“Sebaiknya kau cepat jelaskan dengan maksudmu yang tadi!?” bentak Saynn, seorang cowok yang memiliki rambut pendek berwarna coklat tua dan bermata crimson dengan wajah yang sama dengan Nyssa itu.
“Sabar, Saynn! Jangan memaksanya begitu!” bujuk Bea, seorang cewek yang memiliki rambut panjang sepunggung berwarna hitam dengan model potongan shaggy yang bergelombang dan memiliki warna mata seperti bunga aster.
“Tenanglah, disini kita semua, termasuk aku dan Carissa, akan mendengarkan penjelasan dari Ryousen.” tanggap Fedro, lalu berbalik, dan menepuk bahu Ryousen. “Sebaiknya kamu harus menjelaskan kepada kita semua, tentang seseorang yang bernama Nyssa itu.” bisik Fedro sambil menatap Ryousen dengan lekat-lekat.
“Oh! Tunggu sebentar! Apakah Nyssa itu seseorang yang selalu muncul di mimpimu akhir-akhir ini?” tanya Carissa.
“Apa? Muncul? Memangnya apa yang terjadi?” tanggap Saynn terhadap pertanyaan dari Carissa.
“Akhir-akhir ini dia suka menggigau tentang seseorang yang bernama Nyssa, mungkinkah Nyssa itu yang kalian maksud?” tanggap Carissa.
“Memangnya Ryou pernah mengatakan Nyssa yang lain? Tidak kan?” tanya Fedro.
Ryousen, yang hanya bisa mendengar percakapan estafet mereka, tetap diam. Dia hanya menahan emosinya untuk beberapa lama. Kalau begini terus, kapan aku bisa menjelaskan semuanya!?. Tetapi, sepertinya Ryousen sudah tidak bisa lagi menaham emosinya. “DIAM!!” bentak Ryousen sambil menggebrak meja. Seketika itu juga, suasana menjadi hening. Setelah itu, Ryousen pun menghela nafas, “Bagaimana kalau kita adakan perkenalan dulu, baru kita bahas Nyssa?” usul Ryousen sambil mengelap wajahnya.
“Boleh, ide yang bagus.” tanggap Bea.
“Baiklah, mulai dari sini, aku adalah Ryousen Lumen, sementara ini adalah Carissa Mollis, dan Fedro Grandis. Di sini hanya aku yang mengenal Nyssa, karena aku adalah teman masa kecil Nyssa. Sekarang giliran kalian.”
“Biar aku yang bicara, aku takut jika Saynn yang berbicara, semua keadaan tenang ini bisa hancur seketika.” kata Bea dengan tegas sambil melihat ke arah Saynn, namun Saynn tidak berkata apa-apa dan hanya membuang muka. “Namaku Beatrix Mysticum dan dia adalah Saynn Morte, kakak dari Nyssa Morte. Kami ditugaskan ke kota kalian untuk mencari tahu akan tindakan yang dilakukan oleh guild Luxuriant Torquent.”
“Dan juga untuk mencari tahu akan keberadaan Nyssa?” tanya Ryousen mencoba menebak.
“Ya, itu juga salah satu tujuan kami datang ke sini.” jawab Bea.
“Sebentar”, lalu Ryousen menundukkan kepalanya sambil berpikir. “Aku masih belum mengerti, kenapa ada kakak adik yang berada di guild yang berbeda dan saling bermusuhan?”
“Itu semua kesalahan ayah kami. Dia yang memisahkan kami.” jawab Saynn.
“Atas dasar apa kalian bisa berpisah?” tanya Carissa dengan polosnya.
“Seingatku Nyssa pernah mengatakan sesuatu tentang sebuah kekuatan.” tanggap Ryousen.
Saynn, menyandarkan dirinya di tempat duduk. “Dan aku tidak diberi penjelasan apapun tentang kekuatan itu oleh ayah. Dia langsung membawa paksa Nyssa pergi saat dia mengetahui tentang sebuah kekuatan.” lalu dia duduk dengan tegap, dan menundukkan kepalanya. “Seingatku, saat itu dia mengatakan kekuatan untuk merubah dunia.”
Ryousen langsung memberikan ekspresi herannya. “Kekuatan untuk merubah dunia? Apa itu mungkin?”
Saynn kembali menyandarkan dirinya di tempat duduk, kemudian merenggangkan tangannya ke atas. “Entahlah, aku juga tak tahu. Sekarang giliranmu untuk bercerita.”
Ryousen, menundukkan kepalanya sejenak, lalu menyandarkan dirinya di tempat duduk. “Nyssa, aku pertama kali bertemu dengannya saat 5 tahun yang lalu di Viculum, desaku yang lama.”
