebentar! Kau siapa!?” teriak Ryousen sambil menghindari semua serangannya.

“Kau tidak perlu tahu! Yang perlu kau ketahui adalah, saat ini juga kau harus mati!!” jawab orang itu sambil berbicara dengan keras.

Ryousen terus menghindari semua serangannya, hingga dia terjatuh karena terpeleset oleh serbuk-serbuk tepung yang ada. Belum sempat bangun dari jatuhnya, pedang itu sudah melesat ke arahnya. “Gah!!” teriaknya sambil menutup matanya. TANG!! Terdengar bunyi sangat keras di depan Ryousen , dan Ryousen pun langsung menunjukkan ekspresi kaget. “Fedro!? Ba, bagaimana kau bisa kesini!?” tanya Ryousen penuh keheranan sambil melihat Fedro sedang menahan serangan dengan menggunakan pipa besi.

“Sekarang bukan waktunya basa-basi, Ryou! Cepat ambil senjatamu, kita kalahkan orang ini bersama!” jawab Fedro. Seperti apa yang dikatan Fedro, Ryousen pun mengambil sebuah pipa logam, dan mengarahkan serangannya ke orang tadi. Namun percuma, orang itu dapat menghindarinya dan memukul jauh Ryousen hingga dia terpental dan mengenai tumpukan kotak-kotak yang ada di belakang.

“Ryou!!” teriak Fedro sambil berlari ke arah Ryousen.

“Jangan bergerak!!” bentak orang itu sambil mengarahkan pedangnya ke arah Fedro, menghetikan gerakan Fedro. Sekarang, baik Ryousen maupun orang itu, saling menatap satu sama lain. Ekspresi wajah Ryousen penuh dengan amarah dan emosi, namun ekspresi wajah orang itu tak dapat dilihat karena tertutup oleh tudung dari jubah bajunya itu.

“APA KAU BERASAL DARI LUXURIANT TORQUENT!!?” bentak Ryousen dan orang itu bersamaan. “Eh?” lalu mereka terdiam, kaget akan pertanyaan yang dilontarkan secara bersamaan itu.

“Eh, kau bukan dari Luxuriant Torquent?” tanya orang itu penuh heran.

“Bukan, aku cuma penduduk kota ini, kau sendiri?” jawab Ryousen yang juga penuh dengan keheranan.

“Tentu saja bukan! Aku malah harus menangkap Luxuriant Torquent!” bentak orang itu.

“Intinya, kamu tetap salah sasaran, iya bukan, Saynn?” tanya seseorang dari arah belakang orang yang berjubah hitam itu.

“A, aku tidak salah kok, Bea! Mungkin…” jawab orang yang berjubah hitam itu, mencoba mengelak.

“Gak salah gimana? Jelas-jelas ini adalah penduduk kota ini yang kamu serang secara brutal. Bagaimana sih kamu itu?” keluh seseorang yang bernama Bea itu.

“Tunggu sebentar, jadi kalian semua itu siapa? Dan darimana kalian itu?” tanya Ryousen penuh heran.

“Maafkan atas ketidaksopanan temanku tadi. Kami dari Sancta Defendit. Kami berdua mendapatkan tugas untuk menangkap anggota dari guild Luxuriant Torquent. Namaku adalah Beatrix Mysticum. Dan dia adalah…”

“Saynn, Saynn Morte.” jawab orang  yang berjubah tadi sambil membuka tudung jubahnya itu.

“Eh? Morte?” tanya Ryousen lalu menatap wajah Saynn dengan teliti.

“Iya, Morte, apa yang salah?” Saynn bertanya kembali.

“Ah, Nyssa!” Ryousen berteriak sambil menyebutkan nama tersebut. Tiba-tiba saja Saynn langsung mendekatkan mata pedangnya ke arah leher Ryousen.

“Bagaimana kau bisa tahu nama itu? Bagaimana kau bisa mengenal Nyssa!?” bentak Saynn dengan wajah dan tatapan dingin ke arah Ryousen.

“SAYNN!! Hentikan!!” teriak Bea sambil memegangi tangan Saynn. “Dia bukan Luxuriant Torquent!!”

“Lalu kenapa dia bisa tahu nama itu!? Kenapa dia bisa kenal Nyssa!?” bentak Saynn.

“Tu, tunggu! Aku bisa kenal Nyssa karena dia adalah teman masa kecilku! Aku bisa menjelaskan semuanya!” balas Ryousen sambil berusaha untuk bernafas.

“Apa? Teman masa kecil?” tanya Bea dan Saynn secara bersamaan.

“Ehm, kalian berdua, bagaimana kalau kita bicara baik-baik di rumah kami? Sebelum para prajurit masuk ke dalam sini karena keributan yang dilakukan oleh temanmu itu, nona.” bujuk Fedro.

“Baiklah, ide yang bagus. Bawa kami berdua ke rumahmu. Aku ingin dengar, penjelasan apa yang bisa dikatakan oleh orang ini.” balas Saynn sambil mengambil pedangnya tadi, menyetujui apa yg diusulkan Fedro.

“Baiklah, ayo ke rumahku.” ajak Ryousen.

 

Chapter: 4 Festival (akhir) August 3, 2011

Filed under: The Chosen,The Journey — Clover @ 6:59 AM

Alverina, setelah berjalan bergitu tergesa-gesa, dia akhirnya mencapai Quarter State. Di sana, dia tidak langsung mencari keberadaan Alice, namun dia pergi mencari ibunya, Nadelle. Untuk mencari ibunya itu, bukanlah hal yang sulit baginya. Cari saja pedagang yang hanya akan menjual apel merah saja!, pikirnya. Tepat seperti apa pikirnya, yang hanya akan menjual apel merah adalah ibunya, tak ada yang lain. Alverina langsung mendekati Nadelle.

“Ibu!” sapa Alverina dari kejauhan.

“Alve! Dari mana saja kau?” balas Nadelle dengan penuh senyuman rasa bersyukur karena bisa bertemu dengan anaknya kembali.

“Ibu, apa ibu tahu, dimana Alice?” tanya Alverina tanpa basa-basi dahulu.

“Kenapa kau terlihat begitu tergesa-gesa?” tanya Nadelle.

“Yah, lebih baik, daripada harus mendengar ceramah dari si nenek tua itu . . .”

“Alve . . .” seru Nadelle.

“Apa? Benar, kan? Ratu kan memang sudah tua . . .” jawab Alverina ketus. Tiba-tiba, mereka tersentak kaget, entah karena apa. Lalu mereka terdiam agak lama.

“Alve, mungkin ini hanya perasaan ibu saja, atau . . .”

“Tidak.” ujar Alve mencela omongan dari Nadelle. “Ini memang hawa sihir dari Dia.”

“Ibu punya firasat buruk.”

“ALICE!! Ibu, dimana Alice!?” teriak Alverina begitu histeris.

“I, ibu tidak tahu. Yang ibu tahu, nona Alice sedang berjalan berdua bersama Chess. Apa jangan-jangan mereka ke White Area?” gumam Nadelle.

Alverina, langsung pergi meninggalkan Nadelle. “Aku pergi sebentar!” teriak Alverina dari kejauhan sambil berlari. Alverina terus berlari hingga mencapai depan hutan yang ada di White Area. Tanpa berkata apapun, Alverina langusung memasuki hutan tersebut. Beberapa saat kemudian, Alverina telah sampai di halaman istana yang ada di dalam White Area.

Saat memasuki halaman istana tersebut, Alverina melihat tubuh Alice dan Chessure sedang berbaring di halaman istana. Namun Alverina, tidak langsung medekati mereka. Dia masih menunggu sesuatu.

“Aku tahu, kau masih disini . . .” ujar Alverina. Namun, tak ada yang menanggapi hal tersebut. “Jika kau tidak mau keluar dan menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi, aku tidak akan mengunjungimu lagi . . .” ancam Alverina.

Tiba-tiba, kelopak semua bunga-bunga mawar putih berterbangan, membentuk sebuah tubuh, dan saat bunga-bunga itu berjatuhan ke tanah, muncullah seorang perempuan yang sama seperti Alverina. Dia memiliki rambut yang sama panjang seperti Alverina, hanya saja warna rambutnya berwarna putih. Matanya berwarna purplish atau disebut juga, agak keunguan. Kulitnya putih dan terasa dingin. Perempuan itu hanya tersenyum manis ke arah Alverina.

“Kenapa kamu bisa tahu, kalau aku disini, Alve?” tanya perempuan itu.

“Oh, ayolah White Rose. Hawa menusukmu tidak pernah bisa pergi dariku.”

“Wah! Hebat!” balas White Rose sambil menepukkan tangannya.

“Haah, kau semakin menambah pekerjaanku, White Rose . . .” keluh Alverina sambil mencoba menggotong tubuh Alice dan Chessure bersamaan, namun dia tidak bisa.

“Kenapa kau tidak memanggil namaku saja, Alve?”

Alverina terdiam, dia masih menatap ke tanah. “Aku tidak ingin ada yang tahu.”

“Tidak akan ada yang tahu, kok! Aku jamin!”

Alverina masih terdiam, tidak berbicara. “Tidak bisa, untuk sekarang, aku masih belum bisa memanggil namamu.”

White Rose hanya menggangguk. “Baiklah, tapi kau selalu tahukan, kalau aku selalu membenci julukanku itu?”

“Yah, aku tahu itu. Nah, sekarang White Rose, kurasa kau bisa pergi. Aku akan membangunkan Alice dan Chess, karena aku tidak bisa membawa mereka.”

“Baiklah, tapi berjanjilah kau masih akan terus mengunjungiku . . .”

“Ya” jawab Alverina begitu singkat, dan sosok White Rose telah menghilang dari pandangan Alverina.

***

“Chess! Chess!!” teriak Alverina sambil mengguncang-guncangkan tubuh Chessure.

“Ukh, Alve?” tanyanya sambil memegangi kepalanya. “Kenapa aku ada disini?”

“Seharusnya aku yang bertanya begitu. Sudah, sekarang cepat bawa Alice pergi dari sini.”

“Sini?” tanya Chessure setengah sadar. Lalu, dia melihat sekelilingnya. “Tunggu sebentar! Ini, bukannya White Area!? Kenapa aku bisa ada-“

Alverina langsung membungkam mulut Chessure. “Aku bilang, cepat bawa Alice, dan pergi dari sini, mengerti?” bisik Alverina sambil menatap Chessure lekat-lekat. Chessure hanya bisa menganggukan kepalanya saja. “Baguslah.” Alverina melepaskan bungkamannya dan membalikkan badannya, lalu pergi meninggalkan Chessure.

Chessure menggendong Alice, dan berjalan mengikuti Alverina. Mereka berjalan keluar dari hutan, dan tepat di depan hutan itu, ada Nadelle, sedang berdiri sambil tersenyum, seakan-akan sedang menunggu mereka.

“Selamat datang kembali.” Sapa Nadelle sambil tersenyum lebar ke arah mereka.

“Ah, bibi Nadelle . . .” kata Chessure. Nadelle langsung mendekati Chessure.

“Hm, nona Alice tampaknya terlihat sangat kelelahan, ya?” seru Nadelle.

“Uhm, ini, sebenarnya . . .”

“Ibu, dimana tempat untuk membaringkan Alice?” tanya Alverina, mencela ucapan yang akan keluar dari mulut Chessure.

“Hm . . . Bawa saja ke toko ibu!” ujar Nadelle. “Ayo, Chess, ikuti aku.” ajak Nadelle.

“Ah, ya!” jawab Chessure.

Alverina, masih belum bergerak. Dia masih diam di tempatnya. “Tenanglah, aku pasti akan membalas semua perbuatan mereka kepada kita.” gumam Alverina, lalu menoleh ke belakang. Tepat, di antar pepohonan yang gelap itu, terdapat sosok White Rose yang sedang berdiri.

“Dan, jika saat itu tiba, aku pasti akan membantu, Alve.” sahut White Rose. Alverina pun membalikkan badannya, dan berjalan pergi, meninggalkan White Area dan juga, White Rose.

***

“Uukh . . .” keluh Alice sambil terus memegangi kepalanya.

“Nona Alice! Anda sudah sadar!?” tanya Chessure begitu senang.

“Ini dimana? Apa yang terjadi?” tanya Alice dengan nada yang lemah.

“Anda ada di tokoku, nona Alice. Silakan diminum dulu.” jawan Nadelle lembut sambil memberikan secangkir teh hangat ke Alice.

“Ah, ya, terima kasih bi.” jawabnya lemah sambil meminum teh hangat tersebut.

“Sepertinya kau tidak pintar dalam memata-matai orang ya, Chess?” ejek Alverina yang tiba-tiba muncul.

“Cih! Lalu kenapa? Gak ada hubungannya denganmu, kan?” tanya Chessure, mengelak dari ejekan Alverina.

“Sudah, hentikan kalian berdua! Sejak kecil selalu saja begini.” keluh Nadelle menanggapi percakapan antara Alverina dan Chessure. “Oh, ya, Alve, darimana saja kamu?”

Alverina langsung menghadap ke arah luar toko. “Tuh, festival.”

“Festivalnya sudah dimulai!?” tanya Alice begitu kaget.

“Sudah, nona tidur.” ejek Alverina.

Alice langsung berdiri, dan menarik tangan Chessure. “Ayo, Chess! Pergi denganku!” ajak Alice dengan semangat.

“Ah, tapi nona, apa anda sudah baikan?”

“Kalo Alice, gak usah kamu khawatirkan, dia selalu baik-baik saja kalo ada festival seperti ini.” jawab Alverina.

“Kau tidak ikut, Alve?”

Alverina masih terdiam. “Tidak, nanti saja, saat api unggunnya sudah nyala, aku akan ke sana dengan ibu.”. Alverina langsung berjalan mendekati ibunya. “Aku akan membantu ibu berjualan.”

“Oh, begitu, baiklah! Ayo pergi, Chess!” teriak Alice dengan semangat sambil terus menarik Chessure, berjalan pergi dari toko.

***

Waktu menunjukkan pukul 9, dan waktunya api unggun dinyalakan. Alice dan Chessure sudah berada di tempat api unggun dinyalakan, namun mereka masih belum melihat Alverina dan juga ibunya, Nadelle.

“Mana Alve?” tanya Alice sambil melihat sekeliling.

“Entahlah, mungkin belum datang.” jawab Chessure yang juga melihat sekeliling. Tak lama kemudian, Alverina dan Nadelle muncul dari kejauhan. “Itu mereka berdua!”

“Alve! Alve! Sini!” teriak Alice sambil melambai-lambaikan tangannya. Alverina dan Ibunya, yang melihat lambaian tanga Alice, langsung mendatangi mereka berdua.

“Bagaimana? Sudah berkeliling?” tanya Alverina ke arah Alice.

“Sudah!” jawab Alice dengan semangat.

Tak lama kemudian, api unggun pun dinyalakan. Api yanga berwarna terang, menyinari malam yang gelap dan menghangatkan hawa malam yang dingin. Orang-orang yang awalnya hanya berdiri, perlahan mulai mendekati, dan mengelilingi api unggun tersebut. Kemudian,  mereka semua menari bersama-sama.

Alverina, yang awalnya melihat ke arah api unggun, langsung menoleh ke arah Alice. “Kau tidak ingin ikutan menari?”

“Eh? Aku?” tanya Alice dengan kaget.

“Iya, kamu.” jawab Alverina. “Kalau mau nari, jangan ajak aku intinya.”

“Hm, lalu aku nari dengan siapa?”

“Sendirian? Tidak mau?” tanya Nadelle.

“Sendirian itu tidak seru, bi. Bagaimana kalau dengan bibi?” tanya Alice sambil tersenyum lebar.

“Ah, tidak, terima kasih. Bibi hanya ingin melihat saja.” jawab Nadelle dengan lembut.

“Kalau begitu…” gumam Alice. Alice, Alverina, dan Nadelle, serempak langsung melihat ke arah Chessure. Chessure, yang masih melihat ke arah api unggun, tiba-tiba merasa hawa yang tidak enak. Kok, rasanya ada yang aneh ya? . Lalu, dia menoleh ke arah Alice.

“Kau harus menari denganku!” kata Alice secara tiba-tiba di depan muka Chessure.

“Huwa!!” teriak Chessure kaget sambil menjauh. “Kenapa aku!?”

“Oke! Sudah diputuskan, bahwa Chessure yang akan menemani Alice! Berjuanglah!” sahut Alverina sambil menepuk punggung Chessure.

“Ayo kita menari!” ajak Alice sambil menarik paksa Chessure.

“Kenapa aku lagi!? Alve!!” teriak Chessure dari kejauhan.

“Akhirnya, tenang juga.” kata Alverina sambil menarik sebuah kursi ke dekat ibunya, kemudian mendudukinya. “Sudah lama ya, bu, kita tidak bersama seperti ini.”

“Kau benar, sudah lama sekali, kita tidak berbicara seperti ini. Selama ini kau selalu tidak mengkabariku, kemana saja kau?”

“Aku selalu sibuk, bu.” jawab Alverina singkat.

Suasana diantara Alverina dan Nadelle manjadi diam. “Alve, tadi kau bertemu dengan Dia, kan?” tanya Nadelle dengan lembut, namun pandangannya tetap ke arah api unggun.

Alverina masih tidak menjawab. “Iya, aku bertemu dengan Dia.”

“Bagaimana keadaannya Dia sekarang?”

“Baik, seperti biasanya.”

“Alve…”

“Iya bu?”

“Saat ibu lihat festival ini, ibu jadi teringat akan kenangan 10 tahun yang lalu. Kau masih kecil, bermain dan menari bersama Chessure dan Dia. Semuanya terlihat begitu indah…”

“Dan juga ada ayah…” saut Alverina, dengan wajah yang sedih.