“Viculum!?” tanya Bea dengan kaget. “Bukankah kota itu sudah tidak ada? Dan tak ada yang selamat dari bencana yang dialami oleh desa itu, kan?”
“Ya.” jawab Ryousen dengan tegas, lalu menghadap ke arah Bea. “Ada beberapa yang selamat, tapi mereka semua mengalami hilang ingatan, dan satu lagi, desa itu tidak mengalami bencana, tapi Nyssa yang membakar satu desa beserta isinya.”
“Nyssa!?” Saynn langsung duduk dengan tegap. “Bagaimana bisa dia membakar satu desa beserta isinya!? Bukankah dia masih kecil?”
“ Ya, tapi kenyataannya, desa itu hancur ditangannya, karena permintaan ayahnya, seingatku.”
“Lalu? Apa yang terjadi selanjutnya?” tanya Saynn penuh penasaran.
“Entahlah, sepertinya Nyssa melakukan sesuatu dengan ingatanku. Yang kuingat setelah itu, aku berada jauh dari Viculum, lalu aku diambil oleh seseorang, dan dibawa ke sini, Proturbo.”
“Jadi, hanya sampai situ saja? Baiklah, ayo kita pergi Bea.” ajak Saynn lalu dia berdiri dan pergi menuju pintu.
“Saynn!” teriak Bea.
“Apa? Kita sudah mendapatkan info kan? Jangan membuang waktu Bea, kita harus bergerak lebih cepat daripada Luxuriant Torquent.”
Ryousen tiba-tiba berdiri. “Kemana kau akan pergi?”
“Tentu saja kembali ke Sancta Defendit. Memang ada apa?”
Ryousen terdiam sejenak, berpikir. “Jika aku ikut kamu, bukan, jika aku bergabung ke Sancta Defendit, apa mungkin aku bisa bertemu dengan Nyssa lagi?”
“Ryou!!” teriak Carissa dan Fedro secara bersamaan dengan kagetnya.
“Apa mungkin bisa?” tanya Ryousen sekali ke Saynn dengan mata lurus menghadap Saynn.
Saynn masih diam sambil menatap Ryousen, kemudian dia menundukkan kepalanya beberapa lama dan mengangkatnya. “Tergantung dari quest yang kita dapat. Mungkin saja kita bisa bertemu dengan Nyssa saat kita menjalankan quest, tapi kemungkinan itu sangat kecil, apa kau bisa menerimanya?”
“Tapi kemungkinan untuk bertemu dengan Luxuriant Torquent cukup besar, kan?”
“Kurasa demikian.”
Ryousen berjalan perlahan mendekati Saynn, lalu berkata “Aku ikut.” dengan tegas.
“Tunggu dulu, Ryou! Apa kamu bermaksud untuk meninggalkan kota ini!?” bentak Fedro.
“Ya, walaupun kecil kemungkinan untuk bisa bertemu kembali dengan Nyssa, tapi aku akan cari terus informasi tentang dirinya.” jawab Ryousen.
“Ryou, apakah Nyssa, lebih penting daripada kami? Daripada kota ini? Daripada orang-orang yang mencintaimu di kota ini?” tanya Carissa, dengan penuh khawatir sehingga dia menggenggam kuat kedua tangannya.
Ryousen masih terdiam, dia menutup matanya sejenak, lalu membukanya kembali. “Ya, dia lebih penting dari apapun yang kumiliki sekarang, karena dia istimewa.”
“Baiklah, sudah kuputuskan! Jika Ryou pergi, maka aku pun juga pergi!” kata Fedro dengan penuh semangat.
“A, aku juga!” Carissa masih menggenggam tangannya.
“Terima kasih kalian berdua, tapi apa kalian yakin dengan keputusan ini? Apalagi kamu Carissa.”
Fedro mendekati Ryousen lalu dia menepuk bahunya. “Apa kau lupa, kita ini sahabat kan?” tanyanya dengan senyuman yang lebar. “Bagaimana denganmu, Carissa?”
Carissa perlahan mendekati Ryousen, “Aku ingin pergi kemana pun kau pergi. Aku ingin bersama kalian.”
“Baiklah kalian, kemasi barang-barang kalian sekarang, dan istirahatlah yang cukup. Besok pagi, kita akan berangkat ke Sancta Defendit!” ajak Bea dengan nada semangat, lalu dia berjalan ke arah Saynn, dan bersender kepadanya. “Kau tidak keberatan kan, jika kita membawa para calon anggota baru ini?”
“Ya, selama mereka benar-benar bisa membantu.”
“Ah, Saynn, Bea, kalian bisa bermalam di rumah kami kok.” tawar Ryousen.
“Terima kasih!” kemudian Bea membawa paksa Saynn masuk ke dalam.