“Ya, begitulah. Namun semua itu hanya bisa jadi kenangan ya, Alve…”

“Ya, hanya menjadi kenangan terindah yang terakhir…”

 

Obviam Redimus March 5, 2011

Filed under: Reciprocum — Clover @ 6:16 PM

“NYSSA!!!” teriak anak lelaki sambil terlonjak dari kasurnya. Dia terdiam sejenak, lalu memegang kepalanya. Mimpi saat itu lagi. Lalu dia menoleh ke arah jendela yang tepat berada di sebelah kirinya. “Dimana dia sekarang?” gumamnya.

“Kau sudah bangun, Ryousen?” tanya seorang perempuan yang sebaya dengannya.

“Carissa…” kata anak lelaki tersebut, Ryousen, sambil menoleh ke arahnya.

Carissa memasuki ruangan tersebut sambil membawa makanan lalu menaruknya di atas sebuah meja. “Hah, dasar kau itu, kenapa tiap pagi kau selalu menggigau sih? Kau juga selalu menyebutkan sebuah nama yang sama. Memangnya dia siapa?” tanya Carissa dengan nada kesal sambil menarik sebuah kursi ke dekat Ryousen dan mendudukinya.

“Apa kau tidak ingat akan Nyssa?” tanya Ryousen.

Carissa menggelengkan kepalanya. “Tidak, memangnya dia siapa?”

“Oh, tidak, bukan apa-apa.” jawab Ryousen, dan dia menoleh ke arah jendela lagi.

“Ya, sudahlah, jika kau tidak mau cerita. Tapi, ingat! Hari ini adalah festival kota! Kau harus menghadirinya, karena kau adalah ksatria yang dibanggakan di kota ini.” Carissa berjalan keluar ruangan tersebut. “Aku tunggu dibawah ya, Ryousen. Jangan lama-lama!” dan dia menutup pintu ruangan itu.

Ryousen masih terdiam saat itu. Lalu, dia menuruni kasurnya dengan sangat perlahan. “Sebenarnya, kau ada dimana, Nyssa?”.

***

Ryousen keluar dari rumahnya, dan memandang ke langit. Lalu dia mendengar sebuah langkah kaki yang beraasal dari sampingnya. “Ryousen!” panggil Carissa, lalu menarik lengan Ryousen. “Ayo cepat ke sini!” ajaknya dengan gembira. Ryousen pun mengikutinya.

Mereka berjalan ke tengah kota yang begitu ramai. Banyak pedagang yang berjualan berbagai macam. Tiang-tiang lampu yang di pasangi bendera yang berwarna-warni, dan parade para pemusik jalanan yang tersebar dimana-mana, membuat kota terasa begitu menyenangkan. “Bagus kan, Ryousen?” tanya Carissa.

“Hm, oh, ya.” jawab Ryousen tidak semangat.

“Kau kenapa sih?”

“Ah, tidak apa-apa.”

Tiba-tiba, segerombolan orang mengahmpiri Ryousen. “Ryousen! Kau hebat! Kau telah menjadi ksatria hebat ya!” tegur sesorang, dan ada pula yang memujinya. Semakin lama, semakin banyak orang yang datang, dan itu membuat Carissa dan Ryousen terdesak. Carissa yang ketakutan karena desakan tersebut, terus memegang erat lengan Ryousen.

“Hey, hey, berhentilah mendesak Ryou seperti ini!” teriak seseorang dari luar kerumunan.

“Fedro!” teriak Carissa.

“Sudah, cepat kalian bubar!” bentak Fedro ke arah kerumunan orang-orang itu, dan mereka pun membubarkan dirinya.

“Fedro, terima kasih, seperti biasa, kau selalu menolongku menghadapi mereka.” kata Ryousen.

“Ah, bukan masalah, dan seperti biasa ya, kau selalu mesra dengan Carissa.” goda Fedro.

“Fedro!!” bentak Carissa dengan wajah begitu merah.

Ryousen melihat wajah Carissa. “Kau sakit, Carissa?” tanya Ryousen yang sedang heran mengapa Carissa berwajah merah.

“Ti, tidak! Aku tidak sakit! Aku baik-baik saja!” jawab Carissa terbata-bata.

“Kau bohong lagi…” goda Fedro.

“Hentikan, Fedro!” bentak Carissa sambil memukuli Fedro dengan ringan.

Ryousen hanya bisa tertawa melihat tingkah mereka yang lucu. Tiba-tiba, Ryousen menghentikan tawanya, dan melihat sekelilingnya. Perasaan ini!. Ryousen berlari ke arah sebuah pedagang buah, dan disana dia melihat sebuah sosok orang yang bertudung sedang membeli sebuah apel. Siluet itu…. Ryousen membututi orang tersebut dengan diam-diam, dan terus mengikutinya, hingga ke luar dari area kota. Dia mengepalkan tangannya, dan seluruh kekuatannya untuk mencari tahu siapa orang tersebut.

“Tunggu!” teriak Ryousen, dan orang itu pun berhenti. “Apa kita pernah bertemu sebelumnya?” tanya Ryousen dengan nada sedikit ragu.

“Bertemu?” tanyanya. Lalu dia tertawa kecil. Ryousen hanya bisa menunjukkan ekspresi heran. Apa yang lucu?. “Bertemu katamu?” dan orang itu membalikkan badannya. “Kita tidak sekedar bertemu, Ryou, kita dulu juga saling mengenal.” orang itu menjawab pernyataan Ryousen sambil membuka tudungnya.

“Kau… Nyssa!?” tanya Ryousen begitu kaget.

“Lama tak berjumpa ya, Ryou…” sapanya sambil tersenyum manis.

“Nyssa! Kemana saja kamu selama ini?”

“Itu bukan urusanmu, kau tak perlu mengetahui dimana dan kemana aku akan pergi.”

“Tapi, Nyssa!”

“Sekarang, biar aku ganti bertanya. Apa saja yang sudah kau lakukan selama ini? Ku dengar, kau sudah menjadi seorang ksatria ya? Apa itu benar?” tanya Nyssa sambil tersenyum.

“Itu memang benar, dan alasan aku menjadi ksatria adalah Kau!”

“Oh, ya? Waw.” kata Nyssa seakan-akan terkesan, namun dia tidak menampilkan wajah yang terkesan sama sekali. Tiba-tiba, dia tersenyum licik ke arah Ryousen. “Berarti, kau sudah cukup kuat kan, untuk bertarung dengan ku?”

“Ya, aku rasa aku sudah cukup kuat untuk mengalahkanmu!” balas Ryousen.

“Mengalahkanku? Baiklah, mari kita lihat.” kemudian dia melemparkan dengan tinggi apelnya dan menyerang Ryousen dengan tiba-tiba dari arah depan. Ryousen yang sudah cukup siap, menahan serangannya, namun, dia tetap tidak kuat dan akhirnya terjatuh.

“Kau masih lemah, Ryou. Dengan kekuatan seperti ini, jangankan mengalahkanku, bertarung denganku saja pasti kau tidak akan mampu.”

Ryousen tidak membalas perkataan dari Nyssa. Dia mencoba berdiri sambil menahan rasa sakit akibat terjatuh. “Sebenarnya, apa saja yang kau lakukan selama 4 tahun ini?” tanya Ryousen, sambil terus memegangi perutnya. Nyssa tidak menjawab. Dia hanya terdiam sambil melihat ke arah lain, tidak menatap Ryousen.”Jawab aku, Nyssa!” bentak Ryousen.

“Kau sendiri bagaimana? Apa saja yang telah kau lakukan selama 4 tahun ini?” kata Nyssa berbalik bertanya padanya. “Katanya kau seorang ksatria hebat, tapi kau saja tak mampu untuk menahan seranganku. Bagaimana kau bisa mengalahkanku dan menghentikanku?”

Ryousen tak bisa menjawabnya. Dia terdiam sejenak. “Sekarang, aku memang masih belum mampu untuk mengalahkanmu, TAPI! Aku berjanji, aku akan mengalahkanmu, dan membalaskan apa yang sudah kau lakukan 4 tahun yang lalu. Aku juga, akan mengembalikanmu seperti semula!”

Nyssa hanya terdiam dan menunjukkan ekspresi sedikit terkejut, kemudian dia tersenyum. “Wah, wah, kalau begitu selamat berjuang ya.” balasnya, lalu membalikkan badanya dan berjalan pergi.

“Tunggu! Aku masih ada 1 pertanyaan untukmu!” teriak Ryousen.

Nyssa menghentikan langkahnya, lalu menoleh ke arahnya. “Apa?”

“Sebenarnya, apa tujuan utamamu datang ke kota ini?”

Nyssa terdiam sejenak, lalu menghadap ke arahnya. “Oh, ya aku baru ingat. Aku akan membuat keributan di kotamu.” jawab Nyssa sambil tersenyum manis, lalu dia mengeluarkan apel yang tadi dia beli dan mengelapnya.

“Keributan?” tanya Ryousen begitu bingung.

“Kau akan lihat sendiri, sebentar lagi.” lalu Nyssa menggigit apelnya.

BUARRR!!!. Disaat bersamaan, ada sebuah bangunan yang meledak dan terbakar dari arah kota. Ryousen yang melihat itu, langsung menoleh ke arah Nyssa. “Kenapa kau melakukan itu!? Apa sebenarnya tujuanmu!?” bentak Ryousen ke arah Nyssa.

“Tujuanku?” sambil terus memakan apelnya. “Tidak ada, aku tak punya tujuan, kok. Barusan ini hanyalah tugasku.” jawab Nyssa dengan santainya.

“Tugasmu?”

“Ya, tugasku. Tugas yang diberikan oleh guildku.”

“Kau, guild?” tanya Ryousen masih tidak mengerti.

“Yah, guildku, Luxuriant Torquent.”.

Ryousen hanya bisa tercecang, diam. Lalu dia menundukkan kepalanya. “Luxuriant… Torquent?”.

Tiba-tiba, Nyssa menepk bahunya, dan menatap wajah Ryousen. “Dengar, Ryou, Luxuriant Torquent adalah musuh dunia, dan kau sebagai seorang ksatria, wajib mengalahkannya. Maka dari itu, janganlah berdiam diri saja, dan cepatlah kejar aku.” jelas Nyssa kemudian dia membalikkan badannya dan berjalan pergi. “Aku akan menunggu saat itu tiba.” gumam Nyssa.

Ryousen masih terdiam, terpaku disitu. Tiba-tiba dia tersentak, dan melihat sekelilingnya. Nyssa! Dia, sudah tidak ada. Ryousen menunduk kembali. Lalu dia menoleh ke arah kota. Oh, ya! Kota! Bangunan yang terbakar!. Dan Ryousen berlari menuju ke kota.

***

“Fedro!” teriak Ryousen dari kejauhan.

“Yo, Ryou! Darimana saja kau?” tanya Fedro melambaikan tangannya.

“Aku lagi ada urusan tadi. Jadi, bagaimana dengan bangunan yang tadi meledak?” tanya Ryousen dengan nafas terengah-engah sambil melihat sekelilingnya.

“Dapat diatasi, tapi penyebab mengapa meledak, tidak ada yang tahu.” jawab Fedro.

“Owh, begitu…”

Tiba-tiba, terdengar suara langkah kaki dari arah belakang Ryousen. “Ryousen!!” teriak Carissa, dan langsung memeluk Ryousen. “Kau kemana saja? Aku mengkhawatirkanmu!”

“Aku tadi ada urusan sebentar, Carissa, maaf sudah membuatmu khawatir.” balas Ryousen sambil mengelus kepala Carissa.

“Ah, dasar pasangan ini, selalu mesra ya…” goda Fedro.

“Sudahlah, hentikan Fedro!” bentak Carissa ke arah Fedro, tapi tetap memeluk Ryousen.

Sementara itu, Ryousen tidak menanggapi godaan tersebut, dan menatap ke arah langit. Lihat saja, Nyssa, aku pasti akan menghentikan perbuatan guildmu itu dan mengembalikan seperti dulu, seperti saat masa lalu kita. Lihat saja..

 

4 Tahun yang lalu . . . February 26, 2011

Filed under: Reciprocum — Clover @ 6:18 PM

Sebuah malam, di sebuah kota kecil yang dipenuhi oleh kobaran api yang membara. Semua rumah dan bangunan hancur terbakar tanpa ada sisa. Orang-orang tergeletak tak berdaya di setiap tempat yang ada. Hewan-hewan terpotong berantakan dengan penuh lumuran darah. Dan di pinggir kota itu, ada seorang anak cowok yang terduduk lemas melihat itu semua. Cowok yang berperawakan kecil, layaknya anak yang berumur 12 tahun dan berambut pirang terang, hingga bisa terlihat berwarna perak.

Tiba-tiba, cowok itu berlari dengan nafas terengah-engah, menuju seorang gadis kecil yang berambut panjang berwarna coklat tua dan seumuran dengannya. “Nyssa! Tunggu sebentar!” teriaknya, lalu dia terjatuh dan tak mampu berdiri lagi.

Gadis kecil yang tadi dipanggil olehnya itu, membalikkan badannya, dan menoleh ke arah anak cowok tersebut. “Apa lagi, Ryousen? Apa lagi yang kau inginkan?” tanya anak gadis itu.

“Mengapa kau lakukan ini semua, Nyssa?”

Gadis itu tetap terdiam. “Bukankah aku sudah menjelaskan semuanya tadi.” jawabnya lalu membalikkan badannya dan memulai langkahnya.

“NYSSA!!”

Gadis itu menghentikan langkahnya, dan berbalik. “Ryousen, jika kau keberatan atas semua yang kulakukan, kejarlah aku, dan bertarung denganku. Aku akan menunggu saat tersebut.” dan dia meninggalkan cowok itu sendirian.

“Tung…gu, Nys…sa…”. Anak cowok itu perlahan memejamkan matanya yang tak kuat sambil terus melihat gadis itu pergi dari pandangannya.

 

Part 11: Rencana February 22, 2011

Filed under: The story of a Princess and Her ??? — Clover @ 8:00 AM

“Uukh . . .” keluhku di pagi hari. Aku terus menguap sambil membuka korden di jendela kamarku. Saat kubuka, sudah bukan pemandangan sebuah desa lagi, namun telah berubah menjadi pemandangan kota yang penuh akan kesibukan manusia. Ah, pemandangan ini lagi, persis seperti di kotaku.

Setelah aku selesai membersihkan diriku, aku pergi keluar. Di luar, tepatnya, di koridor, aku melihat Aldo, sedang bersandar di dinding sebelah pintu kamarku, seakan-akan sedang menunggu. Apa yang sedang dia lakukan?. Lalu, aku melihat di sebelahnya, namun tidak ada siapa-siapa. Al di mana?.

“Kau sudah selesai?” tanya Aldo sambil berjalan mendekatiku.

“Ah, ya begitulah.” Aku terus mencoba untuk mencari Al, namun tidak ada.

“Kau mencari Al?”

“Eh? Ya. Dia kemana?” tanyaku.

“Dia pergi, mencari informasi kediaman Moischer.”

“Bukannya dia sudah tau, dimana kediamannya?” tanyaku heran.

“Katanya Al, sih, dia mau cari cara alternatif lain untuk memasukinya, daripada harus memasukinya sambil diam-diam layaknya pencuri.” jelas Aldo. “Ayo kita turun. Kita kan belum sarapan.” ujarnya sambil berjalan meninggalkanku.

“Ah, ya . . .”

Kami berdua berjalan turun, lalu berjalan menuju ke ruang makan dari penginapan ini. Di meja makan, aku melihat banyaknya variasi makanan yang tersedia di sana. Termasuk juga ada roti kesukaanku, roti croissant. Makanan enak, setelah selama ini makan makanan  yang entah apa namanya!. Di meja juga di sediakan banyak macam buah-buahan.

Aku menarik kursi yang ada di dekat Aldo, lalu mendudukinya. Selanjutnya, aku berbisik ke arah Aldo, “Hey, Aldo. Apa Al punya uang untuk membayar semua ini?” tanyaku.

“Kenapa kau bertanya seperti itu?”

“Ah, gak. Rasanya, heran aja. Memangnya dia bisa punya uang banyak, padahal barang-barang di tokonya saja sedikit terjual.”

“Ah, jadi kamu belum tahu pekerjaan Al sebenarnya?” tanya Aldo, berbalik bertanya.

“Eh? Bukannya penjual di tokonya, bukan?”

Aldo menggeleng. “Bukan, itu hanya kerja sampingannya. Yang sebenarnya adalah, dia seorang Bounty Hunter.”

“Eh? Bounty Hunter? Orang yang bekerja demi hadiah itu?”

“Tepat sekali. Dan, Al itu sudah di cap sebagai Bounty Hunter professional.” Jawab Aldo sambil memakan rotinya.

“Owh . . .”. Lalu aku terdiam, dan berpikir sejenak. “Sebentar, bukannya kita juga incaran para Bounty Hunter?”

Seketika itu juga, suasana menjadi hening. Aku dan Aldo hanya terdiam, tanpa mengeluarkan sepatah katapun. Apa kami juga sebenarnya, incaran Al?. “Hey, Aldo . . .”.

Aldo hanya terdiam, dan dia terlihat pucat. “Maksudmu, apa dia, sebenarnya, membawa kita pergi, lalu dia memberikan kita kepada keluarga kita lagi, biar bisa mendapat uang banyak?”

Aku hanya mengangguk. “Yah, tapi itu hanya pemikiranku saja, kok . . .”

Tiba-tiba, kepala kami berdua di pegang oleh seseorang. “Tentu saja aku tidak akan melakukan hal itu!” bentak orang itu.

“Al . . .”

Al pun melepaskan tangannya, dan menarik sebuah kursi di dekatku lalu mendudukinya. “Kalau aku memang bermaksud seperti itu, untuk apa aku mencari jalan alternatif untuk memasuki kediaman Moischer?” tanyanya. Namun, kami berdua, hanya bisa terdiam sambil menatap dirinya.

Al menghela nafas, lalu mengambil sepotong roti gandum. “Sudahlah, ayo kita makan, lalu kita melakukan rapat.”

Setelah kami semua selesai makan, kami berkumpul di kamarnya Al dan Aldo, untuk mendiskusikan jalan alternatif itu.

“Baiklah. Saat aku tadi berjalan-jalan di kota, aku melihat sesuatu! Lihat ini!” serunya sambil menunjukkan kami sebuah kertas yang berisi sebuah undangan pesta di kediaman keluarga Moischer. “Kita akan memakai kesempatan ini untuk memasukinya!”.

“Aku punya pertanyaan. Masalahnya, apa ini pesta terbuka?” tanyaku.

“Yah, begitulah, dan yang akan menghadirinya adalah, kau dan Aldo.” jawab Al dengan santai.

“Tunggu sebentar! Aku? Apa kau gila! Ini terlalu beresiko!” bentak Aldo.

“Tidak. Aku tidak gila.”

“Lalu, kenapa malah menyuruh Aldo? Bukankah bisa dirimu?” tanyaku.

“Tidak, itu tidak bisa. Orang-orang di kediaman Moischer sudah hapal dengan wajahku, semenjak aku menculik anak itu.” jawabnya sambil menunjuk ke arah Aldo.

“Tapi, mereka juga hapal dengan wajahku!!” bentak Aldo.

“Lalu kamu mau apa! Kita gak bisa membiarkan Scarlett sendirian, bukan?” bentak Al, membalas perkataan Aldo. Disaat ini, aku hanya bisa diam, tanpa banyak bicara. Aku hanya bisa berharap, mereka bisa berhenti berdebat.

“Baiklah, aku ikut. Tapi, kita semua, HARUS mendapatkan Elena secepatnya, dan membawanya bersama kita!”

“Baik! Aku sepakat.” jawab Al.

“Maaf, entah apa yang sedang kalian bicarakan, tapi, apakah kita sudah selesai rapatnya? Jika sudah, mungkin kita bisa bersiap-siap untuk nanti malam.” kataku sambil membaca selembaran undangan tadi.

“Memangnya, pestanya kapan, Al?” tanya Aldo.

“Entahlah, aku belum membacanya.” jawab Al. Lalu, mereka berdua menoleh ke arahku.

“Nanti malam.” seruku. Mereka berdua masih terdiam. Suasana menjadi hening.

“Akh!! Waktunya bersiap-siap!!” teriak Aldo panik.

“Aku akan mempersiapkan barang-barang!” teriak Al, yang juga panik.

Aku melihat ke selembaran itu lagi. “Ah! Salah!”

“Salah??” tanya Al dan Aldo heran.

“Iya, ternyata besok malam.”

“Haaah . . .” keluh mereka.

“Maaf . . .” ujarku dengan wajah tak bersalah. Kasihan juga, habis melihat mereka panik begitu.

“Baiklah, berarti, besok malam, oke?” tanya Al ke kami semua.

“Ya!” jawabku dan Aldo serempak.

 

Part 10: Setelah Pelatihan January 23, 2011

Filed under: The story of a Princess and Her ??? — Clover @ 5:19 PM

Lima hari telah berlalu, dan selama itu, aku maupun Aldo, mempunyai latihan. Aku yang dilatih oleh Al dalam kemampuan elementalistku, dan Aldo yang dilatih oleh Ricardo, dalam kemampuan memakai pedang. Dan, selama itu pula, aku maupun Aldo, tidak bertemu satu sama lain, mungkin karena kami terlalu sibuk dengan latihan kami.

Hari keenam, setelah semua latihan yang diberikan Al, berakhir di hari ini. Aku berjalan-jalan di dekat sungai yang ada di perbatasan menuju Forstwiese. Di sana, aku melihat, Aldo, sedang duduk di suatu batu besar di tengah sungai itu. Aldo, sedang apa, ya?.

“Aldo?” sapaku. Namun dia masih tidak menjawabnya. Dia memejamkan kedua matanya sambil memegang erat pedangnya. Kurasa, dia masih latihan.

Tiba-tiba, dia membuka matanya, dan mengayunkan pedangnya ke arah pohon besar yang ada di depannya. Seketika itu juga, pohon yang ada di depannya terbelah menjadi dua. Kurasa, inilah hasil latihannya selama ini. Setelah itu, dia berbalik, dan menghadapku.

“Scarlett? Kau tidak latihan?” tanyanya.

“Tidak, aku sudah selesai kok. Bagaimana denganmu?”

Dia menatap pohon yang tadi terbelah karena serangannya. “Yah, kurasa aku juga sudah.”. Lalu, dia meloncat ke arahku. “Sebenarnya, kau dilatih apa sama Al?”

“Yah, hanya pendalaman kekuatan saja, kok.” jawabku.

“Kekuatan? Apa kekuatanmu?”

Aku masih diam, lalu berbalik. “Nanti juga tahu.” sahutku. Aku pun meninggalkannya disana, dan berjalan pulang, kembali ke Dorfwiese.

“Tunggu! Aku ikut!” teriak Aldo sambil mengikutiku pergi.

Sesampai di Dorfwiese, aku dan Aldo melihat Al yang sedang melambaikan tangannya ke arah kami, lalu mendekati kami. Ada udang di balik batu, nih . . ..

“Baguslah, kalian sudah datang. Ayo kita pergi!” ajak Al.

“Pergi? Ke mana?” tanya Aldo.

“Ke Viecedemont.”

“Hah! Secepat itu kah?” tanyaku begitu heran. “Kami baru saja selesai dari latihan, lalu kau tiba-tiba . . .”

“Bukankah lebih cepat lebih baik?” sahut Al.

“Ukh . . .” keluh aku dan Aldo.

Al berbalik arah, lalu menoleh ke arah kami. “Nah, ayo ikut aku!” ajaknya dengan penuh semangat. Mau tidak mau, pada akhirnya, kami memang mengikutinya.

Kami terus mengikutinya pergi, berjalan terus, hingga kami berhenti di sebuah lapangan. Disana, kami melihat sebuah kereta kuda, dan di samping, ada pula Anabella. Wah, kereta kuda, dan barang-barang di atas kereta itu, bukannya? . . ..

“Akh! Barang-barangku!” teriak Aldo yang berada di sampingku. Eh? Barangnya? Jangan-jangan, barangku juga . . ..

“Kyaa! Barang-barangku!” diriku teriak karena kaget. Aku melihat, semua barang-barangku, dan barang-barangnya Aldo, sudah ada  di atas kereta kuda yang kedua. “Al! Sejak kapan, barang-barang kami!?”

Al tidak menjawab, dia hanya tersenyum, lalu memasuki kereta kuda yang pertama sambil melambai-lambaikan tangan kanannya, seolah mengajak kami masuk juga. Aku dan Aldo, yang hanya bisa terdiam, tanpa mengeluarkan sepatah katapun, akhirnya ikut masuk.

Saat aku duduk di dalam kereta, aku melihat ke arah Anabella, yang masih di luar. “Anabella tidak naik?” tanyaku ke arah Anabella.

Anabella menatapku, lalu dia menggelengkan kepalanya. “Tidak, aku tidak ikut. Aku akan menunggu kalian disini, sampai kalian kembali.” jawabnya.

“Oh, begitu . . .”. Sedikit kecewa. Kukira, aku akan ada teman sesama perempuan, dibandingkan selalu bersama dua orang lelaki aneh seperti ini.

“Nah, kami berangkat!” seru Al keegirangan. Aku dan Aldo hanya mampu menghela nafas, karena kami masih kecapekan atas latihan kami selama beberapa hari ini.

“Al! Berhati-hatilah!” kata Anabella.

“Tenang! Baiklah! Ayo kita berangkat!” teriak Al begitu riang. Sedikit demi sedikit, roda kereta ini mulai bergerak, makin lama, makin cepat. Saat aku melihat keluar jendela, aku melihat, desa Dorfwiese, yang semakin lama semakin mengecil dan akhirnya tidak terlihat lagi. Aku akhirnya, aku duduk lagi dengan tenang di dalam kereta. Sementara itu, Al dan Aldo, hanya terus terdiam sambil melihat ke arah jendela.

Berjam-jam telah terlawati, dan kami masih saja belum sampai di Viecedemont. Aldo yang tertidur, dan Al yang terus membaca bukunya. Karena bosan, akhirnya, aku mengeluarkan tempat minumku.

“Nona, anda sedang apa?” tanya Al sambil melirik ke arahku.

“Mainan.” jawabku dengan singkat.

Aku mengeluarkan cairan itu, dan menumpahkannya di telapak tanganku, tetapi cairan itu tidak sampai jatuh di lantai, karena pengendalian elemenku, justru cairan itu malah melayang-layang di udara. Aku mengubah bentuk-bentuknya, yang awalnya cair, menjadi es, dan berubah lagi menjadi gelembung air. Aku menerbangkannya di dekat kepala Aldo.

Tiba-tiba, Aldo bersin sangat keras ke arah gelembung air yang ku terbangkan di dekat sana. Seketika itu juga, gelembung air yang ada di atas Aldo pecah, dan membasahi Aldo. Dia langsung kaget, dan  terbangun dari tidurnya yang nyenyak.

“Apa! Barusan itu apa! Hujan!?” tanyanya keheranan, karena mendapati dirinya yang telah basah kuyup.

“Ah, maaf Aldo!”

“Yah, salah Aldo juga sih, nona. Dia bersin ke arah gelembungnya, pecah deh.” ujar Al.

Aldo masih terdiam, seakan-akan dia sedang berpikir sesuatu. “Tadi itu, ada gelembung air? Darimana asalnya?”

“Haah . . .”. Aku hanya mampu menghela nafasku. “Sini, biar kukeringkan dirimu.”

“Hah? Bagaimana caranya?” tanya Aldo penuh heran.

“Tak usah banyak tanya!” bentakku sambil mengangkat kedua tanganku ke kiri dan kanan. Saat itu juga, air yang membuat basah baju Aldo, berubah menjadi gelembung-gelembung air yang berterbangan di udara, dan berkumpul menjadi satu, menjadi air biasa lagi. Aku langsung membuangnya keluar jendela.

“Ba, ba, bagaimana kau bisa melakukan hal ini?” tanya Aldo penuh keheranan.

“Kau tahukan, tentang elementalist?” tanya Al.

“Ah! Jadi dia ini . . .”

“Tepat sekali.” jawab Al. “Nah . . .” serunya sambil menutup buku bacaannya tadi. “Bersiap-siaplah, karena kita telah memasuki Viecedemont.”

“Sudah sampai?” tanya aku dan Aldo.

Tak lama kemudian, kereta yang kami naiki, berhenti. Kami bertiga pun langsung turun. Setelah turun, aku melihat, sebuah kota yang dipenuhi oleh cahaya-cahaya lampu. Bangunan kota yang tua, terlihat begitu indah. Benar-benar pemandangan malam yang indah. Lalu, bahu ditepuk oleh Al, dan dia tersenyum ke arahku.

“Ada apa?” tanyaku heran.

“Barang anda, nona.”

“Oh, ya.” jawabku sambil mengambil tas yang ada di tangan Al.

“Nah, mari kita istirahat dulu di penginapan ini.” ajak Al, membawa barangnya sambil berjalan masuk ke dalam sebuah penginapan kota.

Di dalam penginapan ini, yang terbuat dari batu bata, terlihat begitu tua. Lantainya yang tua, memberikan suara berdecit jika diinjak. Tangganya yang tua, sedikit memberiku rasa takut untuk menaikinya, namun Al tetap tersenyum sambil memegang tanganku. Mungkin, inilah penyebabnya, rasa takutku sedikit menghilang.

“Nah, nona. Maaf ya, kali ini, anda sendiri lagi. Kamar anda yang ini.” kata Al sambil menunjukkan aku kamarku. “Kamar saya dan Aldo ada di tepat sebelah anda. Jika perlu sesuatu, tinggal datang saja ke tempat kami, mengerti nona?” tanyanya sambil berdiri di depan pintu.

“Ya, aku mengerti.” jawabku. Akhirnya, istirahat . . ..

 

Part 9: Mulai? November 28, 2010

Filed under: The story of a Princess and Her ??? — Clover @ 8:00 AM

Sudah tiga hari semenjak kejadian Daniel, dan Aldo masih belum sadar. Seandainya aku menolongnya dengan kekuatanku saat itu. Namun, semua sudah terjadi. Apa daya.

Hari ini, aku yang bagian menjaga Aldo, setelah Al dan Anabella bergantian siang malam untuk menjaganya. Aku datang ke kamar Aldo, dan aku melihat, Aldo, dengan tubuhnya yang masih penuh oleh perban. Aku mendekati anak itu, dan duduk di dekatnya, mencoba memperhatikannya lebih cermat. Tiba-tiba, pandanganku terarah pada vas bunga yang berisikan penuh dengan bunga-bunga layu.

“Ah, bunga-bunga ini layu, kurasa aku akan mengambil air.”. namun, disaat aku beranjak dari kasur Aldo, tiba-tiba ada yang menarik tanganku. “Aldo!?” tanyaku kaget.

“Ukh, Scarlett . . .” gumam Aldo.

“Aldo? Apa kamu sudah sadar?”. Aku mendekatinya lebih dekat untuk memastikannya. Aldo sedikit demi sedikit, membuka matanya, dan dia melihat ke arahku.

“Syukurlah, kau baik-baik saja rupanya . . .” gumamnya.

“A, aku akan memanggil Al!” seruku. Disaat  aku berbalik, lagi-lagi tanganku di tarik olehnya.

“Tidak usah. Cukup kau saja, tolong temani aku disini.” desahnya.

“Baiklah.” lalu aku memegang tangannya yang tadi menarik tanganku dan mendekati Aldo. “Jika kau butuh sesuatu, bilang saja padaku.”

“Kita, perjalanan kita, telah tertunda karena aku, bukan?”

“Aku, tidak tahu . . .”

“Benar-benar merepotkan diriku ini. Aku bahkan sekarang tidak bisa menolong Elena.” ujarnya sambil berlinang air mata. “Aku benar-benar tidak berguna.” serunya sambil berusaha untuk duduk.

“Aldo, jangan duduk dulu! Kau masih sakit!”

“Biarlah, tak apa.”

Aku hanya terdiam, aku pun juga tak bisa membantunya saat itu Aku begitu lemah. Tiba-tiba, Aldo memelukku. “A, Aldo?” tanyaku ragu.

“Maaf, tolong biarkan aku memelukmu sebentar.”

“Baiklah.”

Dia terdiam, terdiam terus menerus. Tiba-tiba, aku mendengar isak tangis dari arahnya. “Aku ingin menolong Elena, tapi aku tak bisa melakukan apa-apa. Aku bahkan tak bisa menolongmu. Aku . . .”

“Sudahlah, manusia memang lemah. Tapi, karena lemah, makanya mereka bisa berusaha untuk menjadi kuat. Kau juga begitu Aldo. Kau pasti bisa untuk menolong Elena.” sahutku sambil mengelus-elus kepalanya. “Tenangkanlah dirimu, dan kita akan berbicara dengan Al, nanti.”

Beberapa saat kemudian, Aldo pun tenang. Dia masih diam, tapi terlihat sudah agak baikan. “Aldo, aku punya satu masukan untukmu.” ujarku sambil tersenyum.

“Apa?”

“Lain kali, anak laki tidak boleh menangis ya!”

“Cih!! . . .” keluhnya dengan wajah memerah masam.

“Jadi, sudah selesaikah urusan kalian berdua?” tanya Al yang tiba-tiba menengok dari pintu kamar Aldo.

“AL!?” teriak kami kaget.

“Sejak kapan? . . .” gumamku.

Al masuk, kemudian menutup pintunya. “Sebenarnya, aku sudah sejak daritadi, cuma, aku mendengar, sepertinya si Aldo sedang menangis, ya?” tanya Al sambil melirik ke arah Aldo. Aldo pun langsung membuang muka.

“Ehm, yah,  begitulahh . . .” jawabku membenarkan dugaan Al.

“Itu tidak penting sekarang! Ada urusan apa kamu ke sini, Al?” tanya Aldo ketus.

“Ck ck ck, aku kesini untuk memberitahukan berita bagus.” Lalu Al menggeret sebuah kursi dan duduk di atasnya. “Kita akan berangkat lagi setelah kau benar-benar sembuh, Aldo! Dan selama itu, kamu, WAJIB, untuk berlatih pedang bersama Ricardo.”

“Lalu, kenapa tidak bersama kamu saja?” tanyanya heran.

“Tidak bisa! Karena, aku akan melatih anak ini.” jawabnya sambil menunjuk ke arahku.

“Scarlett?”

“Aku?”

“Tepat! Mengerti?”

“Tunggu dulu! Kenapa Scarlett?” protes Aldo.

“Karena, dia mempunyai kemampuan khusus yang bagus dan wajib di kembangkan. Apalagi, semenjak kamu telah membuat takut Daniel, iya bukan, nona?”. Al tersenyum ke arahku, namun aku hanya menatapnya heran.

“Apa!? Membuat takut Daniel??”

“Yah, begitulah!” ujar Al penuh gembira sambil bertepuk tangan. “Nah, mulai besok, akan ada latihan khusus untukmu Aldo! Dan latihan khusus untuk Nona dimulai hari ini. Ayo kita pergi sekarang, nona!” ajak Al kepadaku.

“Tunggu, Scarlett!” bisik Aldo. “Apa yang sebenarnya terjadi saat pertarungan dengan Daniel?”

“Em, itu . . .”

“Nona! Ayo!” ajak Al sambil menggeret tubuhku pergi. “Kami permisi!”

Aldo hanya terdiam, kemudian dia berteriak keras sambil terdengar keluar kamarnya. “SEBENARNYA APA YANG TERJADI!!?”.

“Al,  apa tidak apa-apa jika Aldo tidak diberitahu?” tanyaku penuh keraguan.

“Tenang! Tidak akan terjadi apa-apa, kujamin!” jawabnya sambil tersenyum lebar. Justru, penjaminanmu itu yang berbahaya bagiku.

 

Chapter 3: Festival (awal) November 28, 2010

Filed under: The Chosen — Clover @ 8:00 AM

Selama perjalanan menuju Quarter State, Chessure berjalan penuh kekhawatiran. Dia selalu takut akan ada marabahaya yang melanda Alice. Bagaimana jika Nona Alice tiba-tiba diculik? Atau Kalau Nona Alice yang diserang tiba-tiba oleh para penjahat?. Dan ternyata, kekhawatirannya menyebabkan Chessure terlalu banyak melangkah sehingga mendekati Alice. Alice pun langsung menyadari dan langsung mendekati Chessure.

“Kau? Bukankah kau adalah prajurit istana? Mengapa kau ada disini?” Alice bertanya dengan nada sedikit takut.

Chessure pun diam sejenak. Dia masih bingung, bagaimana cara menjelaskannya. Satu hal yang ada di pikirannya, nampaknya, saat aku bertemu dengan Alve, aku akan diejek lagi karena gagal mengikuti Nona Alice secara diam-diam. “Sebenarnya, saya diminta Alverina untuk menjaga Nona Alice yang sedang kabur dari istana.” sambil menghela nafas.

“Apa? Diminta Alve untuk menjagaku?” Alice sedikit kaget akan pernyataan itu. “Kalau aku tahu, kau siapanya Alve?”

“Saya sepupunya. Perkenalkan, nama saya Chessure Rowell.” menjawabnya dengan senyuman.

“Oh, kalau begitu, ayo kita ke Quarter State bersama!” ajak Alice

“Baiklah, Nona Alice.”

Lalu, mereka berdua pun pergi menuju Quarter State. Untuk sampai disana, tidak memerlukan waktu yang cukup lama. Beberapa saat kemudian, mereka berdua pun sampai. Disaat mereka sampai, mereka melihat sebuah pemandangan yang langka. Mereka melihat banyak sekali hiasan-hiasan yang bergelantungan diantara lampu-lampu kota, buah-buahan segar yang tertata rapi di pinggiran jalan, dan orang-orang yang sibuk menumpukkan kayu-kayu bakar di tengah kota.

“Chess, apa kau tahu, ada apa di Quarter State sekarang?” tanya Alice dengan wajahnya yang polos menghadap ke Chessure.

“Hm, kalau tidak salah, akan ada Festival yang dimulai malam ini.” jawab Chessure dengan wajah mencoba mengingat kembali.

“Fes . . . tival? Festival katamu!?” tanya Alice dengan semangat.

“I, iya, Nona. Kenapa Nona Alice?” tanya Chessure begitu heran.

“Kalau begitu, aku akan pulang sampai Festivalnya berakhir!” jawab Alice dengan semangatnya.

“Apa!? Tunggu dulu, Nona! Tapi -”

“Tenang . . .  Tidak apa-apa kok, pasti diijinkan, asalkan ada yang menemani.” jawab Alice dengan tenangnya. “Nah, sekarang, ayo pergi!” sambil menarik tangan Chessure.

“Kemana Nona Alice?”

Tiba-tiba Alice menundukkan kepalanya. Wajahnya langsung merah. “Sebenarnya . . .  Aku merasa, aku lapar . . .” jawab Alice, dengan suara yang pelan. Layaknya menahan malu.

“Hufft!” Chessure tertawa, namun ia menahan tawanya itu.

“Kau tertawa, ya!?” tanya Alice sedikit membentak.

“Ah, tidak kok, Nona. Saya sama sekali tidak tertawa.” jawab Chessure, sambil tersenyum.

“Haaah . . .  Baiklah, ayo kita pergi saja. Ayo kita mencari makan.” ajak Alice.

Mereka berdua pun berjalan lagi. Mereka pergi ke berbagai macam toko yang menjual makanan, tapi tak ada makanan yang ingin dimakan oleh Alice. Hingga mereka berakhir pada suatu kios yang menjual apel merah. Disitu, Alice tetap diam, entah apa yang dia tunggu.

“Em, Nona?” tanya Chessure keheranan. Dia tidak mengerti, mengapa nonanya itu berhenti secara tiba-tiba didepan kios ini.

“Tunggu sebentar, Chess.” jawab Alice. Alice langsung pergi meninggalkan Chessure dan mendekati pemilik kios itu. “Bibi Nadelle?” tanya Alice.

Pada awalnya, pemilik kios itu tidak menghiraukan panggilan itu, tapi setelah dia membalikkan badannya, terlihat sebuah ekspresi kaget dari ibu itu. “Nona Alice!? Sedang apa anda disini?” tanya Nadelle sangat kaget, namun Alice hanya tersenyum.

“Aku sedang berjalan-jalan, bi.” jawab Alice sambil tersenyum.

“Dengan Alve?” tanya Nadelle, seakan-akan berharap anaknya itu ada bersama Alice.

“Tidak, bi. Tapi aku bersama Chessure.” jawab Alice sambil menunjuk ke arah Chessure. Chessure pun langsung menundukkan kepalanya.

Nadelle pun terdiam dan menundukkan kepalanya, nampaknya dia sedikit kecewa karena tak ada anaknya disitu. Lalu dia pun tersenyum ke arah Alice. “Kalian berdua sudah makan?” tanya Nadelle.

“Em, belum . . .” jawab Alice.

“Baiklah, ayo kalian berdua makan dulu disini.” ajak Nadelle dengan nada seorang ibu.

“Baik!” jawab Alice dan Chessure serempak.

***

Sementara itu, Alverina, sedang tiduran didalam kamarnya. Dia masih lelah memikirkan tugas baru yang harus dia tanggung sekarang. Aku tak boleh membiarkan Chessure mati, Aku harus melatihnya. Sambil tiduran di atas tempat tidurnya, dia terus memikirkan itu. Aku tak boleh membiarkan Chessure mati, Aku harus melatihnya. Keheningan kamarnya membuat dia terus memikirkan kata itu, hingga sebuah ketukan mucul dari balik pintu kamarnya. “Ratu . . .” kata Alverina kepada dirinya sendiri.

Disaat dia membuka pintu kamarnya itu, seperti yang ia katakan tadi, Ratu telah berdiri didepan kamarnya itu. Di wajahnya memang menunjukkan tak ada tanda-tanda yang aneh, tapi Alverina tahu apa maksud kedatangan si Ratu itu. Pasti mencari Alice.

“Alverina Shiver, apa kamu tahu, dimana cucuku, Alice?” tanya Ratu dengan nada seperti biasanya, tak ada kekhawatiran.

“Ya, aku tahu.”

“Di mana?” tanya Ratu.

“ Di Quarter State.” jawab Alverina dengan santai.

“Apa!? Sendirian!?” tanya Ratu dengan kagetnya.

“Tidak, dia bersama Chessure.” jawab Alverina sambil menguap, layaknya dia masih lelah karena rapat tadi.

“Alverina Shiver, kau tahu kan, apa tugas utamamu?” tanya Ratu sambil berusaha menenangkan dirinya.

“Menjaga Alice?”

“Tepat, maka dari itu . . .” memanjangkan kalimatnya, agar Alverina dapat menyambungnya.

“Ya, ya aku tahu. Aku akan menyusul mereka berdua.” jawab Alverina dengan malasnya. “Aku akan berangkat nanti.” kata Alverina menambahi jawabannya.

“Baiklah, asalkan, Alice baik-baik saja, itu sudah cukup.” dan Ratu meninggalkan Alverina. Alverina pun kembali ke dalam kamarnya, dan dia tidur lagi di kasurnya dengan tenang.

Beberapa jam kemudian, Alverina bangun dari tidurnya, kemudian bersiap-siap menuju Quarter State. Namun, saat dia terbangun, dia telah melihat, hari telah menjadi sore. Ups, aku rasa aku sudah terlambat. Dia pun langsung bergegas menuju Quarter State.

***

Sementara itu, Alice dan Chessure masih bersama Nadelle. Mereka mempersiapkan barang-barang milik Nadelle untuk festival malam ini.

“Bibi Nadelle, apa semuanya sudah selesai?” tanya Alice.

Nadelle melihat sekelilingnya. “Kurasa sudah, tapi festival masih lama mulainya.” jawabnya. “Oh, ya, nona Alice, bagaimana kalau anda berjalan-jalan dengan Chess sambil menunggu festival dimulai?”

“Ide bagus! Ayo Chessure, kita jalan-jalan!” ujar Alice sambl menarik lengan baju milik Chessure.

“Ba, baiklah . . .” jawab Chessure terbata-bata.

Mereka pun berjalan-jalan, tanpa arah. Awalnya mereka sedang melihat hiasan kota untuk festival malam ini, namun, Alice terus berjalan hingga sampai di depan sebuah hutan dari daerah yang terlarang.

“Chess, ayo kita masuk ke hutan ini!” ajak Alice.

“Tunggu dulu, nona Alice! Hutan ini berada di White Area, sebuah area yang terlarang untuk dimasuki!”

“Memangnya ada apa di White Area?” tanya Alice begitu heran.

“Kabarnya, di White Area, hidup seorang penyihir jahat yang akan membunuh siapa saja orang yang berani masuk ke White Area.”

Alice hanya terdiam, dan tiba-tiba, dia tersentak, entah mengapa. “Chess, apa kau dengar itu? Ada seseorang bernyanyi!”

Chessure berdiam, mencoba mendengar apa yang Alice dengar. “Ah, ya memang ada suara orang bernyanyi.”

“Ayo kita terlusuri!” ajak Alice sekali lagi dengan penuh semangat. Tanpa basa-basi lagi, Aliice  langsung memasuki hutan tersebut.

“Nona Alice! Tunggu! Itu berbahaya!” teriak Chessure dari belakang Alice, namun Alice tidak mendengarnya. Mau tidak mau, Chessure harus mengikuti sang Nona pergi.

Setelah sekian lama mereka berjalan, tiba-tiba mereka melihat sebuah Istana yang memiliki taman yang penuh dihiasi oleh bunga mawar putih, semua terasa dingin, dibalut salju putih yang turun disitu. Entah mengapa ada salju tersebut, walau musim yang datang seharusnya masih gugur.

“Chess! Lihat! Salju!” seru Alice sambil menunjuk halaman Istana yang dipenuhi oleh putih dan dinginnya salju.

“Gawat . . .” gumam Chessure penuh kekhawatiran.

“Ada apa?” tanya Alice begitu heran dan sedikit ketakutan.

Chessure masih terdiam. “Aku, baru ingat. Aku pernah di bertahu oleh Alve, bahwa, kediaman si White Rose ada di White Area ini.”

“Apa! Jangan-jangan tempat ini adalah-“

Terlambat untuk menyadarii, itulah yang dirasakan Alice dan Chessure. Seketika itu juga, kelopak bunga-bunga mawar tadi itu rontok dan berterbangan kemana-mana. Entah, atas dasar apa, mereka menjadi pusing, dan pingsan di sana.

Alice masih sedikit tersadar, dan dia mencoba sedikit membuka matanya. Saat dia buka matanya, dia melihat sesosok perempuan berambut panjang. “Alve?” gumam Alice.

“Bukan.” jawab perempuan itu dengan halus. “Selamat datang di White Area, nona Alice.” kata perempuan itu sambil tersenyum.

Setelah Alice perhatikan denga lebih seksama, perempuan ini memiliki rambut yang berwarna putih, layaknya salju yang turun tadi. Memiliki warna mata purplish, tidak seperti Alve yang memiliki warna mata coklat muda. Namun, satu-satunya hal yang sama  dari perempuan ini adalah, wajahnya. Begitu sama.

“Selamat tidur, tuan putri . . .” White Rose mengatakan kata terakhir dan saat itu pula, Alice tenggelam dalam mimpinya.

 

Part 8: Scarlett November 21, 2010

Filed under: The story of a Princess and Her ??? — Clover @ 8:00 AM

“Al!” teriakku sambil berlari ke arahnya.

“Nona!? Kenapa anda disini!?” tanya AL sangat kaget. “Anda seharusnya kembali ke desa sekarang! Disini berbahaya!”

“Tidak, aku tidak akan kembali.” jawabku tenang.

“Nona!”

Aku mengarahkan telapak tanganku padanya. “Al, bukankah ini permintaanku yang ke dua? Inilah resiko yang perlu kutanggung jika aku meminta sebuah petualangan.” aku menatap ke arah Al dengan ramah dan sambil tersenyum kepadanya.

Al diam, dan menutup matanya. “Baiklah. Tapi ingat, saya juga telah berjanji untuk melindungi anda, bukan?”

“Benarkah? Kurasa aku tak ingat kau pernah mengatakan seperti itu?” tanyaku.Tiba-tiba, sebuah pisau kecil terbang diantara kami dan menancap di pohon tempat bersandar Al.

“Oh, jadi kau mendapatkan bantuan, ya? Dari seorang perempuan yang tidak berguna.” ejek Daniel ke arah aku dan Al. “Yah, kalau begitu, mari kita lanjutkan saja permainan kita, tuan ksatria!” dan Daniel lagi-lagi menghilang begitu saja.

“Kemana dia pergi?” tanyaku ke arah Al.

“Kemana saja, asalkan tidak ada air di sekitarnya.”

“Air?”

“Ya, air. Asalkan ada air di tanah ini, aku bisa mendengarkan suara hentakan kakinya.” jawab Al sambil menjelaskan.

“Air ya?” gumamku. “Baiklah!”

Aku menutup mataku, dan mencoba berkonsentrasi. Air di dalam tanah, keluarlah. Lalu aku mengangkat tanganku ke atas. Aku bisa, aku harus bisa. Aku langsung membuka mataku dan menurunkan kedua tanganku ke tanah. Saat itu juga, air didalam tanah keluar, layaknya genangan air setelah hujan.

“Aku berhasil!” teriak diriku kegirangan karena aku telah berhasil menggunakan ‘itu’.

“Bagus, dengan seperti ini, kita bisa mengetahui dimana Daniel berada!”

Dan, diantara genangan air itu, terdengar layaknya orang berjalan, tepat seperti Al katakan. “Al!”

“Aku tahu.” jawabnya tenang sambil menebaskan pedangnya ke arah genangan air itu. Disaat itu pula, sebuah percikan darah muncul dan berterbangan di udara.

“Cih! Sialan!” teriak Daniel, dan langsung menyerang Al dari arah depan. Dengan cepat, Al menangkis serangannya itu.

“Bukankah sudah kubilang, kau tak akan bisa mengalahkanku dari serangan depanmu seperti ini!” Al mendorong jauh Daniel, hingga punggung Daniel menghantam pohon besar. Daniel langsung melihat ke arahku, dan langsung menghilang.

“Nona! Cepat ke sini!” teriak Al ke arah, aku pun langsung berlari ke arahnya. Tiba-tiba, Daniel muncul di depanku sambil tersenyum.

“Terlambat!!” teriak dia kegirangan sambil mengayunkan pedangnya ke arahku. Aku tak mengerti apa yang harus kulakukan.

“Nona! Lari!!” teriak Al dengan sangat keras.

BRAAAK!!

Sebuah suara keras yang terjadi karena ayunan pedang Daniel mengenai sesuatu, bukan diriku, dan sesuatu itu adalah bongkahan es besar yang terbuat dari genangan air di tanah. Kami semua terdiam, tak ada yang berbicara lagi. Yang terdengar hanyalah suara bongkahan-bongkaha kecil dari es ini yang jatuh ke dalam genangan air sekitar kami.

“Kamu kira, aku benar-benar seorang perempuan yang lemah, ha?” tanyaku dengan nada kecil.

“Apa?”

Aku mundur satu langkah darinya, lalu mentapnya. “Aku tidak selemah seperti yang kau kira!” bentakku. Es yang menghalangi diriku dan Daniel langsung hancur. “Aku juga akan bertarung!” sambil berbicara, aku menunjuk ke arah Daniel. Semua bongkahan-bongkahan es yang tadi berjatuhan, tiba-tiba langsung berterbangan di udara.

“Apa!? Kenapa kau bisa melakukan ini? Jangan-jangan kamu penyihir!?” tanya Daniel karena sangat kaget.

“Bukan bodoh.” balas Al sambil berjalan ke arah kami. “Dia bisa mengendalikan air, bukan berarti dia adalah penyihir. Ada lagi orang yang dapat melakukan hal tersebut.”

“Siapa!?” bentak Daniel.

“Elementalist, para pengendali elemen. Mereka dapat mengendalikan air, api, tanah, angin, es, dan sebagainya. Kudengar mereka sudah tidak ada, karena kekuatan seperti mereka sangatlah langka.” lalu AL menghentikan jalannya. “Sekarang, kau tidak bisa apa-apa. Dua lawan satu. Kau terdesak.” gertak Al sambil menunjuk Daniel dengan pedangnya.

“Cih.” Daniel menghilang dan muncul kembali di salah satu batang pohon. “Kali ini kalian bebas, tapi, untuk selanjutnya, aku akan membunuh kalian!” Daniel menghilang, entah pergi kemana.

Aku dan Al tetap terdiam sambil melihat kepergian si Daniel. Bongkahan-bongkahan kecil es yang tadinya berterbangan di udara, satu persatu mencair dan jatuh ke tanah, layaknya sedang hujan. Aku menundukkan kepalaku. Aku hanya bisa terdiam.

“Ayo kita kembali, nona.” ajak Al sambil mengulurkan tangannya. Aku masih terdiam, tidak melakukan apapun. Kemudian, Al menarik kembali tangan dan mendekatiku. “Ada apa, nona? Apa ada yang salah?”

“Aku tidak bisa menolong Aldo dengan kekuatanku, padahal aku bisa melakukannya.”

Al mengelus-elus kepalaku. “Itu bukan kesalahan nona. Nona melakukannya karena itu sebuah rahasia, bukan?”.

“Iya, memang, tapi, tetap saja . . .”

“Tenanglah, nona, Aldo pasti baik-baik saja. Dia anak yang kuat kok!. Kalau tadi nona menggunakan kekuatan nona, justru itu akan semakin membahayakan keadaan nona, iya bukan?” tanya Al, sambil menepuk punggungku. Namun, aku masih terdiam, tak mau berkata. “Nah, sekarang, mari kita pulang!” ajak Al.

“Hem, baiklah . . .”. Dan, aku tak berkata apapun, atau lebih tepatnya, aku tak mau berkata apa-apa lagi. Aku terlalu lelah . . .

 

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 85 other followers